From: Pandji R Hadinoto, www.pkpi.co.cc <[email protected]>
Cc: "Pandji R Hadinoto PKPI" <[email protected]>
Date: Wednesday, August 19, 2009, 4:09 PM


  









Citizen Journalism
18/08/2009 – 15:09
Seruan ‘Lanjutkan!’ SBY, Kesalahan atau Sengaja?



Ada tradisi yang berubah di ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke-64 
Indonesia. Pertama, pengajuan jadwal pidato kenegaraan presiden di sidang 
paripurna DPR RI, yang biasanya disampaikan pada 16 Agustus kini menjadi 14 
Agustus. Kedua, sidang paripurna yang selama ini diawali dengan menyanyikan 
lagu kebangsaan Indonesia Raya diubah dengan langsung mengheningkan cipta.
Ketiga, mantan presiden tidak pernah lagi hadir dalam upacara peringatan 
kemerdekaan di Istana Negara. Keempat, seruan ‘Laksanakan!’ saat inspektur 
upacara menerima laporan komandan upacara kini diganti dengan kata “Lanjutkan!” 
Mungkin akan ada tradisi baru lainnya, mari kita sebagai warga negara mengikuti 
episode-episode lanjutannya.
Adakah yang salah dengan seruan ‘Lanjutkan!’? Sungguh tidak ada yang salah sama 
sekali ketika inspektur upacara menyeru ‘Lanjutkan!’ pada saat upacara. Dan 
sederhananya komandan upacara tinggal menjawab ‘Siap lanjutkan!’, bukan 
mengatakan ‘Siap laksanakan!’
Namun perubahan tradisi itu menjadi sebuah ‘komedi’ Indonesia baru, ketika yang 
mengatakan adalah seorang Presiden SBY, yang pada saat kampanye pemilihan 
presiden selau menggunakan slogan ‘Lanjutkan!’ untuk kampanye. Setidaknya, 
aroma kampanye menjadi terasa dalam upacara kenegaraan.
Apakah SBY masih belum yakin terpilih menjadi presiden periode 2009-2014, 
sehingga harus terus melakukan kampanye saat memimpin upacara peringatan 
kemerdekaan di Istana Negara?
Saya yang kebetulan datang pada saat upacara penurunan bendera di Istana sempat 
kaget dengan jawaban ‘Lanjutkan!’ itu. Dan yang lebih mengagetkan, sebagian 
tamu undangan memberkan apresisasi dengan tepuk tangan. Sebuah pemakluman, 
penghargaan atas ketidakbiasaan ini? Ataukan tepuk tangan itu berarti 
persetujuan untuk penggantian seruan tersebut? Sebuah pertanyaan yang masih 
belum saya temukan jawabannya.
Dalam kebingungan mendengar seruan ‘Lanjutkan!’, saya bergumam lirih: “Kemarin 
DPR salah, sekarang presiden yang salah.” Ternyata seorang penjaga stand 
pembagian souvenir mengatakan, “Nggak salah Pak. Kalau salah, ya tidak mungkin 
dua kali.”
Saya pun menenggok dan menanyakan maksudnya. Ternyata pada saat upacara 
pengibaran juga dikatakan ‘Lanjutkan!’, artinya ini bukan suatu 
ketidaksengajaan, tapi jelas kesengajaan Presiden SBY mengatakan seruan itu.
Sejauh pengalaman saya mengikuti upacara serupa, belum pernah saya mendengarkan 
seruan ‘Lanjutkan!’ seperti itu. Dan komandan upacara, seingat saya tetap 
mengatakan ‘Siap laksanakan!’, yang artinya memang ini adalah surprise untuk 64 
tahun Indonesia merdeka.
Obrolan dengan dua orang penjaga stand berlanjut dan mereka mengatakan kurang 
pas bila presiden mengganti istilah ‘Laksanakan!’ dengan ‘Lanjutkan!’, apalagi 
karena istilah itu adalah slogan saat kampanye kemarin. “Nggak tahulah Pak, 
terserah mereka saja,” begitu jawaban mereka. “Sebenarnya, ya kurang pas, 
karena kata itu adalah slogan saat kampanye.”
Ini dapat diartikan dalam dua kemungkinan, yaitu Pak SBY sebenarnya belum yakin 
atas kemenangan yang diperolehnya, atau Pak SBY mulai sombong. Benarkah 
demikian? Dalam hati, saya tidak yakin Pak SBY sombong, karena beliau selalu 
santun dalam bertutur kata selama ini. Tapi kalau Pak SBY belum yakin atas 
kemenangannya, kenapa harus tidak yakin sementara MK sudah memutuskan?
Menurut pemikiran saya, pastilah ada ‘pembisik’ yang bodoh, konyol, dan iseng, 
tetapi mampu mempengaruhi Pak SBY untuk menggunakan kata ‘Lanjutkan!’ dalam 
upacara kenegaraan.
Kalau Ketua DPR Agung Laksono sudah meminta maaf atas kekeliruan dalam sidang 
paripurna kemarin, akankan Presiden SBY merasa bersalah dan perlu meminta maaf? 
Biarkan alam membimbing dengan caranya!
Suryokoco Adiprawiro
suryokocolink@ yahoo.co. id
















      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke