Darul Islam, Wahabi, Lalu Apa Lagi? 

http://www.republik a.co.id/koran/ 24/66833/ Darul_Islam_ Wahabi_Lalu_ Apa_Lagi


Herry Nurdi
(penulis, wartawan)

Sebulan pascaperistiwa 11 September 2001, majalah Time menurunkan laporan utama 
tentang jaringan Alqaidah dengan judul Inside Al Qaeda Bin Laden's Web of 
Terror. Majalah ini, mendaftar Indonesia sebagai salah satu lokasi jaringan ini 
berada. Dua organisasi Islam dimasukkan namanya sebagai kepanjangan tangan 
Alqaidah di Indonesia. Kedua organisasi tersebut adalah Laskar Jihad dan Front 
Pembela Islam (FPI).

Kedua organisasi ini dikaitkan karena beberapa aktivitasnya. FPI ditandai 
dengan kegiatannya melakukan sweeping pada warga negara asing, terutama warga 
Amerika di Jakarta. Sedangkan, Laskar Jihad dikaitkan karena aktivitas 
gerakannya yang dipimpin oleh Ja'far Umar Thalib ini, dalam Jihad Ambon. 
Apalagi, diketahui bahwa Ja'far Umar Thalib adalah salah satu alumnus 
Afghanistan, orang-orang Indonesia yang pernah turut berperang di Afghanistan 
melawan Uni Soviet.

Tapi ternyata, peta ini tak bertahan lama. Baik FPI dan Laskar Jihad memang tak 
memiliki hubungan dalam network Alqaidah. Peta baru digelar, dengan mengaitkan 
gerakan Islam tua di Indonesia, seperti Darul Islam, sebagai akar terorisme di 
negeri Khatulistiwa. Laporan pertama kali yang menyebut nama organisasi Darul 
Islam adalah Dr Zachary Abuza, dari Departemen Political Science dan Hubungan 
Internasional, Simmons College. Laporan yang disusun oleh Zhachary Abuza 
beredar pada 6 Agustus 2002. Dan setelah itu, banyak nama lain yang 
bermunculan. Sebut saja, Rohan Gunaratna dengan Inside al Qaeda Global Network 
of Terror. Kemudian ada The Seed of Terror yang disusun oleh Maria A Ressa, 
kepala biro CNN di Jakarta. Dan yang terakhir muncul, dan sangat kuat merangkai 
keterkaitan Darul Islam sebagai akar terorisme di Indonesia adalah buku 
berjudul The Second Front yang ditulis oleh Ken Conboy.

Ken Conboy menulis The Second Front yang ia beri subjudul Inside Asia's Most 
Dangerous Teroris Network. Dan di buku ini, Ken Conboy memereteli dan menyusun 
logika tentang keterlibatan Darul Islam dalam proses kelahiran Jemaah Islamiyah.

Bahkan, setelah halaman 116, dalam bukunya Ken Conboy menyusun foto-foto tokoh 
yang seolah hendak bercerita secara kronologis. Paling atas ada Sekarmadji 
Maridjan Kartosuwirjo, lalu turun sedikit ada Abdullah Sungkar dan Abu Bakar 
Ba'asyir. Lalu ada gambar peta lokasi Abdul Rasul Sayyaf di perbatasan Pakistan 
dan Afghanistan. Bahkan di halaman berikutnya, secara provokatif disusun di 
halaman yang sama foto Abdul Rahim Ayyub yang disebut-sebut pimpinan Mantiqi IV 
di wilayah Australia sedang duduk bareng dengan Abu Bakar Ba'asyir.

Meski begitu, tampaknya nama yang paling populer dalam urusan laporan jaringan 
terorisme ini tak ada yang mengalahkan nama Sidney Jones, koordinator 
Internasional Crisis Group. Sidney Jones begitu gencar mengatakan Darul Islam 
(DI) yang menjadi mata rantai paling besar gerakan terorisme di Indonesia. 
Dalam wawancaranya dengan Tempo, Sidney menerangkan bahwa muncul jaringan 
bermacam-macam dari DI. Mulai dari Jemaah Islamiyah (Jl), Laskar Jundullah di 
Makassar, dan Mujahidin Kayamanya. Bahkan KW 9 yang dipimpin oleh Abu Totok 
alias Panji Gumilang yang juga Pimpinan Al Zaytun, telah disebut oleh Sidney 
Jones.

Menyebut nama Darul Islam, bukan sembarangan dampaknya. Sebab, seperti pukat 
harimau, jika Darul Islam disebut, nyaris semua gerakan Islam bisa terjaring 
dan kena sasaran. Karena, tidak berlebihan jika disebut Darul Islam adalah akar 
dari seluruh gerakan Islam di Indonesia.

Jika Darul Islam telah disebut, semua organisasi Islam di Indonesia bisa jadi 
terkena. Salah satu contohnya adalah ketika dalam laporannya, ICG menyebut nama 
Abu Jihad. Abu Jihad ini adalah anggota DI generasi Daud Bereueh. Sedangkan 
Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba'asyir dianggap tokoh DI di Jawa Tengah. Darul 
Islam tidak ada hubungannya dengan Jemaah Islamiyah. DI ada di masa lalu. Sama 
sekali tak ada hubungannya dengan Jl.

Kini, muncul penamaan baru: Wahabi. Tak hanya Wahabi, tapi juga Ikhwanul 
Muslimin telah disebut-sebut. Konon keduanya, Wahabi dan Ikhwanul Muslimin 
telah 'melangsungkan' perkawinan silang yang melahirkan anak-anak dengan 
ideologi sekeras batu dan perilaku gerakan yang militan.
Wahabi sebenarnya bukan istilah baku dalam sumber-sumber rujukan Islam. Wahabi 
adalah penyebutan sebuah gerakan yang didirikan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul 
Wahhab at Tamimi al Najdi (1115-1206 H atau 1703-1791 M). Tokoh ini lahir di 
Uyainah, belajar Islam dari sumber terpercaya, hafal Alquran pada usia 10 tahun 
dan dapat bermazhab Hambali.

Pada zamannya, beliau berhadapan dengan masyarakat yang mengalami kemunduran 
dan kerancuan akidah Islam. Kehidupan umat Islam nyaris dibelenggu dengan warna 
dan aroma syirik serta takhayul. Kuburan disembah dan dijadikan tempat berdoa. 
Kemusyrikan menjadi gejala. Bahkan, dukun serta peramal memainkan peranan 
penting di tengah kehidupan sosial. 

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab melakukan dakwah untuk membersihkan akidah dan 
memurnikan tauhid. Beliau mengajak umat membersihkan kesadaran dan memperbaiki 
akidahnya. Dan untuk itu, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menulis sebuah 
risalah pendek yang berjudul Kitabut Tauhid yang hingga kini masih menjadi 
rujukan para ulama dalam masalah akidah. Gerakan penyadaran ini lalu berkembang 
menjadi sebuah kesadaran massal, tidak saja di tempatnya dicetuskan, tapi 
meluas hampir ke seluruh jazirah Arab, bahkan keluar sampai ke tanah-tanah 
seberang, termasuk Indonesia.

Secara umum, gerakan ini memiliki beberapa tokoh ulama yang dijadikan rujukan, 
seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Ibnu Taimiyah, juga Ibnul Qayyim al Jauzi. Dan 
kelak, gerakan ini menjadi semacam pemantik kebangkitan gerakan-gerakan Islam 
yang lebih modern dan dianggap sebagai gerakan yang memiliki pengaruh luas di 
dalam dunia Islam, seperti ide Pan-Islamisme yang dicetuskan oleh Jamaluddin al 
Afghani, dan juga pemikiran yang dibawa oleh Syaikh Muhammad Abduh.

Secara logika, dengan sangat sederhana hal ini bisa dicerna. Mengapa gerakan 
pemurnian akidah yang diserukan dan diperjuangkan oleh Syaikh Muhammad bin 
Abdul Wahhab ini berkembang menjadi ide dan pemikiran yang membahayakan 
kolonialisme? Sebab, akidah yang murni mendorong manusia untuk melepaskan diri 
dari menjadi hamba manusia lainnya, dan menjadi hamba Allah SWT semata. Gerakan 
ini, secara jangka panjang telah mengilhami usaha dan perjuangan kemerdekaan 
yang sedang membelenggu dunia Islam pada masa-masa itu. Dan tentu saja, gerakan 
ini telah dipandang sebagai ancaman tersendiri bagi kekuatan-kekuatan kolonial.
Hassan al Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin sendiri, bisa dibilang sebagai salah 
satu anak cucu ideologis dari pemikiran tokoh-tokoh, seperti Syaikh Jamaluddin 
al Afghani dan juga Syaikh Muhammad Abduh. Maka secara ideologis, di sinilah 
letak pertemuan antara Wahabi dan Ikhwanul Muslimin yang hari ini disebut-sebut 
telah memberikan sumbangan besar pada perilaku terorisme.

Salah satu motif yang bisa dilacak dengan menyebut Wahabi dan Ikhwanul Muslimin 
sebagai akar ideologis dari masalah teror ini tidak lain untuk memperlebar 
pukat harimau untuk seluruh gerakan Islam. Maka kelak, bukan hanya 
gerakan-gerakan yang sudah familier disebut sebagai networking teroris seperti 
Jemaah Islamiyah. Tapi, bisa jadi tuduhan akan diperlebar pada elemen-elemen 
tertentu dari gerakan-gerakan seperti Muhammadiyah, al Irsyad, Persis, bahkan 
juga Nahdlatul Ulama, bahkan yang lebih bersifat trans-nasional, seperti Hizbut 
Tahrir dan Jamaah Tabligh.

Sebab, gerakan-gerakan seperti Muhammadiyah, memiliki unsur ajaran 'Wahabi' 
yang dibawa oleh KH Ahmad Dahlan saat meluruskan umat Islam dari penyimpangan 
TBC (Tachayul, Bid'ah, dan Churafat, ejaan lama). Ditambah lagi dengan 
penyebutan Ikhwanul Muslimin, maka nama partai politik seperti Partai Keadilan 
Sejahtera di Indonesia, atau PAS di Malaysia, juga menjadi sasaran dari 
perluasan incaran.

Dan dengan mudah, gerakan-gerakan perlawanan seperti Patani United Liberation 
Organization (PULO) dan Barisan Revolusi Nasional (BRN) yang ada di Thailand 
Selatan, yang bergerak karena perlawanan akibat ketidakadilan Pemerintahan 
Thailand, mendapatkan stigma gerakan teroris karena mendapatkan ide tarbiyah 
dari gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir. Apalagi gerakan perlawanan seperti 
Moro Islamic Liberation Front (MILF) yang mendiang pemimpin besarnya, Ustadz 
Salamat Hashim, adalah seorang Azhari atau lulusan Universitas Al Azhar, Mesir. 
Dengan sangat mudah gerakan perlawanan dikelompokkan sebagai teroris, apalagi 
secara tradisional Amerika memang memiliki hubungan erat dengan kepentingan 
Filipina. Padahal, secara kontekstual gerakan-gerakan seperti yang disebut 
terakhir ini lahir akibat dari penindasan dan ketidakadilan yang terjadi di 
negara-negara seperti Thailand dan Filipina.

"Manusia yang terbaik adalah yang paling banyak membaca, paling bertakwa, 
paling sering beramar ma'ruf nahi munkar, dan paling gemar menjalin hubungan 
silaturahmi. " (Muhammad SAW). 

kampusku 

Blogku

 
 
 
===========================================





Satrio Arismunandar 
Executive Producer
News Division, Trans TV, Lantai 3
Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 
Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4034,  Fax: 79184558, 79184627
 
http://satrioarismunandar6.blogspot.com
http://satrioarismunandar.multiply.com  
 
Verba volant scripta manent...
(yang terucap akan lenyap, yang tertulis akan abadi...)



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke