Politik
 
      
15/08/2009 - 17:30
 
Misteri Palu Soeharto & Indonesia Raya
Shinta Sinaga



Soeharto & SBY
(inilah.com)
INILAH.COM, Jakarta - Rasa malu menyelimuti tatkala lagu kebangsaan Indonesia 
Raya lupa dikumandangkan sebelum SBY pidato. Namun insiden bukan cuma sekadar 
insiden. Ada rahasia alam di balik setiap peristiwa. Seperti halnya palu patah 
yang diiringi lengsernya Soeharto.
Sedianya Indonesia Raya berkumandang setelah Presiden SBY memasuki ruang sidang 
paripurna DPR di Gedung DPR pada Jumat 14 Agustus 2009. Namun yang berkumandang 
justru Mengheningkan Cipta. Setelah itu SBY membacakan pidato kenegaraan 
menyambut HUT ke-64 RI.
Usai SBY berpidato, kealpaan itu diprotes anggota FPDIP Panda Nababan. Ketua 
DPR Agung Laksono mengaku khilaf dan menyatakan bukanlah suatu kesengajaan. 
Akhirnya Indonesia Raya berkumandang. Barulah kemudian SBY meninggalkan ruangan.
Saling tuding siapa yang salah pun terjadi. Agung dituding tidak fokus. 
Sedangkan Agung mengarahkan telunjuk pada Sekjen DPR Nining Indrasaleh. Nining 
meminta maaf. Namun sang MC yang malah menjadi kambing hitam.
Namun ada yang luput dari perhatian di samping mengusut siapa sebenarnya yang 
paling bersalah. Kejadian yang tak lazim biasanya mengandung rahasia alam. 
Setidaknya begitulah dalam pandangan supranatural Taufik Kindy.
"Ini adalah sebuah rahasia alam. Kejadian itu bukan sekadar lengsernya 
peradaban, tapi lebih dari itu. Bisa saja Indonesia berganti nama," katanya 
kepada INILAH.COM di Jakarta.
Meski Kindy tak merinci kejadiannya, tapi tahun 2009 adalah puncaknya. Secara 
garis besar nama harfiah Indonesia itu akan sirna. Kepunahan Indonesia terjadi 
awal 2010. Setelah itu Indonesia akan lahir kembali, menjadi negara yang maju 
dan lebih baik di bawah pemimpin bijaksana.
Insiden lupa lagu itu pun dinilai Kindy mirip insiden palu patah. "Itu bukti 
kejadian tak biasa. Pertanda sesuatu luar biasa akan terjadi. Sambutan 
Mengheningkan Cipta untuk SBY mirip palu patah sebelum Pak Harto lengser zaman 
Orba," kata dia.
Sulit masuk di akal soal rahasia alam? Harmoko punya jawaban berdasarkan 
pengalamannya. Ketua MPR/DPR yang mengetukkan palu dan patah 11 tahun lalu ini 
mengaku menyadari isyarat alam jatuhnya Soeharto.
Kala itu berlangsung Sidang Paripurna MPR/DPR pada 11 Maret 1998 silam. Harmoko 
mengetukkan palu untuk memutuskan Soeharto resmi sebagai presiden yang 
ketujuhkalinya. "Begitu palu sidang saya ketukkan, kepala palu tiba-tiba patah 
dan terlempar ke depan," tutur Harmoko melalui buku berjudul 'Berhentinya 
Soeharto, Fakta dan Kesaksian Harmoko' yang ditulis Firdaus Syam.
Harmoko langsung meminta maaf kepada Soeharto. Namun Harmoko tetap berfirasat 
akan terjadi sesuatu. Firasat itu menjadi nyata. Tepat 70 hari setelah insiden 
palu patah, Soeharto lengser. Kepala palu yang patah ternyata merupakan 
pertanda patahnya perjalanan Soeharto sebagai kepala negara.
Rahasia alam maupun isyarat alam di balik setiap peristiwa juga diyakini oleh 
politisi yang juga paranormal Permadi. Insiden lupa lagu di era SBY merupakan 
suatu pertanda. Apalagi lagu Mengheningkan Cipta sebenarnya ditujukan untuk 
mengenang arwah para pahlawan yang telah tiada.
"Kalau saya SBY, saya sangat tersinggung. Masak saya masih hidup disamakan 
dengan arwah. Ya itu kan dulu juga sudah ditunjukkan Yang Maha Kuasa, waktu SBY 
di Istana dikerubungi lalat," ujar Permadi kepada INILAH.COM seraya 
mengingatkan insiden SBY dihinggapi lalat saat syuting selamat mencontreng 
Pilpres 2009 di Istana Negara 7 Juli lalu.
Arti lain dari insiden tersebut, menurut mantan politisi PDIP ini, adalah SBY 
tak lagi dianggap sebagai presiden. Sebab biasanya presiden selalu disambut 
dengan lagu Indonesia Raya dalam setiap momen resmi. Namun Tuhan telah menutup 
mata semua anggota DPR sehingga insiden itu terjadi.
"Ini kehendak Tuhan. Pimpinan DPR menganggap SBY sudah demisioner, jadi tidak 
usah disambut dengan Indonesia Raya. Hanya presiden yang disambut dengan 
Indonesia Raya. Kalau begitu ini juga bermakna SBY dianggap bukan presiden," 
kata Permadi.
Jika misteri palu patah telah terjawab dengan lengsernya Soeharto 70 hari 
kemudian, lalu apa jawaban untuk misteri lupa Indonesia Raya dan justru 
Mengheningkan Cipta yang berkumandang? Sejarawan UI JJ Rizal menganggapnya 
sebagai pertanda telah lupanya DPR dan pemerintah terhadap rakyatnya.
"Kalau lagu kebangsaan saja tidak diingat, bagaimana dengan anak bangsanya. 
Inilah akibatnya bila sebuah kekuasaan di suatu negara dimulai dengan membunuh 
jutaan hak rakyat pada pemilu lalu. Ini persis seperti masa kolonial saat 
masyarakat kita tidak ada harganya. Masyarakat itu dinilai hanya sebagai angka 
statistik belaka," cetusnya.
Apapun rahasia maupun isyarat alam yang disampaikan, ada baiknya introspeksi 
segera dilakukan. Yang jelas, insiden lupa Indonesia Raya terjadi saat elit 
politik sibuk bagi-bagi jatah kue kekuasaan dan kursi parlemen. Jika insiden 
itu dianggap sangat memalukan, bisa jadi memang karena ada sesuatu yang lebih 
memalukan lagi di baliknya yang harus segera diperbaiki, sambil menanti jawaban 
misteri. [sss]


Terhubung langsung dengan banyak teman di blog dan situs pribadi Anda? 
Buat Pingbox terbaru Anda sekarang!
















      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke