http://www.antaranews.com/view/?i=1246736956&c=ART&s=PUM

Nasib Mahasiswa Indonesia dan Dugaan Teroris
Minggu, 5 Juli 2009 02:49 WIB | 
Fb Anggoro
Pekanbaru (ANTARA News) - Sebuah pesan singkat masuk ke telepon selular yang 
suaranya memecah keheningan dan mengagetkan Roudhatul Firdaus sekitar pukul 
00.00 WIB pada Sabtu tengah malam (4/7).

Pesan itu tertanda dari Fathurrahman, sang adik yang sedang berjarak ratusan 
kilometer dari kediaman Roudhatul di Jln. Gunung Kelud Pekanbaru, Riau. 

Isi pesan itu terus menggelayut di benar Roudhatul, menyisakan beragam 
pertanyaan. Intinya adalah meminta agar dirinya tidak mempublikasikan berita 
penganiayaan yang dilakukan polisi Mesir terhadap Fathurrahman dan tiga 
mahasiswa asal Riau yang kini terdaftar di Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir.

"Usul ana (saya) tidak usah lagi dipublikasikan. KBRI tadi juga bilang begitu. 
Kita takut efek baliknya bisa memukul kita lagi. Apalagi di Mesir tidak jelas 
UUD-nya. Cancel saja semuanya," demikian isi pesan singkat yang ditunjukan 
Roudhatul kepada ANTARA ketika menemuinya pada Sabtu siang.

Pria berkulit sawo matang itu terus penasaran mencerna isi pesan tersebut. 
Hingga ia akhirnya mencoba menghubungi telepon genggam adiknya, namun nihil 
karena panggilannya ditolak Fatturahman.

"Dia menutup telepon dari saya, tidak seperti biasanya. Padahal, saya tahu dia 
tidak sedang di dalam kelas karena sekarang kuliah sedang liburan musim panas. 
Sepertinya dia masih trauma," katanya.

Ia mengatakan beberapa hari terakhir merasa gusar setelah peristiwa 
penganiayaan menimpa adik kandungnya itu. Fathurrahman, 23 tahun, adalah salah 
satu korban dari empat mahasiswa Indonesia yang berasal dari Kabupaten Rokan 
Hulu, Riau, yang sempat ditahan selama tiga hari oleh kepolisian Mesir tanpa 
alasan yang jelas. 

Mereka antara lain Fathurrahman mahasiswa tingkat IV asal Desa Pematang 
Berangan, Kecamatan Rambah. Tiga korban lainnya adalah Ahmad Yunus yang juga 
mahasiswa tingkat IV asal Kecamatan Bangun Purba, Azril mahasiswa tingkat I 
asal Rokan IV Koto dan Tasrih Sugandi mahasiswa tingkat I asal daerah 
transmigrasi SP4.

Penahanan empat mahasiswa tersebut dilakukan "Amni Daulah" (polisi Mesir) pada 
28 Juni 2009 hingga dibebaskan 1 Juli 2009. Mereka dijemput paksa dari sebuah 
rumah kost di Kairo. Dalam proses introgasi para mahasiswa mengaku sempat 
dianiaya seperti ditelanjangi, dipukuli dan disetrum. Bahkan, Fatturahman 
mengaku sempat disetrum di kemaluannya dan meninggalkan bekas luka-luka.

Kabar penahanan didapatkan Roudhatul dari salah satu kawan di Pekanbaru, yang 
berhubungan dengan rekan Fathurrahman di Mesir, pada 30 Juni lalu. 

Namun, saat itu Roudhatul tidak bisa bisa menghubungi adiknya karena masih di 
tahanan. Roudhatul baru bisa menghubungi Fatturahman lewat layanan obrolan via 
internet dan telepon pada Kamis (2/7), setelah mahasiswa itu dibebaskan.

"Saya kira penangkapan itu biasa saja, tapi saya terkejut karena ternyata 
mereka juga disiksa di tahanan," ujarnya.

Diduga Teroris

Menurut Roudhatul Firdaus, Fathurrahman sempat menceritakan kronologis 
peristiwa penganiayaan empat mahasiswa tersebut. Awalnya, kepolisian Mesir 
menyantroni rumah yang disewa para mahasiswa itu pada 28 Juni sekitar pukul 
02.30 waktu setempat. 

Saat itu polisi yang datang berjumlah 12 orang, lima diantaranya lengkap dengan 
sejata di tangan. Sedangkan lima orang polisi lainnya hanya mengenakan pakaian 
seperti warga sipil, seorang polisi lainnya terlihat membawa linggis, dan satu 
orang lagi membawa penggunting kawat.

Malam itu keempat mahasiswa sedang berada di rumah sewaan bersama seorang tamu 
yang bernama Jakfar. Fathurrahman menyewa tempat kos tersebut bersama empat 
mahasiswa Indonesia lainnya. Namun saat kejadian temannya yang bernama Ismail 
Nasution asal Tapanuli Selatan (Sumatera Utara) tidak ada ditempat itu.

Para mahasiswa itu mempersilakan polisi tersebut untuk masuk dan mereka 
menanyakan visa, sementara beberapa polisi lainnya langsung menggeledah rumah 
tanpa memberitahu maksud dan tujuan ataupun menunjukan surat penggeledahan. 
Kira-kira setelah 15 menit menggeledah rumah, ujar Roudhatul, polisi tampaknya 
tidak menemukan apa yang mereka cari.

"Adik saya (Fathurrahman) sempat menangkap pembicaraan telepon seorang polisi 
kalau yang dicari-cari tidak ditemukan," kata Roudhatul.

Berdasarkan informasi, lanjutnya, polisi Mesir sebenarnya mengincar Ismail 
tanpa diketahui alasannya. Roudhatul mengatakan, polisi saat itu akhirnya 
menyuruh para mahasiswa untuk menyalakan semua komputer milik mereka, terdapat 
tiga komputer di rumah tersebut, tapi tetap tidak menemukan apa yang mereka 
cari. 

Namun, tiba-tiba para polisi naik pitam karena melihat poster Syeikh Ahman 
Yasin, salah satu pemimpin Hamas Palestina, milik Ismail Nasution di salah satu 
dinding kamar dan memerintahkan agar benda itu segera ditanggalkan. 

Seorang mahasiswa yang mencoba menanggalkan poster itu mendapat tiga kali 
pukulan di punggung karena polisi menilai ia terlalu lamban mencopot benda 
tersebut. Polisi akhirnya kembali menggeledah rumah dan mengambil beberapa buku 
karangan DR. Yusuf Al Qardhawi, cendikiawan Mesir yang sempat dipenjara 
pemerintah setempat karena keterlibatannya di gerakan Islam garis keras 
Ikhawanul Muslimin.

Para polisi kemudian menggiring mahasiswa malang tersebut ke mobil tahanan yang 
diparkir sekitar 30 meter dari rumah kost. Namun, hanya empat orang mahasiswa 
yang dibawa pergi karena seorang tamu yang bernama Jakfar dibebaskan dengan 
alasan belum cukup umur.

Ia mengatakan, Fathurrahman mengaku salah seorang polisi sempat melayangkan 
pukulan ke bagian belakang kepala para mahasiswa. 

Para mahasiswa itu akhirnya sampai di kantor polisi tak lama setelah adzan 
Subuh berkumandang.

Polisi berpakaian preman menutup mata mereka dengan kain, dan membawa mereka ke 
sebuah kamar yang kotor dan pengap berukuran sekitar 4x4 meter. Seluruh 
barang-barang mereka seperti telepon genggam juga disita oleh polisi, dan 
mereka tidak diberi kesempatan untuk menelepon pihak keluarga.

"Di kamar itu para mahasiswa disuruh duduk tanpa boleh melonjorkan kaki sampai 
kira-kira jam 8.00 pagi waktu setempat," ujar Roudhatul mengutip perkataan 
adiknya.

Mereka akhirnya menjalani proses interogasi setelah mendapat sarapan berupa 
manisan. Ia mengatakan, Fathurrahman sempat terkejut karena di ruangan itu juga 
banyak tahanan seperti mereka dari berbagai kewarganegaraan. Ia mengatakan 
Fathurrahman masih bisa mengingat bahwa saat itu terdapat 19 orang tahanan 
termasuk empat mahasiswa, yakni dua orang warga Prancis, seorang Kanada, lima 
warga Aljazair, dan sisanya dari Rusia.

Disetrum di Kemaluan

Roudhatul mengatakan, penderitaan mahasiswa Indonesia tersebut terus berlanjut 
dan semakin parah saat proses interogasi. Ia mengatakan adiknya mendapat 
giliran interogasi setelah adzan Dzuhur berkumandang. 

Namun, baru saja Fathurrahman memasuki ruangan interogasi dengan mata ditutup 
kain, kemaluan adiknya langsung disetrum.

Mahasiswa jurusan Syariah di Universitas Al Azhar itu dihadapkan ke meja dan 
seorang polisi menanyakan siapa pemilik poster Syeikh Ahmad Yasin yang disita 
dari rumah mereka. Dan setelah menjawab pertanyaan itu, pantat 
Fathurrahmankembali disetrum beberapa kali.

Setelah itu, seorang polisi membuka paksa pakaian Fathurrahman dan menyuruhnya 
duduk di lantai dalam kondisi telanjang. Kaki mahasiswa berambut ikal itu 
diselonjorkan dan diikat, serta kedua tangan juga diikat ke belakang. 

"Awalnya polisi menanyakan pertanyaan yang sederhana seperti dimana adik saya 
sholat, dan apakah dia selalu hadir setiap kuliah. Tapi setiap habis menjawab 
pertanyaan, polisi kembali menyetrumnya di bagian tangan hingga ke buah 
pelirnya," ujar Roudhatul.

Berdasarkan pengakuan Fathurrahman, lanjutnya, pertanyaan dari polisi akhirnya 
mulai menjurus pada dugaan keterlibatan mereka dengan jaringan teroris dan 
pergerakan Islam garis keras. 

Polisi menanyakan Fathurrahman apakah mengenal orang Mesir dan bermain bola 
dengan mereka, apakah dia kenal dengan Osama Bin Laden, mengenai pergerakan 
jihad, dan apakah dia anggota dari Ikhawanul Muslimin. Proses interogasi itu 
berlangsung sekitar 20 menit dan setiap menjawab pertanyaan ia diberi setruman 
di sekujur tubuh, seperti di paha, perut, puting susu. 

"Sampai sekarang bekas setruman itu masih membekas di tubuh adik saya," ujarnya.

Penderitaan para mahasiswa tersebut terus berlanjut setelah proses interogasi 
dan mereka dipindahkan ke tahanan "Hay Sittah" (distrik enam). Di tempat itu 
mereka dijebloskan ke sebuah tahanan yang berukuran sekira 3,5x4 meter yang 
diisi 19 orang. Ruangan tersebut hanya dilengkapi sebuah WC bersama, lampu 
penerang yang redup, sebuah lubang udara, dan tanpa jendela sehingga 
penghuninya tak bisa membedakan malam dan siang. 

"Selama di dalam tahanan ini mereka tidak disediakan makanan dan air, sehingga 
mereka terpaksa minum air di kamar mandi. Di sana para mahasiswa juga terpaksa 
harus beli makanan sendiri melalui polisi di tahanan, dan dua hari itu hanya 
makan dua mangkok kosari (buah pakis)," ujar Roudhatul.

Empat mahasiswa malang ini ditahan di tempat itu selama dua hari hingga 
dibebaskan tanggal 1 Juli 2009. Tepat pada Rabu dini hari (1/2) sekitar pukul 
02.00 waktu setempat, mereka dibebaskan dengan beberapa pesan dari polisi 
yakni, mereka dilarang berkumpul bersama Ikhwanul Muslimin, mereka cukup 
belajar saja di Mesir, dan polisi akan memulangkan mereka ke Indonesia apabila 
mereka ditangkap lagi.

Bukan Teroris

Roudhatul meyakini bahwa empat mahasiswa tersebut, termasuk adiknya, adalah 
korban salah tangkap dari pihak kepolisian Mesir. Ia menyayangkan bahwa hingga 
kini belum ada pernyataan permohonan maaf dari polisi setempat terkait 
peristiwa penahanan dan penganiayaan tersebut.

Padahal, ia mengatakan insiden itu telah meninggalkan trauma mendalam selain 
luka fisik akibat penganiayaan. Ia juga mengaku bisa merasakan trauma mendalam 
dari adiknya lewat pesan singkat terakhir dari Fathurrahman yang diterimanya.

Namun, apa yang paling disayangkannya adalah pihak KBRI di Kairo yang terkesan 
lamban menangani kasus penganiayaan terhadap warga negaranya sendiri. Bahkan, 
KBRI juga dinilai kurang tanggap dalam mengumpulkan bukti-bukti tindak 
penganiayaan seperti visum terhadap korban dari rumah sakit. 

"Sampai sekarang adik (Fatturahman) saya juga belum divisum karena takut di 
rumah sakit akan kembali berurusan dengan intelejen Mesir. Seharusnya, KBRI 
memfasilitsi visum terhadap korban karena akan berguna untuk membuktikan telah 
terjadi penganiayaan," ujarnya.

Ia berharap pihak KBRI memberikan perlindungan dan pendampingan untuk 
mengurangi trauma dari para korban. Sebabnya, ia khawatir kejadian tersebut 
akan berdampak pada keberlanjutan studi mereka di Kairo. 

"Adik saya hingga kini takut mengangkat telepon dan berniat pindah rumah. 
Sedangkan dua mahasiswa tingkat pertama saking takutnya berencana pulang ke 
Indonesia," katanya.

Roudhatul juga sangat yakin bahwa adiknya tidak terlibat jaringan pergerakan 
radikal ataupun masuk ke jaringan teroris seperti Al Qaeda. Ia menjelaskan, 
Fathurrahman adalah mahasiswa dengan beasiswa penuh dari Universitas Al Azhar 
dan hanya mengikuti organisasi pelajar dari Riau dan perkumpulan orang Sumatera 
selama di Mesir.

"Apa yang dilakukan polisi Mesir tidak mencerminkan azas praduga tak bersalah. 
Deplu harus mendesak pemerintah Mesir untuk menyampaikan permohonan maaf atas 
peristiwa penganiayaan ini," ujarnya.

Ia mengatakan, Fathurrahman mengenyam pendidikan di sekolah agama milik 
keluarganya yang ada di Kota Pekanbaru dan Kabupaten Rokan Hulu. Fathurrahman 
menyelesaikan pendidikan dasar di MI Al Fattah di Pekanbaru, dan menamatkan 
pendidikan setingkat SMP dan SMA di Pondok Pesantren Khalid Bin Walid yang juga 
didirikan ayahnya di Rokan Hulu. Ia melanjutkan studinya ke Universitas Al 
Azhar pada tahun 2003, setelah sebelumnya sempat menganggur satu tahun.

"Adik saya bukan teroris, dan apakah seseorang bisa dicurigai sebagai teroris 
hanya karena buku yang dibacanya," tegas Roudhatul.

Kabar penangkapan Fathurrahman juga mengejutkan orang yang mengenal dekat 
dengan lelaki itu. Tengku Sulaiman (49), pendamping Fathurrahman selama di MI 
Al Fattah juga mengaku menyesalkan insiden tersebut.

Pria beruban itu mengaku mengenal sosok Fathurrahman cilik dengan baik karena 
telah merawat dia selama anak itu tujuh tahun bersekolah di Pekanbaru sedangkan 
orangtuanya berada di Rokan Hulu. Menurut dia, Fathurrahman dikenal sebagai 
anak yang ramah, ramah, hobi bermain bola, dan gemar mengaji.

"Saya sering melihat dia membaca Al Quran sendirian di mesjid. Saya juga tak 
habis pikir kenapa polisi mencurigai dia," katanya. (*)

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke