http://www.republika.co.id/berita/63303/Sail_Bunaken_Tak_Terpengaruh_Bom_Kuningan


"Sail Bunaken" Tak Terpengaruh Bom Kuningan

DARWIN - Serangan teroris terhadap Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton Jakarta, 
Jumat (17/7), tidak memengaruhi antusiasme para nakhoda dan awak 127 kapal 
layar (yacht) mancanegara peserta reli wisata bahari "Sail Indonesia/Sail 
Bunaken".  Peserta reli wisata bahari tersebut berangkat dari perairan Darwin, 
Northern Territory (NT), Sabtu (18/7) siang.

Kapal-kapal layar berbagai ukuran dengan jumlah awak rata-rata tiga orang itu 
meninggalkan perairan Darwin menuju Saumlaki, ibukota Kabupaten Maluku Tenggara 
Barat. Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy mendapat kehormatan menembakkan 
senapan ke udara pertanda flag off (pelepasan) kapal-kapal layar dari 21 negara 
itu dari atas geladak kapal "The Spirit of Darwin".

Acara "flag off" 127 dari 132 kapal peserta yang telah memberikan konfirmasi 
kepada panitia tentang titik awal pelayaran menuju Saumlaki di Darwin itu 
disaksikan puluhan orang. Hadir saat itu termasuk Duta Besar RI Primo Alui 
Joelianto, Menteri Hubungan Asia NT Chris Burns, dan Konsul RI di Darwin 
Harbangan Napitupulu.

Sebanyak lima kapal peserta yang telat tiba di Darwin tidak mengikuti acara 
"flag off" yang juga dihadiri sejumlah pejabat pemerintah daerah tingkat dua di 
kawasan timur Indonesia.

Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi mengatakan, serangan teroris 
terhadap dua hotel di kawasan niaga Kuningan Jakarta yang menewaskan sembilan 
orang, termasuk tiga warga Australia itu gagal mempengaruhi antusiasme para 
peserta reli kapal layar "Sail Bunaken".

"Tidak ada kapal peserta yang mundur dari Sail Bunaken karena insiden kemarin," 
katanya.
Kenyataan ini membuktikan tingginya kepercayaan negara-negara di dunia pada 
Indonesia karena di bawah kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 
Indonesia dapat dikelola dengan baik sehingga apa pun yang terjadi, para 
pencinta wisata bahari dunia itu tetap datang, kata Freddy.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, terjadinya peristiwa serius di satu 
daerah tidak lantas membuat daerah-daerah lain tidak aman untuk dikunjungi 
warga negara asing karena Indonesia bukanlah negara kontinental, katanya.

Panitia Nasional "Sail Bunaken" Aji Sularso mengatakan, semua elemen pemerintah 
dan masyarakat yang terlibat dalam upaya menyukseskan kegiatan reli wisata 
bahari akbar ini bekerja keras untuk memberikan rasa aman dan kenyamanan kepada 
kapal-kapal layar peserta di setiap daerah yang dilalui.

"Jadi walaupun ada (negara yang mengeluarkan) 'travel warning' (peringatan 
perjalanan), 'Sail Bunaken' jalan terus," kata Aji Sularso yang juga Dirjen 
Pengawasan dan Pengendalian Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (Dirjen P2SDKP) 
ini.

Antusiasme para awak ratusan kapal layar peserta "Sail Indonesia/Sail Bunaken" 
yang mengikuti "flag off" di perairan Darwin Sabtu ini juga disampaikan Wakil 
"Sail Malaysia", Sazli Kamal Basha. Menurut Sazli yang ikut di atas kapal "The 
Spirit of Darwin", para peserta "Sail Bunaken" itu adalah "para turis 
profesional" yang tidak terpengaruh dengan serangan teroris di Jakarta.

Sementara itu, Menteri Hubungan Asia NT Chris Burns memandang "Sail 
Indonesia/Sail Bunaken" yang mengambil titik awal pelayaran menuju Indonesia 
dari Darwin sebagai "simbol persahabatan" kedua bangsa.

Segelintir orang yang mencoba melemahkan hubungan Australia-Indonesia yang 
sudah kuat terbangun dengan aksi kejahatan seperti yang terjadi di Jakarta 17 
Juli itu tidak akan berhasil. "Kita ini bertetangga dan akan selalu begitu," 
kata Chris Burns.

Terkait dengan serangan teroris di dua hotel mewah tersebut, Chris Burns 
menyampaikan rasa sedih dan belasungkawanya bagi para korban dan keluarga 
korban. Dia berharap mereka yang terlibat dapat segera diadili. (ant/itz)


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke