(Dikutip dari milis jurnalisme, sbg pembelajaran untuk kita, khususnya para 
jurnalis):

 

Posted by: "fm_solihah" [email protected]   fm_solihah 
Wed Aug 12, 2009 5:08 am (PDT) 

Sedangkan Temanggung juga sangat eksklusif berjam-jam TVone di susul Metro TV 
menayangkan penggrebekan di sana. Bukankah Karni Ilyas juga yang mengarahkan 
siaran eksklusif TVONE tersebut? Saya kecewa dengan reporternya yang ketika 
ditanya apakah benar yang terbunuh Nordin M. Top? Dengan meyakinkan sang 
reporter menjawab: "Sudah dipastikan!" . Bahkan sebelum pihak polisi pun 
memberikan pernyataan. Gimana cara memastikan, lha wong... TVONE aja men-shoot 
juga tidak dalam jarak pandang sangat dekat, masih jauh pula. Tidak seperti 
reporter di medan perang. Bagaimana dapat memastikannya? 


Posted by: "aris andrianto" [email protected]   ars_andriant 
Wed Aug 12, 2009 1:43 am (PDT) 
 
Kebohongan macam ini sudah sering terjadi. Biasanya, reporter Jakarta meminta 
data dari stringer di daerah. Seolah-olah ia ada di lapangan, padahal lagi spa 
di sebuah hotel. Biasanya berita bohong mudah dikenali dari pernyataan si 
reporter seperti, "Ya pemirsa rumah kediaman Noor Din letaknya tidak terlalu 
jauh juga tidak terlalu dekat dari jalan". Padahal, ia sama sekali tidak di 
lapangan dan tidak tahu sama sekali kondisi lapangan. Seperti klaim ada 
tembakan balasan dari dalam rumah, padahal itu tidak ada sama sekali.

Jika sudah bingung dan kehabisan bahan kebohongan, tiba-tiba sambungan telepon 
terputus.

Modus lainnya, biasanya mereka menayangkan gambar yang dilabeli eksklusif 
padahal itu gambar stok lama yang diputar berulang-ulang. 

Klaim fakta itu sudah sering dilakukan. Seolah-olah itu sumber di kepolisian. 
Bahkan kadang-kadang, mereka hanya mengatakan sumber kami, tidak jelas sumber 
mana yang dimaksud.

Tapi tidak semua masyarakat bisa dibohongi kok. Seperti kata Sandimeja, 60 
tahun, tetangga saya, "Jangan-jangan itu hanya bohongan saja," ujarnya.

--- Pada Rab, 12/8/09, Farida Mahri <drupad...@yahoo. com> menulis:

Dari: Farida Mahri <drupad...@yahoo. com>
Judul: Re: [jurnalisme] Temanggung (2009) dan Wonosobo (2006)
Kepada: jurnali...@yahoogro ups.com
Tanggal: Rabu, 12 Agustus, 2009, 3:01 AM

 

Mas farid,

Saya suka sekali tulisan anda mengenai peristiwa penggerebekan ini. Sebagai 
orang awam, saya ingin tanya kepada teman-teman, apakah praktek "reality show 
seperti ini" memang suatu hal yang diperbolehkan dalam koridor kode etik 
jurnalistik?  jika tidak, kiranya yang apa dapat dilakukan dan oleh siapa 
seharusnya dilakukan, untuk meminimalisir praktek "reality show" seperti ini.

Saya pikir, praktek "reality show" seperti sangat tidak mendidik bagi 
masyarakat dan sepertinya dunia pers kita jadi ndak maju-maju jika pers senang 
mendramatisir fakta-fakta yang ada atau bahkan belum fakta baru dugaan-dugaan 
saja.

Salam,

Farida

--- On Wed, 8/12/09, Farid Gaban <faridgaban@ yahoo. com> wrote:

From: Farid Gaban <faridgaban@ yahoo. com>

Subject: [jurnalisme] Temanggung (2009) dan Wonosobo (2006)

To: jurnali...@yahoogro ups.com

Date: Wednesday, August 12, 2009, 12:38 AM

Perselingkuhan polisi-wartawan dalam isu terorisme bukan hal baru. Memanfaatkan 
wartawan untuk liputan versi polisi seperti yang terjadi di Temamggung kemarin 
sebenarnya bukan yang pertama. Tiga tahun lalu, "reality show terorisme" 
berlangsung di Wonosobo, kampung halaman saya yang bersebelahan dengan 
Temaanggung.

Saya kebetulan sedang pulang kampung waktu itu dan datang ke lokasi, meski 
setelah semuanya usai. Mengamati dan mewawancara beberapa saksi mata, saya 
menyimpulkan ini sebuah "publicity stunt" polisi berkat bantuan awak televisi 
(ANTV). Saya telah menulis panjang soal ini, dan memajukan pertanyaan hampir 
persis seperti yang diajukan Arya Gunawan dan Sirikit Syah untuk penggerebekan 
terakhir.

Tulisan ini pernah dimuat di milis ini, juga saya muat di blog: http://fgaban. 
blogspot. com/2006/ 05/antv-karni- dan-eksklusivita s.html

[Saya posting ulang di bawah bagi mereka yang kesulitan mengakses blog itu.]

Bukan hal baru. Tapi yang mencengangkan adalah praktek seperti ini terus 
berlangsung. Dan kita cenderung lupa.

fgaban

ANTV, KARNI DAN EKSKLUSIVITAS

ANTV dan Karni Ilyas merindukan liputan eksklusif, momentum baru untuk 
me-relaunch dan me-rebrand stasiun televisi itu, stasiun milik Keluarga Bakrie 
yang kini sebagian sahamnya dibeli raksasa media Rupert Murdoch. Salah satu 
liputan eksklusif mutakhir adalah "penggrebegan teroris" di Wonosobo.

Saya ada di lokasi kejadian beberapa jam setelah penggerebegan (sedang 
kebetulan pulang ke kota kelahiran saya itu). Melihat lokasi peristiwa, saya 
segera bisa menyimpulkan betapa ANTV memperoleh privelege sangat besar dalam 
liputan itu. Dan segera pula muncul pertanyaan di kepala saya: apa yang telah 
dan akan diberikan oleh ANTV kepada pihak kepolisian sebagai imbalannya?

Rumah "sarang teroris" terletak di pinggir jalan utama yang menghubungkan 
Wonosobo dengan kota-kota lain seperti Temanggung, Magelang, dan Purworejo. 
Bus-bus besar jurusan Purwokerto-Wonosobo -Semarang melewati jalan itu.

Mobil studio-mini ANTV (lengkap dengan satelit) persis parkir di seberang 
jalan, yang membuat stasiun televisi ini paling strategis mengarahkan kamera ke 
rumah kecil tanpa pagar itu. Mobil itu sudah datang pada malam hari ketika 
banyak wartawan cetak dan stasiun televisi lain masih terlelap.

Bahkan jika para wartawan lain tahu, mereka takkan bisa memperoleh gambar yang 
sama, sebab jalan dari arah Magelang maupun dari arah Wonosobo sudah diblokir 
sejak malam hari. Dan segera setelah penggerebegan usai, rumah itu tak hanya 
dikelilingi "police line" tapi dipagari dengan tripleks tinggi, tidak 
memungkinkan wartawan yang datang kemudian memiliki pandangan bebas ke rumah 
itu, apalagi memasukinya.

Sebuah kerjasama yang manis antara satu stasiun televisi dan aparat kepolisian: 
gambar eksklusif dan berita besar. Angle kamera yang sempurna dan script cerita 
yang penuh drama. Benar-benar "reality show" yang menegangkan.

Jika semua mulus, berita penggerebegan itu akan menjadi berita terbesar 
sepanjang hari dan keesokan harinya. Tapi, sayang, di luar kendali mereka, 
marak kerusuhan besar di Tuban yang membuat berita Wonosobo ini tidak terlalu 
menonjol.

Bagaimanapun, sekali lagi, ANTV dan Karni telah berhasil menunjukkan kekuatan 
scoop dan gambar yang eksklusif.

APA IMBALANNYA?

Meski mendapat liputan eksklusif, ANTV dan Karni Ilyas kehilangan daya kritis 
terhadap obyek liputannya. Itu merupakan keniscayaan (atau konsekuensi logis) 
dari metode jurnalisme yang mereka terapkan.

Sangatlah bisa dipahami jika setiap media, setiap stasiun televisi, berusaha 
mendapatkan liputan eksklusif. Kebutuhan seperti ini terutama mencolok di era 
ketika media makin menjadi industri, ketika persaingan mengeras dan ketika 
rating menjadi sesembahan baru.

Salah satu cara paling ampuh dalam mendapatkan eksklusivitas adalah memelihara 
hubungan baik dengan "insider" (orang dalam) serta mengail bocoran darinya. Dan 
dalam soal seperti ini, Karni memang istimewa. Dia sudah menunjukkan 
reputasinya ketika menjadi redaktur hukum Majalah Tempo, ketika membesarkan 
Majalah Forum (Keadilan), ketika di SCTV dan ketika kini di ANTV.

Tapi, hubungan baik dengan insider tidaklah gratis; harus ada yang dibayarkan, 
harus ada yang direlakan: obyektifitas serta daya kritis.

EMBEDDED-JOURNALISM

Sesungguhnya, liputan ANTV tentang "penggerebegan teroris" di Malang dan 
Wonosobo menggunakan praktek embedded-journalism (atau jurnalisme-melekat) .

Meski sedikit lebih canggih, ini tak ada bedanya dengan praktek wartawan Buser 
atau Sergap yang kadang ikut rombongan polisi menggerebek cafe atau tempat 
perjudian.

Tak jauh beda pula dengan para wartawan yang ikut rombongan Presiden Susilo 
Bambang Yudhoyono dalam lawatan-lawatan ke luar negeri, atau wartawan CNN dan 
FOX TV yang meliput konflik di Irak dari sudut pandang tentara Amerika.

Embedded-journalism kadang tak terhindarkan. Namun, ada beberapa hal yang perlu 
dipertimbangkan masak sebelum melakukannya:

1. Kita tidak semestinya mencantolkan diri pada salah satu pihak yang terlibat 
dalam konflik, atau pada pihak yang punya kepentingan terhadap suatu 
perkara/liputan.

2. Eksklusivitas dan keamanan saja tidak bisa menjadi dalih bagi wartawan untuk 
mencantol kepada salah satu pihak yang punya kepentingan dalam sebuah perkara. 
Dalih tetap harus diletakkan pada kepentingan publik untuk mendapat informasi 
yang lengkap dan berimbang.

3. Jika embedded-journalism tak bisa dihindari, wartawan perlu membuat 
serangkaian mekanisme yang menjamin agar liputan sepihak ini bisa 
dinetralisasikan dan dibuat imbang.

4. Jika embedded-journalism tak bisa dihindari, dan keberimbangan sulit 
diterapkan, wartawan perlu membuat disclosure sejelas-jelasnya bahwa liputan 
yang dibuat dengan teknik embedded itu memang liputan sepihak sehingga pembaca 
atau pemirsa tahu persis posisi liputan itu, yang memang tidak dimaksudkan 
sebagai liputan berimbang.

LIPUTAN DI WONOSOBO

Kembali ke liputan ANTV di Wonosobo, yang pertama-tama dilupakan stasiun 
televisi itu adalah bahwa polisi bukanlah pihak yang netral dalam kasus 
terorisme.

o Polisi menjadi satu pihak yang bertikai dalam "war on terror"

o Polisi punya kepentingan untuk memamerkan sukses dalam "perang melawan teror"

o Datasemen anti-teror memperoleh sumbangan dana signifikan dari Pemerintah 
Amerika

o Beberapa perwira tinggi kepolisian desperate untuk mengalihkan perhatian dari 
sorotan tuduhan korupsi yang dialamatkan kepada mereka.

o Aparat kepolisian punya kepentingan untuk membuat Abu Bakar Baasyir tetap 
berada dalam penjara, meski keterlibatannya dalam aksi teror tidak terbukti 
dalam pengadilan. Setiap ada perdebatan tentang pelepasan Baasyir, yang disebut 
imam Jemaah Islamiyah, hampir selalu disertai munculnya pola yang khas: 
penangkapan dan pengegrebekan "teroris".

KEJANGGALAN DAN MISTERI

Kecuali ANTV, tidak ada wartawan lain (termasuk saya), yang punya posisi dan 
akses yang bagus dalam liputan ini. Tapi, sejauh yang bisa saya lihat dari 
rekaman liputannya, bahkan ANTV tak bisa masuk ke rumah sarang teroris, apalagi 
mengetahui kejadian sebenarnya di dalam rumah itu ketika terjadi penggerebegan 
(posisi kamera ANTV hanya di seberang jalan).

Bagaimanapun sudah jelas ANTV memiliki posisi dan akses yang paling bagus dalam 
liputan ini dibanding wartawan manapun. Namun menurut saya mereka gagal dalam 
meliputnya secara komprehensif (apalagi berimbang), sehingga menyisakan 
sejumlah kejanggalan dan misteri tak terjawab.

1. SEBERAPA SIGNIFIKAN PERISTIWA INI?

Dari dua teroris yang terbunuh dan dua lainnya yang ditangkap, tidak satu pun 
ada dalam poster buron polisi yang disebarluaskan di seantero Indonesia (akhir 
pekan ini saya ada di Padang dan melihat poster-poster polisi itu di Bandara 
Internasional Minangkabau) .

2. BENARKAH ADA BAKU TEMBAK?

Meski narasi presenter ANTV mengatakan telah terjadi tembak-menembak pada saat 
penggerebegan, rekaman liputan langsung ANTV itu sendiri, sejauh yang saya 
putar berulangkali, tidak menunjukkan ada perlawanan dari dalam rumah.

Beberapa hari setelah penggerebegan, Koran Tempo menulis berita yang meragukan 
adanya baku-tembak. Orangtua salah satu tersangka yang tewas mengatakan kepada 
koran itu tentang kejanggalan serius: tidak ada bekas luka tembak pada jenazah 
anaknya.

Hampir sama kasusnya dengan Azahari, gembong teroris yang dikatakan meledakkan 
diri, tapi menurut adik kandungnya, utuh tubuhnya dan hanya ada satu tembekan 
yang tepat mengenai jantungnya.

3. MUSTAHILKAH MENANGKAP TERORIS HIDUP-HIDUP?

Menangkap hidup tersangka teroris sangat penting untuk proses pengadilan yang 
bisa mengungkap misteri gerakan terorisme selama ini. Tapi, Kapolri mengatakan 
mereka adalah para teroris berbahaya yang harus digerebeg dengan kekerasan, 
yang tak terhindarkan menyebabkan kematian para tersangka.

Keterangan Kapolri kurang masuk akal dilihat dari pernyataan polisi yang lain.

Pejabat kepolisian mengatakan telah memonitor rumah itu selama beberapa pekan 
(bahkan tiga bulan). Berita di beberapa koran juga menunjukkan, kepolisian 
mengaku sudah tahu jauh hari sebelumnya bahwa memang tidak ada Noordin Top ada 
di rumah itu.

Rumah itu bersebelahan dengan rumah yang ditempati agen Bus Damri. Tak ada 
pagar yang memisahkan dua rumah sebelah-menyebelah itu. Sugiyono, salah satu 
karyawan agen Damri, mengatakan sudah lama mengenal para penghuni rumah 
"teroris". Sugiyono juga mengaku sering masuk rumah itu untuk meminjam WC dan 
kamar mandi para "teroris". Mudah untuk menyimpulkan bahwa ini rumah yang 
terbuka bahkan bagi orang asing.

Bukankah dengan metode sederhana, polisi bisa menyelundupkan orang ke situ dan 
membekuk "para teroris" hidup-hidup?

4. MENGAPA TIDAK DIBEKUK MALAM HARI?

Kamar yang sering diinapi Sugiyono terletak di lantai dua agen Bus Damri. Kamar 
ini merupakan tempat yang strategis untuk menembak serta melempar granat dan 
gas airmata ke rumah sebelah. Sehari sebelum penggerebegan, polisi meminta 
Sugiyono pergi. Beberapa anggota datasemen anti-teror menggantikan posisinya.

Bukankah polisi bisa menggerebeg rumah itu pada malam hari dan membekuk para 
penghuninya dengan potensi kematian minimal? Bukankah polisi punya peralatan 
infra-merah yang canggih?

Tapi jelaslah kamera ANTV tak bisa bekerja di malam gelap. Penggerebegan 
dilakukan setelah matahari terbit sehingga ANTV bisa meliputnya secara "live". 
Sekali lagi, sebuah sajian "reality show" yang sempurna.

KESIMPULAN

ANTV mendapatkan gambar eksklusif tapi lupa akan kewajibannya untuk meliputnya 
secara komprehensif, kehilangan daya kritis untuk mempertanyakan kejanggalan, 
dan bahkan (mudah-mudahan saya keliru) terjebak dalam konspirasi bersama polisi 
untuk menyesatkan publik dalam kasus terorisme ini.

ANTV mendapatkan liputan eksklusif yang sangat dibutuhkan untuk menancapkan 
posisinya di tengah persaingan ketat stasiun televisi. Tapi, siapakah yang 
membayar?

Pada sore hari setelah pengerebegan, ANTV mencoba membuat liputan lebih 
komprehensif, dengan menyertakan kilas-balik aksi teror di Indonesia. Tujuannya 
barangkali memberi konteks pada peristiwa pagi harinya. Namun, konteks yang 
diberikan inipun tetap one-sided, yakni cerita terorisme versi polisi (yang 
sebagian besar "unverified" atau "yet-to-be-verified ").

Semua tersangka di rumah itu dikatakan terlibat dalam berbagai aksi teror yang 
terpisah-pisah dan dalam periode yang berbeda (Bom Marriot, Bom Kuningan, Bom 
Natal), namun kini dibingkai dalam sebuah simpul yang satu: Noordin M. Top 
(dulu Azahari).

Melihat liputan sore ANTV itu, para pemirsa digiring untuk memahami dan 
mengerti kenapa polisi "terpaksa" mengeksekusi mati para tersangka teroris 
tanpa pengadilan. Pemirsa juga diajak untuk tidak punya perasaan dan empati 
terhadap keluarga orang-orang yang disangka (belum terbukti) teroris ini.

Salah satu yang ditangkap sehari-hari berjualan jagung rebus, beranak empat, 
satu diantaranya lumpuh.* 

 



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke