Akhlak Kita di Jalan Raya
Oleh: UAA


Walau sudah empat tahun tinggal di Boston, saya masih terus mengagumi
beberapa aspek kecil dalam kehidupan sehari-hari di sana. Setiap saya
berjalan kaki dan hendak menyeberang jalan, pengendara mobil pasti akan
berhenti beberapa meter untuk memberi jalan kepada saya -- tak peduli saya
menyeberang melalui jalur zebra atau bukan.


Saat saya mengendarai mobil dan hendak belok, biasanya mobil dari arah yang
lain akan dengan senang hati memberi jalan kepada saya. Jika kebetulan saya
mengendarai mobil di jalan yang hanya terdiri dari dua jalur, jarang sekali
saya melihat pengendara lain menyalip saya hanya karena saya berjalan
lambat. Pengendara lain yang ada di belakang saya akan dengan sabar
mengikuti mobil saya dari belakang.


Yang menarik perhatian saya adalah perangai para pengendara sepeda motor.
Tidak seperti di Jakarta, di mana para pemotor dengan seenaknya lari
kencang, zig-zag di antara mobil yang amat berbahaya, para pemotor di Boston
jarang yang dengan seenaknya menyalip mobil di depannya, apalagi berjalan di
sela-sela antara dua kendaraan. Jika lampu merah menyala, para pemotor akan
berhenti, dan tidak akan berusaha untuk menyelinap di antara mobil untuk
berada di barisan terdepan.


Menyetir mobil atau mengendarai motor, bahkan mengayuh sepeda *onthel*, di
kota seperti Boston adalah pengalaman yang menyenangkan sekali. Tak ada
perasaan terancam. Semuanya serba teratur, dan semua orang berharap orang
lain mengikuti sebuah aturan yang jelas. Di jalan, kita menemui "*sense of
order*", rasa keteraturan.


Keteraturan ini muncul bukan semata-mata karena ada hukum atau aturan yang
bersifat formal, tetapi juga karena ada "etika publik" yang membuat
seseorang menghormati orang lain. Salah satu konvensi sosial yang sudah
diketahui oleh para pengendara di sana adalah saat seseorang mengendarai
mobil dan sampai di sebuah perempatan yang kebetulan tak dilengkapi dengan
lampu lalu-lintas (karena di kawasan hunian yang tak terlalu ramai,
misalnya).


Dalam keadaan seperti itu, seorang pengendara yang sampai terlebih dahulu di
perempatan itu, akan dengan sendirinya memiliki hak untuk melintas terlebih
dahulu. Pengendara lain yang datang belakangan harus memberi jalan kepada
pengendara itu. Dia bisa saja memaksa untuk menyerobot terlebih dahulu,
tetapi jarang saya melihat pengendara yang "tak sopan" semacam itu.


Pejalan kaki adalah "raja" di kota seperti Boston. Jika seorang pejalan kaki
menyeberang, sudah pasti pengendara mobil akan memberikan jalan kepadanya.
Apalagi jika yang melintas adalah anak-anak, orang tua, atau penyandang
cacat tubuh.


Kota Boston jelas tidak diatur menurut syariat agama tertentu, tetapi akhlak
pengendara kendaraan di jalan umum sunguh membuat saya terheran-heran, bukan
karena kebrengsekannya tetapi karena kesopanan yang mereka peragakan dengan
amat mengesankan. Dengan mengatakan ini, bukan berarti di kota itu tak ada
pengendara mobil yang *brengsek*. Sudah tentu ada. Tetapi secara umum, saya
melihat perilaku berlalu-lintas yang sangat sopan, sesuai dengan "*al-akhlaq
al-karimah*" -- perilaku yang bisa anda sebut sangat "Islami", meskipun
Islam bukanlah agama mayoritas di sana.


Sudah sebulan ini saya berada di Jakarta, dan melihat perangai
berlalu-lintas yang sungguh bukan main "unik"-nya. Sudah tentu, perangai di
jalan raya itu bukanlah sesuatu yang aneh buat saya, sebab selama
bertahun-tahun saya tinggal di kota itu. Tetapi, setelah empat tahun tinggal
di Boston dan balik lagi ke Jakarta, saya menemukan perbandingan lain yang
membuat pemandangan lalu-lintas di kota itu tampak begitu "mengerikan" di
mata saya.


Beberapa hari lalu, saya melihat pemandangan yang begitu "vulgar" di kawasan
Jatibening, daerah tempat saya tinggal sekarang. Seorang ibu setengah baya
yang berjalan dengan terpincang-pincang hendak menyeberang jalan yang memang
sangat padat lalu-lintasnya. Dia harus menunggu beberapa menit untuk
menyeberang, karena tak bisa berlari dengan cepat. Dia tampat ragu-ragu.
Saat dia sudah menyeberang "setengah jalan", tiba-tiba pengendara motor
lewat dengan kencang di depan ibu itu, tanpa memberinya kesempatan untuk
lewat. Mobil-mobilpun seperti tak rela memberikan kesempatan kepada ibu
tersebut untuk menyeberang, dan tampak hendak memaksa untuk jalan terus.


Pemandangan itu terus-menerus melekat dan mengganggu benak saya pada malam
hari: sudah begitu burukkah "akhlak publik" masyarakat kita di jalan raya?


Saya bertanya-tanya dalam hati: kenapa terjadi semacam "anarki sosial" di
jalan raya Jakarta semacam itu? Apakah agama yang sekarang begitu marak
sekali di masyarakat Jakarta tak mengubah sedikitpun watak mereka di jalan
raya? Kenapa "demam agama" di masyarakat kita tak membawa pengaruh kepada
prilaku sosial di jalan raya? Ataukah saya salah mempersoalkan peran agama
di sini, sebab akar masalahnya bukan di sana?


Saya mencoba menduga-duga, bahwa agama memang tak bisa dimintai
tanggung-jawab apapun dalam hal ini. Mungkin saya harus mencoba mencari
jawaban pada hal-hal lain. Baik. Salah satu faktor yang layak disebut adalah
soal penegakan hukum di jalan raya. Saya kira, memang soal penegakan hukum
berlalu-lintas ini adalah salah satu sebab utama kesemrawutan itu.
Pengendara mobil dan motor bisa dengan seenaknya menggenjot gas
sedalam-dalamnya dan berlari begitu kencang sekali, dengan mengabaikan batas
kecepatan yang diperbolehkan.


Tetapi, saya kira, masalah penegakan hukum bukanlah segala-galanya. Tak
semua perilaku berlalu-lintas bisa diatur dengan hukum. Memberikan prioritas
kepada pejalan kaki untuk menyeberang jalan, apalagi di kawasan pinggiran
kota yang tak terlalu padat, tentu tak membutuhkan hukum tersendiri.
Mestinya, seorang pengendara tahu bahwa menurut "akal sehat" yang biasa,
sudah selayaknya seorang pejalan kaki didahulukan dan dihormati.


Ada hal-hal dalam berlalu-lintas yang hanya perlu diatur oleh sebuah etika
publik saja yang tidak bersifat mengikat, tetapi semua orang dengan taat
mengikutinya, karena merasa tak pantas jika melanggarnya. Etika semacam itu
yang tak saya lihat di Jakarta saat ini. Seorang pengendara mobil atau motor
bertindak seperti dalam adagium yang terkendal dari Thomas Hobbes, "*bellum
omnium contra omnes*", perang semua melawan semua.


Situasi berkendaraan di Jakarta seperti sebuah medan peperangan di mana
kalau anda tak membunuh, ya anda akan terbunuh. Semua orang seperti hendak
menang, tak mau mengalah. *To kill or to be killed*. Karena semua orang
hendak menang semuanya, maka seringlah kita melihat pemandangan "leher
botol" (*bottle neck*). Sore ini, saat melewati Pasar Pondok Gede dan menuju
ke arah Bojong, saya melihat pemandangan "leher botol" itu. Di sebuah
pertigaan di dekat Pasar Pondok Gede, terjadi kemacetan yang luar biasa.
Pasalnya sederhana saja: semua mobil merangsek ke arah pertigaan, semua
hendak lewat lebih dahulu, sehingga membuat arus bekendaraan macet total.
Saya seperti tak melihat pengertian tentang pentingnya antri.


Di jalan-jalan Jakarta, saya melihat semacam peragaan dari "permainan semua
melawan nol" atau *zero sum game*. Dalam permainan seperti itu, seseorang
merasa harus mendapatkan semuanya atau kalah sama sekali. Tak dan "solusi
menang-menang" atau *win-win solution*. Yang ada adalah atau anda menang
atau kalah sama sekali. Kalau anda memberi jalan kepada pengendara lain,
maka anda akan kalah. Kalau anda mau menang, anda harus mendesak, merangsek,
memaksa, supaya pengendara lain memberi anda kesempatan untuk lewat.


Yang mencemaskan saya adalah membayangkan pengaruh pemandangan lalu-lintas
seperti itu dalam membentuk sikap-sikap dalam masyarakat. Saya menduga,
prilaku berlalu-lintas seperti itu, sedikit atau banyak, mempengaruhi
mentalitas seseorang di luar jalan raya. Jika setiap hari kita disuguhi
pemandangan "zero sum game" semacam itu di jalan raya, bukan mustahil akan
terbentuk dalam diri kita mentalitas "mau menang sendiri", bersikap
mutlak-mutlakan, absolutisme.


Saya menduga, ada aspek "geografis" dalam kekacauan berlalu-lintas semacam
itu. Perbandingan antara luas tanah dan jumlah penduduk Jakarta dan
sekitarnya makin mengecil, sehingga muncullah gejala ruang sempit yang
dihuni secara berdesak-desak oleh banyak orang. Dalam situasi yang tak ideal
semacam itu, tentu seseorang akan dipaksa untuk saling berebut untuk
medapatkan "ruang kosong". Karena jumlah penduduk terus meningkat,
persaingan untuk mendapatkan ruang makin meningkat. Tak ada cara lain untuk
mengatasi hal ini kecuali memikirkan tata-kota secara baik. Banyak kota
besar dunia dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, tetapi berhasil
menjaga keteraturan. Contoh yang baik adalah kota Tokyo di Jepang.


Tetapi, kontribusi etika atau akhlak publik juga sangat besar dalam
membentuk warga negara yang "sipil" atau beradab di jalan raya. Etika ini
patut diajarkan kepada masyarakat. Pengertian tentang akhlak atau etika
dalam masyarakat juga pelan-pelan harus diubah. Selama ini, akhlak cenderung
dimengerti sebatas sebagai sopan santun di dalam wilayah privat. Masyarakat
diajarkan untuk berperangai sopan kepada orang tua, guru, dan orang yang
lebih senior di rumah atau di ruang-ruang tertutup.


Tetapi etika atau akhlak yang berkaitan dengan kehidupan publik, seperti di
jalan raya, kurang mendapatkan perhatian. Seolah-olah berlalu-lintas secara
baik dan sopan bukan bagian dari imperatif etis, bukan bagian dari tuntutan
berakhlak mulia sebagaimana diajarkan oleh agama. Seseorang yang rajin
beribadah menurut ajaran agama tertentu merasa tidak ada masalah jika
berlaku kasar di jalan raya, seolah-olah menjadi seorang beragama yang
"saleh" di mata Tuhan tak ada kaitannya dengan berlaku "saleh" terhadap
sesama manusia.

Ini tentu sebuah paradoks yang mencemaskan! *****


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke