Refleksi : Barangkali dipikirkan bahwa monyet yang berlarian dan bukan manusia, 
jadi tak apa-apa dan silahkan cukur dan bakar hutan. Pasti hari depan sejahtera 
nan gemilang menunggu genarsi mendatang.


http://www.riaupos.com/main/index.php?mib=berita.detail&id=17539

Rabu, 15 Juli 2009 , 07:49:00

Kebakaran Lahan dan Hutan di Pekanbaru Makin Mengkhawatirkan
Monyet-monyet pun Berlarian Hindari Api



 
KEBAKARAN HUTAN: Hutan di belakang Bandar Serai ikut terbakar, Selasa 
(14//7/2009).(zainuddin boy/riau pos)
PEKANBARU (RP) - Kebakaran lahan kosong dan hutan di Jalan Parit Indah, 
Kecamatan Bukitraya, tepatnya di sekitar belakang Bandar Serai bahwa ada 
kehidupan lain di hutan kota tersebut. Segerombolan monyet atau kera yang tak 
biasa terlihat, sejak beberapa hari terakhir keluar dari rerimbunan pohon untuk 
menghindari api.

''KOK bisa banyak monyet, ya? Itu yang terlintas di pikiran saya ketika melihat 
monyet-monyet itu berlarian keluar hutan. Biasanya tidak terlihat. Paling satu 
dua ekor saja yang berkeliaran sampai ke jalan. Tapi mereka tidak mengganggu 
warga. Ke mana mereka pergi?'' ujar Hanafi, salah seorang warga di Jalan Parit 
Indah yang rumahnya tidak jauh dari lokasi kebakaran hutan kota di belakang 
Bandar Serai, kemarin kepada Riau Pos.

Ia mengaku melihat gerombolan monyet itu pada Ahad (12/7) lalu. Tapi, sebelum 
terjadi kebakaran hebat itu, satu dua ekor monyet memang kerap dilihatnya 
bergelantungan di beberapa pohon besar di belakang rumahnya. Dia juga beberapa 
kali sempat mengusir monyet-monyet yang sudah mendekat ke rumahnya. 

Namun yang dia dan beberapa warga lainnya tak menyangka di dalam hutan dekat 
rumah mereka ada banyak monyet yang hidup. Itu mereka ketahui ketika kebaran 
hutan terjadi akhir-akhir ini.

Selain Hanafi, Rubiah, salah seorang pedagang jagung bakar yang lokasi 
berdagangnya berdekatan dengan Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Pekanbaru juga 
mengaku sempat melihat monyet-monyet berloncatan dan berada di tengah jalan. 

''Waktu kebakaran juga saya ada melihat monyet itu berada di tengah jalan. 
Kayaknya mencari tempat yang aman. Tapi setelah melihat banyak orang yang 
lewat, beberapa kawanan monyet itu kembali lagi ke hutan yang belum terbakar. 
Kasihan, rumah mereka (monyet, red) sudah habis dibakar,'' kata Rubiah kepada 
Riau Pos, Selasa (14/7) di tempat dia berjualan. 

Hingga kemarin, pantauan Riau Pos, api memang sudah tidak tampak lagi membakar 
lahan dan hutan di dekat Bandar Serai. Tapi, asap tebal masih keluar dari dalam 
tanah gambut itu. Tidak hanya itu, dinding Rudenim yang awalnya berwarna kuning 
telur, kini sudah hitam akibat jilatan api beberapa hari yang lalu. 

Puluhan personel Dinas Pemadam Kebakaran Pekanbaru dan beberapa belasan unit 
mobil pemadam kebakaran juga terlihat tetap siaga di lokasi. Air terus saja 
disemprotkan ke atas tanah yang hitam itu untuk menghindari kembali munculnya 
api. 

Per hari di satu titik lokasi bisa menghabiskan paling tidak 40.000 liter air. 
Dengan kondisi kemarau yang menyebabkan air juga kering, serta tidak adanya 
sumber air terdekat lokasi menjadi salah satu kendala mengapa api yang saat ini 
ada di bawah tanah tidak bisa dipadamkan dan asap terus keluar. 

''Kami kesulitan memadamkan api itu. Pasalnya, gambut sifatnya menyimpan api. 
Jika diatas sudah padam, yang dibawah belum tentu padam. Makanya kami terus 
menyemprotkan air mengarah ke tanah,'' jelas Hambali salah seorang petugas 
pemdam kebakaran yang saat ditemui mengenakan seragam berwarna biru. 

Selain itu, petugas juga tidak bisa masuk ke tengah hutan akibat kondisi asap 
di dalam sangat tebal. Petugas juga terlihat tidak mamakai masker standar saat 
melaksanakan tugas. Makanya, PDK hanya melakukan pemadaman di pinggir dan 
daerah yang terjagkau.

''Tidak bisa ke tengah hutan, asapnya tebal. Masker kami juga belum standar. 
Jika kami pakasakan takutnya nanti akan memakan korban. Tidak hanya monyet,'' 
tambah Hambali.(cr2)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke