From: Alex Simanjuntak <[email protected]>
Subject: [nasional-list] Koalisi Kewalahan Membela SBY
Date: Saturday, July 18, 2009, 2:54 PM


  







2009-07-18 
Koalisi Kewalahan Membela SBY

[JAKARTA] Koalisi pengusung pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) - Boediono 
terkesan kewalahan menangkis serangan terkait pernyataan SBY yang mengaitkan 
teror bom dengan Pilpres 2009. Namun, mereka solid membenarkan sikap SBY 
tersebut. Sebelumnya, sejumlah lawan politik serta pengamat menyayangkan 
pernyataan SBY yang dinilai kurang bijak, tidak tepat waktu, dan tidak 
menunjukkan sikap kenegarawanan seorang Kepala Negara.

Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum mengatakan, pernyataan Presiden SBY 
jika dipahami secara utuh tidak diarahkan untuk menuduh. "Pernyataan itu suatu 
ekspresi dari kemarahan besar terhadap terorisme yang amat jelas destruksinya. 
Apa yang menjadi prestasi bangsa beberapa tahun terakhir kembali rusak," 
katanya menjawab SP di Jakarta, Sabtu (18/7).

Anas menganggap wajar jika muncul polemik dari pernyataan SBY. "Dalam negara 
demokrasi kita tidak terlalu benci polemik, tidak pula menganggapnya sebagai 
sesuatu yang haram," ujarnya.

Namun, lanjut Anas, amat tidak masuk akal dan tendensius jika ada pihak yang 
menengarai ini bagian dari pengalihan isu saat KPU tengah sibuk melakukan 
penghitungan suara pemilu presiden. 

Soal foto latihan kelompok tak dikenal yang berhasil dikantongi SBY dan baru 
diungkap kemarin, Anas menjelaskan, dalam situasi normal hal itu tidak perlu 
disampaikan. "Dengan menunjukkan itu, SBY ingin menekankan ada persoalan serius 
tentang terorisme dan ancaman keamanan agar semua waspada dan tak lalai," 
ujarnya. 

Senada dengan itu, Presiden PKS Tifatul Sembiring mengajak semua pihak untuk 
tidak terlalu sensitif di saat kondisi Indonesia digoncang petaka pengeboman 
kemarin. Sebagai mitra koalisi, PKS amat memahami situasi dan sikap SBY sebagai 
kepala negara.

Ia meyakini betul bahwa SBY tidak bermaksud menuduh pihak manapun. "Apa yang 
ditunjukkan dalam pidatonya itu berasal dari data intelejen. SBY sama sekali 
tidak menyebut nama. Kalau menuduh kan menyebut nama," kata Tifatul seraya 
meminta semua pihak mempercayakan sepenuhnya kepada pihak berwajib mengusut 
pelaku pengeboman. 

Sementara itu, Wakil Ketua Umum DPP PPP Chozin Chumaidy mengatakan, tidak perlu 
ada upaya saling menyalahkan terkait pernyataan SBY tentang teror bom. 
Menurutnya, tidak ada upaya politisasi dari pernyataan SBY kemarin. Yang 
dibutuhkan saat ini, semua pihak bersama-sama memerangi kekerasan yang 
dilakukan teroris.

"Apa yang disampaikan SBY harus menjadi kewaspadaan kita semua. Saya yakin SBY 
menyatakan itu atas dasar informasi yang cukup akurat dari Polri," ujarnya.

Chozin menambahkan, Presiden SBY harus secepatnya menuntaskan kasus ini dengan 
membuka motif teror sebenarnya. Dengan demikian, masyarakat tidak bersikap 
skeptis dan menduga-duga terlalu jauh. 

Ketua DPP PAN Totok Daryanto mengatakan, koalisi parati-partai yang bergabung 
dengan Partai Demokrat dalam pilpres sudah berkomitmen untuk selalu bersama 
dalam suka dan duka. "Terlepas dari pernyataan tersebut, apa yang dilakukan SBY 
tersebut mesti dimengerti sebagai bagian dari upaya melawan terorisme. 
Terorisme dalam bentuk apapun harus dikutuk dan diperangi," paparnya.

Selaras dengan itu, Sekjen DPP PKB Lukman Edy membela bahwa pernyataan SBY 
adalah peringatan kepada komponen bangsa. Sebagai peringatan, pernyataan itu 
tidak berlebihan karena justru lebih cepat disampaikan maka lebih baik.

"Bom itu terjadi justru saat kita menunggu seluruh agenda politik Indonesia. 
Itu sebagai warning bahwa terorisme terjadi di tengah-tengah bangsa kita," 
tandas Lukman.


Melebihi Proporsi

Sebelumnya, Ketua DPP Partai Hanura Fuad Bawazier menilai, pernyataan SBY 
melebihi proporsinya sebagai Kepala Negara. "Mestinya yang disampaikan itu 
lebih kepada kepastian pengusutan secara cepat, pemenjaraan pelaku, dan 
menjamin keamanan. Semua presiden di dunia akan menyampaikan seperti itu kalau 
terjadi di negaranya," katanya.

Menurut Fuad, pernyataan SBY yang kemudian melebar ke soal pilpres merupakan 
hal yang tidak proporsional. Hal tersebut justru akan menyebabkan suasana lebih 
mencekam dan ketakutan di tengah masyarakat. 

Terkait foto-foto yang diperlihatkan SBY, seharusnya itu harus diusut secara 
tuntas dan jangan dipublikasikan dan dibesar-besarkan di tengah situasi genting 
seperti sekarang ini. "Apakah Pak SBY mau membungkam lawan politiknya dengan 
cara seperti ini, mungkin itu di pikiran masyarakat. Yang pasti saya sedih 
dengan teror yang terkutuk ini dan secara bersamaan saya juga menyesalkan 
pernyataan Pak SBY seperti itu," ucapnya.


Anggota Deperpu PDI-P AP Batubara mengatakan, sangatlah tidak beralasan jika 
SBY mengungkapkan pengeboman itu terkait dengan pilpres.

"SBY harus bisa buktikan kalau itu terkait dengan pilpres. Jika tidak terbukti, 
itu sama saja fitnah," tegasnya. Ia berharap kasus pengebomam ini tidak 
mengalihkan isu tentang pelanggaran- pelanggaran yang terjadi pada pilpres.


Politik Pencitraan

Pengamat politik Ray Rangkuti juga mengatakan, ketika SBY berbicara dengan 
mempersonifikasi dirinya sebagai bangsa ini yang menjadi sasaran tembak dengan 
foto-foto yang dikumpulkan, dia benar-benar tidak tampil sebagai negarawan dan 
pemimpin yang santun. "Ini sangat bertolak belakang dengan apa yang dibangunnya 
selama ini," katanya.

Ia mengatakan, ketika hampir seluruh rakyat negara ini sedang berduka, SBY 
malah menarik rasa duka mereka seolah-olah ia yang menjadi incaran. "Hal ini 
tidaklah lebih dari sekadar politik pencitraan yang sangat tidak etis," 
tegasnya. 

Pengamat politik UGM Ari Dwipayana juga menyayangkan pernyataan Presiden SBY, 
yang memperlihatkan sosoknya sebagai politisi daripada sebagai kepala negara 
dan negarawan. Pernyataannya terbaca sebagai manuver politik dan demi 
kepentingan relasi politiknya.

"Saat ini kita menghadapi sesuatu yang besar, jauh lebih strategis berupaya 
menyatukan elemen bangsa untuk melawan ancaman terorisme dan menciptakan 
keamanan kepada rakyatnya. Namun SBY berbicara apa yang terjadi dan kepentingan 
dirinya," ujarnya.

Ari juga menyesalkan dan mempertanyakan kenapa bukti adanya aktivitas terlarang 
itu baru diungkap saat ini. "Kenapa hanya mewacanakan bukan melakukan tindakan 
hukum. Kalau ada ancaman serahkan ke aparat sehingga berbasis bukti," tegasnya.

Pengaitan informasi dan spekulasi dini itu,menurut Ari, bisa jadi upaya 
menutupi kelemahan kerja aparat keamanan, intelejen yang berlindung di balik 
presiden. 

Wapres Jusuf Kalla (JK) juga membantah jika pengeboman itu terkait dengan 
pilpres. "Kalau orang kira Megawati dan saya yang buat, tidaklah," katanya.

Menurut JK, teror bom seperti ini pasti direncanakan dengan waktu yang lama 
selama berbulan-bulan. Pengalaman ledakan bom sebelumnya, selalu direncanakan 
dalam waktu berbulan-bulan. "Ini tak ada hubungan sama sekali dengan pilpres. 
Yang melakukannya pasti direncanakan jauh sebelumnya berbulan-bulan, " kata JK 
yang mengakui bahwa Polri dan BIN lengah karena terlalu fokus pada pengamanan 
pilpres [R-15/NCW/LOV/ EMS/M-16]




Make your browsing faster, safer, and easier with the new Internet Explorer® 8. 
Optimized for Yahoo! Get it Now for Free! 
















      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke