Abdus Salam beraliran Ahmadiyah, karena dia terkenal dalam ilmu fisika maka dia
dikutip sebagai Muslim oleh Republika, tetapi di Indonesia Ahmadiyah dihantam,
Republika tidak membela.
----- Original Message -----
From: Sandy Dwiyono
To: [email protected] ; [email protected]
Sent: Saturday, July 18, 2009 1:20 PM
Subject: [nasional-list] Geologi dalam Peradaban Islam
Teori seperti sebuah Perang. Adakalanya saat ini dibantah,
kalah, sangat mungkin suatu saat kelak akan terbukti kembali kebenarannya,
menang.. Demikian halnya teori-teori yang diajukan para filosof Yunani-Romawi
kuno yang banyak dibantah dengan angkuhnya oleh junior-juniornya
filosof-filosof modern, tidak mustahil akan kembali menang, dikemudian hari,
setelah manusia benar-benar memahami dimeni ruang-waktu secara utuh. Salah
satunya teori Heliosentris, yang menyebutkan bahwa Bumi sebegai pusat alam
tatasurya dimana matahari dan planet-planet mengelilingi Bumi. saat ini
dianggap salah, karena pandangan kasat mata dengan teknologi astronomis
menyatakan demikian. Tetapi saya yakin, filosof-filosof Yunani-Romawi tidak
asal bicara mengenai teori-teorinya. Meraka adalah manusia-manusia cerdas dan
unggul yang tidak terbantahkan. Pasti, sebelum mengajukan teorinya, para
filosof terdahulu telah melalui pemikiran mendalam dan pijakan teoritis yang
kuat. Dan telah terbukti, banyak teori yang mereka hasilkan, mampu bertahan
selama ribuan tahun. Salah satu, jika Anda katakan bahwa Bumi mengelilingi
Matahari, maka secara geometris analitis, tidakkah bisa dikatakan bahwa
Matahari juga mengellingi Bumi. Ini hanyalah satu contoh bahwa betapa angkuhnya
para junior filosof modern, mengklaim teori para seniornya sebagai sesuatu yang
dapat terbantahkan. Bukankah, pun dengan teknologi yang telah dikuasainya saat
ini, manusia abad modern masih meraba-raba mengenai hakikat sebenarnya dari
dimensi ruang waktu. Akan banyak teori-teori hasil pemiliran era Yunani-Romawi
kuno yang akan kembali menemukan kemenangannya, setelah manusia cukup mampu
memahami dimensi ruang waktu dan alam raya.
http://www.republika.co.id/berita/61926/Geologi_dalam_Peradaban_Islam
Geologi dalam Peradaban Islam
Geologi merupakan cabang ilmu alam yang mempelajari bumi,
komposisinya, struktur, sifat-sifat fisik, sejarah, dan proses asal mula
terbentuknya bumi serta sejarah perkembangannya. Studi ini mendapat perhatian
penting dari para ilmuwan Muslim di zaman kekhalifahan.
Ilmu ini dipandang memiliki kegunaan dan manfaat yang
begitu besar. Betapa tidak. Geologi mampu membantu peradaban Manusia dalam
menemukan dan mengatur sumber daya alam yang ada di bumi, seperti minyak bumi,
batu bara, dan juga metal seperti besi, tembaga, emas dan uranium.
Selain itu, studi yang dikembangkan para saintis Islam itu
juga sangat membantu dalam menemukan zat mineral lainnya yang memiliki nilai
ekonomi, seperti: asbestos, perlit, mika, fosfat, zeolit, tanah liat, pumis,
kuarsa, dan silika, dan juga elemen lainnya seperti belerang, klorin, dan
helium. Sejak era kekhalifahan, umat Islam telah mampu menemukan ladang minyak
serta besi, emas dan lainnya.
Adalah ilmuwan Barat bernama Fielding H Garisson yang
menyatakan bahwa studi geologi modern dimulai pada era kekhalifahan. Dalam
bukunya berjudul History of Medicine, Garisson mengatakan, “Umat Islam di abad
pertengahan tak hanya mengawali berkembangnya aljabar, kimia dan geologi.
Namun, juga telah meningkatkan dan memuliakan peradaban.”
Abdus Salam (1984) dalam Islam and Science menyatakan bahwa
Abu al-Raihan al-Biruni (973-1048 M) merupakan geolog Muslim perintis yang
berjasa mendirikan studi geologi modern. Secara mendalam, ilmuwan Muslim abad
ke-11 M itu menulis tentang geologi India. Al-Biruni melontarkan sebuah
hipotesis bahwa anak benua India awalnya adalah sebuah lautan.
"Jika Anda melihat tanah India dengan mata sendiri dan
mengamati alamnya, sebenarnya daratan India awalnya adalah laut,” papar
al-Biruni dalam Book of Coordinates. Ia juga menuturkan bahwa keberadaan kerang
dan fosil di wilayah negeri Hindustan menunjukkan bahwa kawasan itu adalah
lautan yang kemudian meningkat menjadi daratan kering.
Berdasarkan penemuannya itu, al-Biruni menyatakan bahwa
bumi secara konstan mengembang. Temuannya itu memperkuat pandangan Islam yang
menyatakan bahwa bumi tak kekal. Teori bumi tak kekal yang dilontarkan
al-Biruni itu berlawanan dengan keyakinan ilmuwan Yunani Kuno yang berpendapat
bahwa bumi itu kekal.
Al-Biruni pun lalu menyatakan bahwa bumi juga memiliki
usia. Pendapat sang ilmuwan Muslim di era kekhalifahan itu terbukti. Para
Geolog modern akhirnya membuktikan pendapat itu dengan menyatakan usia Bumi
diperkirakan sekitar 4,5 miliar (4,5x109) tahun.
Ilmuwan Muslim legendaris, Ibnu Sina (981-1037) juga turut
memberi kontribusi yang amat penting bagi studi geologi. Avicenna – begitu
masyarakat Barat biasa menyebutnya -- menamakan geologi sebagai Attabieyat.
Dalam bab lima ensiklopedia berjudul Kitab al-Shifa, Ibnu Sina menjelaskan
tentang mineralogi, meteorologi.
Selain itu, bab keenam Kitab Al-Shifa, juga mengupas
berbagai hal tentang bumi dan proses pembentukannya. Secara rinci dan lugas,
Ibnu Sina membahas tentang; pembentukan gunung; manfaat gunung dalam
pembentukan awan: sumber-sumber air, asal muasal gempa bumi; pembentukan
mineral-mineral; serta keanekaragamaan lahan tanah di bumi.
Pemikiran Ibnu Sina tentang geologi ternyata sangat
berpengaruh terhadap peradaban Barat. Berkat jasa Avicenna-lah, masyarakat
Barat kemudian mengenal hukum superposisi, konsep katastropisme (bencana besar)
serta doktrin uniformitarianism. Buah pikir Ibnu Sina juga banyak mempengaruhi
ilmuwan Barat bernama James Hutton dalam mencetuskan Teori Bumi pada abad ke-18
M.
Secara terang-terangan, dua akademisi Barat bernama Toulmin
dan Goodfield (1965), menjelaskan sumbangsih yang diberika Ibnu Sina bagi studi
geologi modern. “Sekitar abad ke-10 M, Avicenna telah melontarkan hipotesis
tentang asal-muasal bentangan gunung. Padahal, 800 tahun kemudian, pemikiran
seperti itu masih dianggap radikal di dunia Kristen,” papar Toulim dan
Goodfield.
Tak cuma itu, metodelogi ilmiah serta observasi lapangan
yang dikembangkan Ibnu Sina hingga kini masih tetap menjadi bagian yang penting
dalam investigasi geologi modern. Studi geologi juga sebenarnya secara lusa
tercantum dalam Alquran. Dalam Surat Al-Hijr ayat 19 Allah SWT berfirman: “Dan
Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami
tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.
Dalam Surat An-Nahl ayat 15, Sang Khalik juga berfirman:
“Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang
bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu
mendapat petunjuk.” Ayat-ayat inilah yang kemungkinan memberi inspirasi bagi
para ilmuwan Muslim untuk mengkaji studi geologi.
Sumbangan lainnya yang didedikasikan ilmuwan Muslim untuk
studi geologi adalah penemuan kristalisasi dalam proses pemurnian. Terobosan
penting yang dilakukan Jabir Ibnu Hayyan – saintis pada abad ke-8 M – itu
sangat penting dalam kristallogi. Bapak Sejarah Sains, George Sarton menegaskan
bahwa Jabir Ibnu Hayyan juga turut berkontribusi dalam geologi.
“Kami menemukan dalam tulisannya (Jabir) pandangan tentang
metode penelitian kimia, sebuah teori pembentukan logam pada lapisan tanah, ”
papar Sarton. Dalam risalah yang ditulisnya, papar Sarton, Jabir Ibnu Hayyan
menyatakan bahwa pada dasarnya terdapat enam logam yang berbeda, akibat adanya
perbedaan perbandingan sulfur dan merkuri pada keenam jenis logam itu.
Bila kita simak secara teliti, studi geologi mendapat
perhatian dalam Alquran. Selain banyak memaparkan tentang gunung, ayat suci
Alquran juga membahas tentang tanah. Dalam surat Al-A'raaf ayat 58, Allah SWT
berfirman, “Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin
Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana.
Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang
bersyukur.”
Dalam ayat lainnya, Alquran juga menjelaskan adanya
kandungan penting dalam tanah. “Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit,
semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah
tanah.” (QS:Thaahaa:ayat 6). Allah SWT juga berfirman dalam Surat Al-Kahfi ayat
41, “Atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak
dapat menemukannya lagi".
Sumbangsih Saintis Muslim bagi Geologi
Sejarah mencatat begitu banyak ilmuwan Muslim yang mengkaji
geologi di era keemasan Islam. Menurut Guru Besar Universitas Yordania, Prof
Abdulkader M Abed, para saintis Islam itu mengkaji tema-tema khusus seperti
mineral, batu-batuan serta permata. Sayangnya, kebanyakan risalah itu banyak
yang hilang dan tak eksis lagi.
Berikut ini beberapa ilmuwan Muslim yang mengkaji geologi:
* Yahya bin Masawaih (wafat 857 M): Dia menulis tentang
permata dan kekayaannya.
* Al-Kindi (wafat 873 M): Menulis tiga risalah. Salah satu
karyanya yang terbaik berjudul "Gems and the Likes".
* Al-Hasan Bin Ahmad al-Hamdani(334 H): Menulis tiga buku
mengenai metode eksplorasi emas, perak, permata dan bahan mineral lainnya.
* Ikhwaan As-Safa (pertengahan abad ke-4 H): Menulis
ensiklopedia yang berisi bagian-bagian minelar serta klasifikasinya.
* Abu Ar-Rayhan Mohammad Bin Ahmad al-Biruni: (wafat 1048
M): Adalah ahli minerallogi terhebat sepanjang seharah peradaban Islam. Selain
menulis Book of Coordinates, dia juga menyusun buku berjudul Al-Jamhir fi
Ma'rifatil Al-Jawahir. Yang mengupas tentang cara mengenali permata. Buku itu
dinilai sebagai kontribusi terbaik yang disumbangkan perdaban Islam bagi studi
minerallogi.
* Ahmad Bin Yousef Al-Tifashi: Ia menulis kitab Azhar
Al-Afkar fi Jawahir Al-Ahjar yang berisi tentang cara mengenali batu-batu mulia.
* Mohammad Bin Ibrahim Ibnu Al-Akfani (wafat 1348A):
menulis buku berjudul Nukhab Al-Thakhair fi Ahwaal Al-Jawahir. Mengupas
karakteristik batu-batu mulia.
Mineralogi di Era Kekhalifahan
Para ilmuwan Muslim di abad ke-10 hingga 11 M banyak
menaruh perhatian untuk meneliti dan menulis risalah tentang mineralogi. Studi
mineralogi merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari geologi. Sebab,
mineralogi merupakan cabang geologi yang berfokus pada sifat kimia, struktur
kristal, dan fisika dari mineral.
Studi ini juga mencakup proses pembentukan dan perubahan
mineral. Sekitar 10 abad yang lalu, para saintis Muslim sudah mampu
mengidentifikasi beragam jenis mineral. Mereka mendedikasikan dirinya untuk
mempelajari mineral. Al-Biruni dikenal sebagai pakar mineralogi Muslim yang
paling hebat dalam sejarah peradaban Islam.
Di zaman itu, para ilmuwan Islam sudah mampu menjelaskan
komposisi kimia dan struktur kristal. Batu permata dan batu mulia dinilai para
ilmuwan Muslim sebagai jenis mineral yang khusus. Intan, batu nilam, jamrud
serta yang lainnya digolongkan ke dalam mineral. Sejak zaman dahulu batu-batu
mulia itu menjadi lambang kemewahan raja-raja dan para wanita.
Sumbangan peradaban Islam dalam bidang mineralogi tak lepas
dari keberhasilan umat Islam menguasai wilayah-wilayah penting seperti Mesir,
Mesopotamia, India dan Romawi. Peradaban wilayah itu sebelumnya juga telah
mengenal beragam jenis mineral, batu mulia, dan permata. Karya-karya terdahulu
itu lalu dikembangkan dan diteliti lebih lanjut oleh para ilmuwan Muslim. hri
[Non-text portions of this message have been removed]