http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2009070500245216

      Minggu, 5 Juli 2009 
     
      BURAS 
     
     
     
DPT, Cermin Kemunduran Bangsa! 

       
      H. Bambang Eka Wijaya



      "KEMBALI bermasalahnya daftar pemilih tetap--DPT--pilpres, seperti tayang 
ulang kisruh DPT pemilu legislatif!" ujar Umar. "Pengalaman ketua RT 17 Sumur 
Batu, Telukbetung Utara, yang bersama warganya proaktif dalam perbaikan DPS 
dengan mendaftarkan 46 warga yang belum masuk DPS, yang diakomodasi DPT cuma 
16. Istri ketua RT jadi satu dari 30 warga yang tak masuk DPT!"

      "Dari laporan media, tayang ulang serupa terjadi setidaknya di 16 
provinsi! Hal itu menunjukkan, sebagian besar aparat publik negeri kita tak mau 
belajar dari kesalahan, hingga kesalahan sama berulang!" sambut Amir. "Dilihat 
dari pemilu-pemilu sebelumnya, terutama 1999 dan 2004 yang sama-sama di era 
reformasi, kesalahan serupa tak terjadi! Tapi kini, setelah kesalahan di pemilu 
legislatif tak berhasil diperbaiki di pilpres, tecermin realitas bangsa kita 
mengalami kemunduran!"

      "Tapi, di mana letak pangkal kemunduran itu?" kejar Umar.

      "Kita urut saja pangkal tolak perjalanan DPS dari pemilu legislatif ke 
pilpres !" jawab Amir. "DPS diterima KPU pusat dari Departemen Dalam Negeri, 
dihimpun dari Dinas Kependudukan kabupaten/kota se-Tanah Air! Oleh KPU Pusat, 
DPS dibagikan ke KPU daerah--artinya kembali ke daerah asal daftar tersebut! 
Menurut penelusuran Ari Darmastuti, dosen FISIP Unila, daftar penduduk itu 
bertahun-tahun tak di-up date instansi kependudukan kabupaten/kota! Ketika 
daftar basi itu dijadikan DPS, jelas kacau! Revisi DPS seperti itu ke DPT jadi 
tidak mudah!"

      "Ketika warga dan aparat desa melakukan revisi dengan nama warga yang 
belum masuk DPT, seperti warga Sumur Batu tadi, kan seharusnya bisa jadi 
kesempatan perbaikan daftar penduduk tersebut!" timpal Umar.

      "Kalaupun daftar tambahan warga yang berhak memilih itu diakomodasi, 
tetap saja daftar yang mati, pindah dan lahir tak ter-up date!" tegas Amir. 
"Daftar penduduk yang tidak di-up date secara on time setiap terjadi perubahan, 
dalam waktu tak terlalu lama saja susah dirunut untuk merevisi kejadian RT per 
RT se-kabupaten! Konon lagi data itu bertahun-tahun tak di-up date!"

      "Lalu apa yang dikerjakan para pegawai instansi itu selama 
bertahun-tahun?" entak Umar.

      "Jangan berpikir negatif, memvonis mereka bertahun-tahun cuma makan gaji 
buta!" sambut Amir. "Mungkin karena pekerjaan tersebut tak sempat ditangani, 
akibat para kepala daerah keranjingan mutasi, sehingga orang yang tidak paham 
administrasi kependudukan ditempatkan di instansi itu! Ketika baru mulai 
belajar, keburu dimutasi lagi! Pekerjaan pun terbengkalai!"

      "Berarti pangkal kemunduran itu terletak pada kepala daerah yang 
keranjingan mutasi!" tegas Umar. "Akibat pesatnya mutasi, kebanyakan aparat 
jadi the wrong man on the wrong placed! Daftar kependudukan produknya pun 
kacau!"
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke