Mungkinkah Boediono thinking out of the box?
(dikutip dari milis AIPI)
Rasanya sulit, meskipun saat ini dia didampingi oleh beberapa intelektual
publik yang memiliki keprihatinan tinggi terhadap masa depan bangsa, seperti
Goenawan Mohamad. Kekuatan dan sekaligus kelemahan Boediono barangkalai berawal
dari apa yang selama ini dicitrakan tentang dirinya, seorang yang sederhana.
Kesederhanaan adalah sebuah kualitas individu yang semakin langka di negeri
ini, apalagi dikalangan para pejabat dan pemimpin masyarakat. Kesederhanaan
yang melekat pada citra Boediono merefleksikan ideal kita tentang seorang
pejabat dan pemimpin yang tidak korup, baik secara politik maupun ekonomi.
Kesederhanaan yang dimiliki oleh Boediono jelas sebuah modal sosial dan politik
yang sangat diperlukan oleh negeri ini. Kita memerlukan seorang pemimpin yang
bisa memberikan contoh yang kongkrit bagaimana hidup secara sederhana meskipun
kekuasaan ada disejangkauan tangan. Persolannya, mampukah Boediono
mentranslasikan kesederhanaan yang bersifat privat
menjadi kederhanaan yang bersifat publik? Disinilah barangkali kelemahan
kesederhanaan yang dimiliki oleh Boediono. Kesederhanaannya yang bersifat
privat menghadapi kendala struktural ketika lingkungan birokrasi yang
mengelilinginya telah dijangkiti oleh korupsi yang telahbersifat endemik.
Persoalan lain yang dihadapi oleh Boediono adalah sikapnya yang jujur tentang
mazhab ini dan itu dalam ekonomi yang menurut pengakuannya tidak ada satupun
yang diikutinya. Boediono adalah seorang pemikir ekonomi yang percaya bahwa
yang baik adalah yang bisa dijalankan, strategi apapun yang diambil yang
penting bisa mencapai sasaran. Pragmatisme ekonomi semacam ini bukanlah hal
yang baru di Indonesia karena telah dijalankan secara konsisten oleh Widjojo
dan kawan-kawanya, paling tidak sampai pertengahan tahun 1980an. Namun ada
kondisi yang jauh berbeda antara pragmatisme yang akan dijalankan oleh Boediono
dan Widjojo yang muncul bersamaan dengan kepemimpinan Soeharto yang otoriter.
Meskpun pengaruh asing juga sangat besar pada pragmatisme yang dijalankan
Widjojo, Widjojo masih mampu menjalankan strategi pembangunan yang secara jelas
ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan sebagian besar rakyat yang tinggal
di pedesaan. Sebagai seorang ekonom yang
sekaligus demografer Widjojo secara terencana dan sistimatis mengembangkan
kebijakan pertanian dan kebijakan pengendalian laju pertumbuhan penduduk yang
bersifat strategis untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi. Secara politis
jabatan yang dimiliki oleh Boediono mestinya jauh lebih strategis dibandingkan
dengan Widjojo yang jabatan tertinggi yang pernah dipegangnya adalah sebagai
Menko Ekuin. Berbeda dengan Boediono, Widjojo jelas didukung oleh
ekonom-eknomom yang memiliki pemahaman masalah ekonomi secara komprehensif,
mempunyai komitmen yang tinggi terhadap masadepan bangsa dan tidak korup.
Pragmatisme Boediono disamping tidak didukung oleh sebuah tim yang sekaliber
Sadli, Ali Wardhana dan Emil Salim yang memiliki dedikasi tinggi terhadap nasib
rakyat banyak, juga berada dalam ancaman pasar yang akan mendesakkan
agenda-agenda tersembunyinya yang hanya melihat penduduk Indonesia pertama-tama
sebagai sebuah pasar yang sangat terbuka. Disinih kita perlu mewaspadai sebuah
sikap ptragmatis yang tampaknya ”novel” namun sangat rentan terhadap desakan
pasar yang sudah tidak mungkin lagi dibatasi oleh batas-batas teritorial sebuah
negara. Pragmatisme dalam seting semacam ini, sebagaimana mungkin diyakini oleh
Boediono, akan memberikan peluang bagi ekonomi Indonesia untuk tetap tumbuh
seperti yang selalu dislogankan, namun jelas sulit sekali untuk memberikan
prioritas pada yang lemah yang notabene adalah mayoritas bangsa Indonesia.
Tanpa harus terjebak dalam slogan nasionalisme ekonomi, dan debat kusir tentang
neoliberalisme, rasanya tetap
dibutuhkan sebuah strategi pembangunan yang jelas memiliki arah untuk
mensejahterakan sebagiian besar warga bangsa yang masih miskin. Kemikinan
haruslah dilihat tidak sekedar sebagai angka statistik yang mudah dimanipulasi
namun sebagai pengalaman riil akan berbagai kekurangan, deprivasi dan tidak
adanya akses terhadap sumber-sumber ekonomi. Cukup dengan sebuah pengamatan
yang sederhana tetapi kritis kita bisa melihat dua gejala yang berkembang
semakin serius dinegeri ini, apakah itu jantung kekuasaan negeri seperti di
Jakarta, atau di pinggiran, di Jawa timur, di Kalimantan Barat, di Aceh atau di
Papua; dua hal segera menusuk mata kita: kemiskinan yang akut dan kerusakan
lingkungan yang tak terkendalikan. Kita belum bicara tentang langkanya akses
terhadap air bersih dan pelayanan kesehatan bagi sebagian besar warga bangsa
ini.
Saya tidak yakin apakah memang sudah bukan lagi jamannya berpikir tentang
sebuah strategi pembangunan yang tepat untuk menyongsong masa depan Indonesia.
Mungkin benar, ”revolusi sudah usai”, kata Goenawan Mohamad. Ataukah mungkin
kita memang harus menerima saja menerima saja sebuah Indonesia seperti pernah
dinujumkan oleh Thomas L. Friedman, kolumnis The New York Times yang terkenal,
yang mengatakan bahwa Indonesia mungkin nasibnya sama seperti Rusia, ’messy,
but too big too fail”. Saya merasa yakin bahwa dibawah Yudhoyono dan Boediono
Indonesia akan terus berkembang menjadi lebih baik, namun dengan kecepatan
berjalan sebuah siput raksasa, ad hock, incremental - singkatnya business as
usual. Tulisan ini memang bernada skeptikal terhadap harapan yang mungkin
terlalu tinggi terhadap orang seperti Boediono. Sulit membayangkan Boediono dan
kawan-kawannya mampu merealisasikan slogan yang menjadi kesukaan Yoedhoyono,
thinking out of the box.
Riwanto Tirtosudarmo. Gresik, 11 Agustus 2009.
[Non-text portions of this message have been removed]