http://www.antaranews.com/view/?i=1247710797&c=ART&s=RSB
Sahabat di Mata Sokrates
Kamis, 16 Juli 2009 09:19 WIB
Mulyo Sunyoto
Jakarta (ANTARA News) - Empat ratus tahun sebelum Kristus lahir, di Yunani
purba sudah ada orang yang mengupas tuntas arti persahabatan. Siapa lagi kalau
bukan filsuf jalanan yang mengaku tahu bahwa dirinya tidak tahu. Dialah
Sokrates, yang oleh murid terpandainya, Plato, disebut sebagai manusia paling
bijak di bumi.
Perbincangan ihwal sahabat dan persahabatan itu disampaikan oleh Plato dalam
bentuk dialog berjudul "Lysis", yang terjemahan Indonesianya dikerjakan dosen
Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, A Setyo Wibowo, dan diterbitkan "i
Publishing" (2009).
Membaca teks kuno tidaklah mudah. Apalagi untuk perkara filosofis, yang tak
disampaikan dengan lugas, tapi berkelok-kelok dengan argumen yang kadang saling
berbantah seperti cara dialog Sokrates ini.
Hal yang menakjubkan dari filsuf adalah pilihan tema diskursus, dalam hal ini
tema persahabatan, yang selalu relevan sepanjang zaman. Meski jarak antara masa
kini dan era Sokrates sudah 2.500 tahun, apa yang diungkapkan Sokrates
tampaknya masih menarik minat orang untuk menyimaknya.
Ya, persahabatan begitu senantiasa up to date, atau ibarat evergreen tree yang
tak lekang di makan zaman. Lagu terbaru di lingkungan anak band yang bertema
persahabatan mengandaikan bahwa "persahabatan bagai kepompong", yang "mengubah
ulat jadi kupu-kupu".
Sokrates tidak memilih jalan linear untuk menyimpulkan apa arti sahabat. Dalam
dialog itu, Sokrates menggiring lawan bicaranya, di antaranya seorang pemuda
tampan bernama Lysis, untuk menuju pengertian sahabat dan dengan entengnya
mementahkan kembali kesimpulan yang mulai terbentuk.
Berbagai elemen yang terlibat dalam relasi persahabatan ditelaah oleh Sokrates.
Kondisi yang mensyaratkan persahabatan juga ditilik dari berbagai sudut.
Tinjauannya pada tema persahabatan ini cukup komprehensif.
Sebelum membuat kesimpulan sementara mengenai kondisi yang memungkinkan
hadirnya persahabatan, Sokrates berargumen mengenai sejumlah kemungkinan
terbentuknya relasi persahabatan.
Bagi Sokrates, yang mendasari sebuah persahabatan adalah kebaikan. Hal ini
hanya dimungkinkan pada mereka yang masuk kategori "yang tidak baik sekaligus
tidak jahat". Apa makna "yang tidak baik sekaligus tidak jahat" ini?
Karakter macam ini hanya dimiliki oleh seorang yang masih merasa "tidak
berpengetahuan" (tidak baik) sehingga dia akan memburu persahabatan dengan
orang yang berpengetahuan, dan orang yang merasa belum mempunyai kearifan
sehingga merasa perlu mencari kearifan (tidak jahat).
Bagi orang-orang yang merasa sama-sama berpengetahuan dan merasa sama-sama
bijaksana, persahabatan sejati tak mungkin terjalin. Begitu juga di antara
orang sama-sama bodoh dan jahat, persahabatan tak akan terjalin abadi. Menurut
Soekrates, sesama orang jahat bisa saja bersahabat selama mereka punya
kepentingan bersama namun persahabatan di antara sesama orang jahat akan
berakhir di ujung pengkhianatan.
Apakah pendapat Sokrates ini masih valid untuk kondisi saat ini?
Itulah yang mungkin pastas diverifikasi. Tak mudah untuk melakukan verifikasi
atas pendapat-pendapat Sokrates. Metode paling otentik untuk menguji keabsahan
pendapat Sokrates ini adalah pribadi orang masing-masing dengan merujuk pada
pengalaman pribadi.
Namun, problem esensial di sini adalah untuk menetukan apakah seseorang bisa
secara obyektif menilai diri sendiri sebagai orang yang "baik", "tidak baik",
"jahat", "tidak jahat"?
Dialog Sokrates ini bisa menjadi terasa lebih mudah dipahami karena penerjemah
memberikan catatan berupa tafsirnya atas dialog Sokrates dengan rujukan yang
cukup lengkap.
Tanpa bantuan cacatan dari penerjemah, pembaca akan merasa kesulitan dan bisa
tersesat dalam memahami dialog Sokrates ini.
Bahkan sebetulnya, membaca bagian cacatan tafsir penerjemah atas dialog
Sokrates inilah yang lebih memberikan eksplanasi mengenai makna persahabatan
menurut filsuf yang akhirnya dihukum mati karena dianggap meracuni pikiran kaum
muda Athena.
Filsuf Franz Magnis Suseno menganjurkan orang Indonesia membaca buku ini. Nilai
buku ini luar biasa, katanya. Bagi orang Indonesia yang oleh sebagian turis
mancanegara pernah dicap sebagai bangsa yang santun, dengan membaca buku ini
mungkin akan bisa menambah satu cap positif lagi: bangsa yang bersahabat.(*)
[Non-text portions of this message have been removed]