http://www.ambonekspres.com/index.php?act=news&newsid=26732

      Jumat, 03 Jul 2009, | 29 



      Akhirnya Akui Iklan Satu Putaran Illegal
      JK "Serang" SBY Tiba-tiba 
     
     
      Jakarta,AE - Perdebatan alot antara Muhammad Jusuf Kalla dan Susilo 
Bambang Yudhoyono dalam debat pamungkas calon presiden yang digelar Komisi 
Pemilihan Umum, tadi malam, terjadi lagi. Sumbernya soal iklan satu putaran 
bagi kemenangan SBY-Beodiono. JK menilai iklan tersebut tidak mendidik, dan 
sangat tidak demokratis. Saling serang terjadi, di fase-fase awal debat 
tersebut.

      Saat Capres JK menjadi kontestan terakhir dalam presentasi visi-misi, tak 
tanggung-tanggung di awal penampilannya itu, JK langsung menyerang SBY. "Maaf 
kepada Bapak SBY, iklan satu putaran untuk menghemat itu sama halnya memandang 
demokrasi dipandang sama dengan uang," sindir JK kepada SBY dalam debat capres 
final di Balai Sarbini, seperti ditulis detik.com. 

      JK menceritakan, dari awal telah mengkritik anggaran pemilu yang dianggap 
terlalu mahal. "Anggaran Rp 48 triliun itu terlalu mahal," imbuhnya. JK kembali 
menyindir, jika iklan penghematan uang negara dengan pilpres cukup dengan satu 
putaran saja, mendingan tidak ada saja Pilpres 2014.

      "Maaf, saya khawatir, kalau hal (iklan) itu kita percayai, pada 2014 
lanjutkan terus tanpa pilpres demi menghemat Rp 25 triliun," kata JK disambut 
tawa dan tepuk tangan hadirin.
      Mendengar kritikan tersebut, SBY tampak tertawa. Tapi wajahnya tampak 
sedikit memerah. SBY terpancing menanggapi serangan JK mengenai iklan satu 
putaran. SBY menyebut bagaimanapun dia menghormati Jusuf Kalla. Namun SBY Tak 
mengerti maksud JK yang mengatakan satu sisi menjunjung demokrasi dan satu sisi 
menekankan efisiensi.

      "Saya menghormati iklan itu, saya menghormati Pak Jusuf Kalla," kata SBY 
dalam debat pilpres di Balai Sarbini, Jakarta, Kamis (2/1/2009). SBY mengaku 
tidak mengerti apa yang dimaksud JK dengan mengkritik anggaran pemilu yang 
dianggap terlalu mahal. Dan juga pernyataan JK yang menyindir mengenai iklan 
penghematan uang negara dengan pilpres cukup dengan satu putaran saja.

      "Satu sisi uang tidak jadi masalah, intinya demokrasi jangan terhalang 
apapun," jelasnya, dalam debat yang dimoderatori Prof Dr Pratikno, dekan 
Fisipol UGM.

      Klarifikasi atau tanggapan SBY, justeru mendapat serangan balik dari JK. 
JK menanyakan kepada SBY, bahwa iklan satu putaran itu bukan iklan resmi SBY. 
Iklan itu ilegal dan harus ditertibkan. "Iklan itu iklan ilegal, ya kan Pak," 
ujar JK yang di iyakan SBY.
      SBY hanya termangu sambil menatap JK. JK kepada hadirin lantas menginga
      tkan agar tidak mempercayai iklan satu putaran itu, karena menyesatkan 
dan illegal. Karena itu kata dia, "Soal pilpres satu putaran itu bisa saya bisa 
Bu Mega." 
      JK kemudian menegaskan bahwa bagaimanapun demokrasi itu tetap harus 
dijalankan."Jangan terhalang apapun," tutupnya.

      Usai saling serang, SBY tampak menghampiri JK. Keduanya bersalaman, dan 
tertawa. SBY pun sempat merangkul JK sebelum kembali ke tempat duduknya.
      Setelah itu SBY tampak berdiskusi dengan Choel Mallarangeng, sementara JK 
tampak menikmati secangkir kopi. Sedangkan Mega sejak awal jeda iklan, tampak 
berbicara dengan Sekjen PDI Perjuangan, Pramono Anung.

      Demokrasi Masih Banyak Tantangan 
      SBY melihat masih banyak permasalahan terkait pelaksanaan demokrasi di 
Indonesia. Menurut SBY, masalah-masalah tersebut membutuhkan jawaban yang 
cespleng. "Yang jelas, demokrasi, HAM makin dapat tempat yg baik, makin maju. 
Bandingkan dengan waktu lalu," kata SBY.

      SBY menilai, pelaksanaan demokrasi di Indonesia sekarang ini masih 
menghadapi berbagai permasalahan. "Apakah sistem persidensiil masih bisa 
ditegakkan. Ini memerlukan jawaban yang cespleng. Pemilu atau pilkada apakah 
masih seperti ini. Atau perlu lebih hemat. Jumlah partai sekarang ini apakah 
lebih tepat," tanya SBY.

      SBY juga mempermasalahkan masalah otonomi daerah yang selama ini malah 
dianggap tumpang tindih. "Jangan sampai kewenangan makin bertambah, malah 
menimbulkan korupsi dimana-mana," kata SBY. (dtc/YAN)  




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke