Kepada moderator, dan teman-teman anggota milis yang lain.
Terlepas dari isinya yang hanya memforward sebuah email, perlu diketahui
bahwa saya tidak pernah memforward email ini. Nampaknya ada orang lain yang
membajak alamat saya. Harap diketahui, sudah lama saya tida menggunakan
black berry saya. Posting ini menunjukkan bahwa alamat BB bisa dibajak.
Mudah-mudahan tidak digunakan untuk tujuan jelek. Yang menjadi pertanyaan,
siapa yang membajak alamat saya itu? Apakah orang dalam Indosat ataukah
orang lain? Bagaimana alamat email dapat dibajak? Mohon pencerahan dari
pakar-pakar IT.
Salam
KM
 
 
-------Original Message-------
 
From: Kartono Mohamad
Date: 7/4/2009 9:58:43 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [mediacare] Lagu Indonesia Raya Versi Baru
 



Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT


From: "sunny" 
Date: Mon, 29 Jun 2009 05:52:00 +0200
To: <Undisclosed-Recipient:;><Invalid address>
Subject: [mediacare] Lagu Indonesia Raya Versi Baru

Suara Merdeka
 
 
Lagu Indonesia Raya Versi Baru    
Ditulis Oleh Muhajir Arrosyid    
 
27-06-2009, 
Indonesia tanah airku, Tanah tumpah darahku.
Di sanalah aku berdiri, Jadi pandu ibuku.
Indonesia kebangsaanku, Bangsa dan Tanah Airku.
Marilah kita berseru "Indonesia bersatu!"


Kalimat-kalimat di atas adalah bait pertama lagu Indonesia Raya, lagu
kebanggan bangsa Indonesia. Saya tidak hendak melanjutkan perdebatan tentang
lagu Indonesia Raya. Saya hanya hendak berpendapat sebagai seoarang awam.
Saya mendengar dan menghafal lagu ini sejak masuk Taman Kanak-kanak. Setiap
hari Senin pagi sebelum pelajaran dimulai diselenggarakan upacara bendera.
Lagu Indonesia Raya dilantunkan bersama-sama oleh seluruh peserta upacara.
Semua tangan kanan berada di depan kening memberi hormat kepada sang saka
merah putih yang dikibarkan oleh tiga pengebar bendera.

Dari TK sampai SMA rutinitas Senin ini masih berlangsung. Setiap Senin, saya
mendengarkan lagu ini. Sejak kecil melalui lagu Indonesia Raya, saya
mengenal Indonesia. Di SD kelas lima saat upacara bendera dan mendengar lagu
Indonesia Raya timbul pertanyaan dalam diri saya. Rasanya ada sesuatu yang
mengganjal saat mendengar baris ke dua. ‘Di sanalah aku berdiri’. Kenapa ‘di
sana’, tidak ‘di sini’?`

Di SD oleh guru Bahasa Indonesia saya diajarkan membedakan arti kata ‘di
sana’dan ‘di sini’. ‘Di sana’ dan ‘di sini’ adalah kata yang sama-sama
menunjukan arah. ‘Di sini’ di gunakan jika kita bicara di suatu tempat akan
menunjukan arah, arah yang akan kita tunjuk adalah tempat yang sekarang
ditempati. Tidak terdapat jarak antara tempat berbicara dengan tempat yang
dibicarakan. Contoh dalam kalimatnya kira-kira demikian; “Di mana kamu
belajar mengaji?” tanya seorang pada temannya, dan temannya menjawab; “Di
sini”. Jawaban ‘di sini’ menunjukan di tempat tersebut orang yang di tanya
belajar mengaji.

‘Di sana’ digunakan jika kita bicara di suatu tempat akan menunjukan arah,
arah yang akan kita tunjuk adalah tempat yang sekarang tidak kita tempati.
Terdapat jarak antara tempat berbicara dengan tempat yang dibicarakan.
Misalnya kita sekarang sedang berada di lapangan, dan membicarakan sawah,
maka kita menunjuk arah sawah dengan kata ‘di sana’.

Kembali ke lagu Indonesia Raya. Saya merasa ada kejanggalan di baris ke dua.
‘Di sana lah aku berdiri, Jadi pandu ibuku’. Kita sekarang sedang berada di
Indonesia, membicarakan tentang Indonesia, kenapa mengunakan kata ‘di sana’?
Pertanyaan ini pernah saya ajukan kepada guru bahasa Indonesia waktu SD dulu
dan beliau tidak menjawab. Di SMP pertanyaan serupa saya tanyakan kepada
guru Pendidikan Moral Pancarila, saya tidak mendapatkan jawaban yang
memuaskan. Guru saya menjawab “Ya memang yang buat lagu begitu.”

Setiap mendengar lagu Indonesia Raya ini selalu timbul pertanyaan dalam diri
saya. Sampai ketika masuk SMA saya mereka-reka jawaban atas pertanyaan saya.
Apakah lagu tersebut diciptakan di luar negeri sehingga menunjuk Indonesia
dengan kata tunjuk ‘di sana’?

Menurut saya pengunakan kata ‘di sana’ karena lagu ini diciptakan jauh
sebelum Indonesia menjadi Indonesia. Indonesia masih menjadi mimpi. Lagu Ini
di dinyanyian pertama kali pada 28 Oktober 1928, maka logis jika mengunakan
kata tunjuk ‘di sana’.

‘Di sana’ nanti jika Indonesia sudah merdeka, saya akan menjadi pandu ibuku.
Karena sekarang angan-angan pada 28 Oktober 1928 itu sudah menjadi kenyataan
 bukan lagi sekedar angan-angan, maka menurut saya sudah saatnya kata ‘di
sana’ dalam lagu Indonesia Raya diganti dengan kata ‘di sini’.

Dengan diubahnya kata ‘di sana’ lagu ini akan lebih terasa gregetnya. Kita
bernyanyi tidak sekedar bermimpi, berangan-angan tetapi juga merasakan dan
menjiwainya dan melakukannya.

Mari kita nyanyikan lagu Indonesia Raya versi yang saya usulkan;

Indonesia tanah airku, Tanah tumpah darahku.
Disinilah aku berdiri, Jadi pandu ibuku.
Indonesia kebangsaanku, Bangsa dan Tanah Airku.
Marilah kita berseru "Indonesia bersatu!"
 
Muhajir Arrosyid, penulis buku Kumpulan Cerita Pendek Di Atas Tumpukan
Jerami.



 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke