http://www.harianterbit.com/artikel/rubrik/artikel.php?aid=71167


Tantangan pembangunan masa depan
      Tanggal :  06 Jul 2009 
      Sumber :  Harian Terbit 


Oleh Prof Dr Haryono Suyono


DUA hari lagi pemilihan Presiden dan Wakil Presiden tahap pertama akan 
dilaksanakan di seluruh Indonesia. Apakah akan menjadi pemilihan satu putaran 
atau dua putaran tergantung pada keputusan yang diambil oleh penduduk Indonesia 
yang selama beberapa hari terakhir ini disuguhi pameran "impian" atau 
"cita-cita" yang dikemas indah dalam bentuk visi, misi atau rencana program dan 
kegiatan pembangunan yang umumnya ditawarkan sebagai program pro rakyat. 
Pengertian pro rakyat bisa dientepretasi berbeda-beda. Ada yang dengan lantang 
penuh percaya diri berusaha menawarkan pendidikan, kesehatan, dan pemenuhan 
kebutuhan pokok lainnya secara "gratis". Artinya, kalau rakyat tidak mampu, 
segalanya akan dicukupi atau dibayar oleh pemerintah, apakah dari pendapatan 
pajak, penghasilan BUMN, atau dari pinjaman luar negeri yang harus dibayar oleh 
anak cucu bangsa ini.

Nyaris tidak ada satupun dari calon Presiden atau calon Wakil Presiden yang 
melihatnya dari sudut keluarga atau manusia Indonesia melalui proses 
pemberdayaan dengan ajakan kerja keras. Umumnya para calon melihat dari 
penyediaan sekolah, fasilitas kesehatan dan modal kerja diiringi perbaikan 
infrastruktur serta penyediaan dana yang disalurkan melalui bank dengan sistem 
pasar terbuka. Padahal di bagian "sana" ada faktor manusia, penduduk atau 
keluarga Indonesia, yang nilai Index Pembangunan Manusianya (IPM), atau Human 
Development Index (HDI)-nya rendah sehingga hampir tidak mampu menjangkau 
fasilitas yang disediakan tersebut.

Pada umumya indikator keberhasilan berbagai upaya itu diukur dengan milliar 
atau trilliun rupiah yang disediakan, tidak pada jumlah atau berapa banyak 
keluarga tidak mampu bisa menjangkau, atau meningkat kemampuannya mengakses 
sekolah atau fasilitas pelatihan keterampilan sehingga makin cerdas dan mampu 
mengambil prakarsa. Atau mampu mengakses fasilitas kesehatan agar bertambah 
sehat dan usianya panjang, atau makin banyak penduduk mampu mengakses modal 
agar sanggup menjadi pemilik usaha yang terhormat dan usahanya memberi nilai 
tambah tinggi yang mampu mengangkat derajat dan martabatnya sebagai manusia 
terhormat, dan tidak lagi membutuhkan uluran tangan dari siapapun juga, mampu 
berpikir, bertindak dan berbelanja secara mandiri karena tidak harus mengikuti 
standard yang ditetapkan seperti beras murah, sekolah gratis atau kesehatan 
tidak bayar tetapi harus tunduk pada batasan standard pelayanan sederhana yang 
disediakan rumah sakit yang mempertontonkan ketidak- adilan pelayanan yang 
menyakitkan hati.

Tantangan pembangunan masa depan diharapkan menempatkan keluarga dan penduduk 
sebagai titik sentral pembangunan. Penempatan penduduk sebagai titik sentral 
pembangunan tidak boleh hanya menjadi monopoli pembangunan politik yang 
memberikan hak kepada setiap penduduk untuk mempunyai suara sama, tetapi 
menyebar pada seluruh proses pemberdayaan yang demokratis dan meletakkan 
pilihan pada setiap penduduk. Pendekatan ini memerlukan cara pandang penawaran 
pembangunan yang berbeda. Sekali lagi ukurannya, seperti dipesankan oleh MDGs, 
atau gerakan hak-hak manusia, atau gerakan demokratisasi, adalah manusia. 
Karena itu, kalau dalam gerakan demokratisasi ukurannya adalah pemilu yang 
terbuka, demokratis, dan jurdil, maka dalam pembangunan sosial ekonomi yang 
menempatkan penduduk sebagai titik sentral pembangunan, salah satu acuannya 
adalah pendekatan pemenuhan sasaran dan target-target MDGs. Atau peningkatan 
peran dan fungsi keluarga secara paripurna, merata dan berpihak pada keluarga 
kurang beruntung.

Apabila di masa lalu bangsa ini mampu menjadi contoh yang berhasil dalam 
penanganan masalah kependudukan melalui program KB, tidak mustahil kita akan 
mampu mendaratkan penanganan MDGs, yang disepakati oleh dua orang Presiden 
kita, pertama oleh Presiden Megawati di tahun 2000, kemudian oleh Presiden SBY 
di tahun 2005, dan oleh hampir 200 Kepala Negara dari seluruh dunia, melalui 
pemberdayaan keluarga pada tingkat pedesaan. Untuk itu kita perlu memperkuat 
komitmen dan dukungan operasional pada pemberdayaan keluarga melalui 
pengembangan kembali modal sosial berupa budaya hidup gotong royong, 
kebersamaan antara mereka yang sudah berhasil dan keluarga tertinggal, 
kepedulian antar sesama anak bangsa, dan keikhlasan yang di masa lalu menjadi 
ciri bangsa yang sangat beradab dan dinilai banyak kalangan sebagai bangsa yang 
berbudaya.

Untuk itulah kegiatan mahasiswa dan banyak pemerintah daerah yang telah 
membentuk dan mengembangkan Pos Pemberdayaan Keluarga atau Posdaya di pedesaan 
segera didukung pemerintah dengan mengembangkannya menjadi program link and 
match untuk perguruan tinggi, sekolah dan pusat-pusat pemberdayaan penduduk 
lainnya.

Pusat-pusat pelatihan dan pemberdayaan masyarakat diberikan anggaran yang 
memadai agar bisa dikembangkan menjadi pusat tumpuan pemberdayaan yang mampu 
mengangkat anak bangsa menuju ke posisi yang makin mandiri dan siap membangun 
keluarga dan seluruh anak bangsa ini secara gotong royong, tidak menggantungkan 
diri pada kekuatan birokrasi yang cenderung rumit dan tidak tuntas.

Pendekatan pembangunan ini, menurut para ahli, harus menempatkan birokrasi yang 
menurut anggapan banyak kalangan harus direformasi, menjadi kekuatan 
pendamping, kekuatan fasilitator yang bertindak sebagai guru yang bangga 
melihat murid atau siswanya maju melebihi dirinya. Birokrasi yang bangga 
melihat rakyatnya berubah menjadi pengusaha yang dengan kesadaran tinggi, 
karena mendapat pendampingan, dan fasilitasi yang positip, akan membayar pajak.

Proses pemberdayaan itu keberhasilannya diukur dari makin berkembangnya jumlah 
penduduk yang maju, terbebas dari kebodohan, terlepas dari lembah kemiskinan, 
dan kembali menjadi masyarakat gotong royong yang insannya sangat peduli 
terhadap sesama. 

Bukan pada berapa milyar atau trilliun rupiah yang dianggarkan. Setiap anggota 
keluarga bekerja keras membangun kemandirian dan kebanggaan sebagai warga 
terhormat yang hidup bahagia, sejahtera dan mandiri. Insya Allah. (Penulis 
adalah m antan Menko Kesra RI/haryono.com)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke