Duduk soalnya terletak pada "politik ekonomi RI" sesudah Bung Karno di coup 
oleh TNI-AD di bawah pimpinan Komandan Kostrad Jendral Soeharto, yang sesuai 
dengan teori ekonomi para prof dan dosen ekonomi UI, khususnya teori "tickle 
down"-nya Prof Soemitro dan grup mafia Berkeley, tahun-tahun Bung Karno jadi 
Presiden RI di mana ditolak oleh Bung Karno dengan pidato 17 Agustus "Deklarasi 
Ekonomi" (Dekon).




  ----- Original Message ----- 
  From: Satrio Arismunandar 
  To: news Trans TV ; kampus tiga ; [email protected] ; HMI Kahmi 
Pro Network ; ppiindia ; technomedia ; jurnalisme ; AJI INDONESIA ; sastra 
pembebasan ; STUDENTS EMBA Bank Mega ; Forum Kompas ; Pers Indonesia ; Partai 
Hanura ; Indo Energy 
  Sent: Wednesday, August 19, 2009 17:05 PM
  Subject: [ppiindia] Nasionalisme Utang


    

    

  Merdeka!!! Uhm, Apa Kabar Utang?
  Pedy
  POLITIKANA.COM , Selasa, 4 Agu ‘09 12:54

  Gegap-gempita dan pekik merdeka sebentar lagi akan kembali membahana. 
Pidato-pidato heroik kepahlawanan akan mulai bergema. Makna dan semangat 
kemerdekaan akan kembali bersuara. Anak-anak akan mulai berlomba, para remaja 
pun bernyanyi bersuka ria. Sementara itu orang-orang tua dan para veteran akan 
mulai semangat bercerita.
  Di tengah hingar-bingar kegembiraan dan suka cita tersebut, diam-diam sebuah 
mesin politik yang sudah aus terus bekerja. Megap-megap dan terengah-engah. 
Tidak mampu mengendalikan kemiskinan, kemelaratan serta ketergantungan kepada 
pihak luar. Ya, ditengah pekik merdeka dan pidato patriotik tentang kemandirian 
dan kemerdekaan, kontrak-kontrak tidak adil terus dilanjutkan, SDA kita pun 
terus tergadaikan, serta ketergantungan terhadap asing pun terus dilestarikan.
  Diantaranya, hutang-hutang baru terus dibuat, bahkan terus meningkat 
berlipat-lipat. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang 
Departemen Keuangan, pada tahun 2000 utang RI adalah 1234 trilyun rupiah, lalu 
tahun 2004 utang RI naik menjadi 1300 trilyun, dan pada bulan Maret 2009 naik 
menjadi 1700 trilyun rupiah. Bung Bambang BU dalam artikelnya Utang Terbesar RI 
ada di 5 tahun terakhir ini, menyebutkan:

  Jika dibandingkan utang RI tahun 1998 (238 trilyun) maka utang RI Maret 2009 
berlipat 7 kali lipat! 7 kali lipat lebih parah dari 32 tahun ORBA! Bahkan 
kalau mau yang dilihat cuma yang 400 trilyun saja (yang dihutang di 5 tahun 
terakhir) itu pun masih lebih besar dari utang hasil ORBA yang cuma 238 trilyun.
  Pada gilirannya, membayar cicilan dan bunga utang tadi akan mencekik rakyat 
karena mengambil porsi besar dari APBN, serta bisa menguras cadangan devisa. 
Sungguh ironis, di bulan Agustus yang bernuansakan kemerdekaan, kemandirian, 
dan anti penjajahan ini, pemerintah dalam RAPBN 2010 justru menaikkan pos 
pembayaran beban utang, bahkan lebih besar dibandingkan anggaran pembangunan 
infrastruktur:

  Beban bunga utang pemerintah dalam anggaran negara kian membengkak dan 
membebani rakyat. Pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 
2010, beban utang ditetapkan 115,6 triliun rupiah, meningkat dibandingkan pada 
2009 sebesar 101 triliun rupiah. Jumlah tersebut lebih besar dibandingkan 
anggaran pembangunan infrastruktur RAPBN 2010 sebesar 93 triliun rupiah.
  Padahal tidak sedikit studi-studi yang mengkaitkan utang sebagai alat 
imperialisme atau penjajahan modern. Studi pertama yang secara khusus melakukan 
hal itu adalah yang dilakukan oleh Teresa Hayter. Berangkat dari hasil 
penelitiannya yang dibiayai Bank Dunia pada tahun 1970 di empat negara Amerika 
Latin, Columbia, Chile, Brazil, dan Peru. Hayter kemudian mem-publish hasil 
risetnya dalam sebuah buku dengan judul Aid as Imperialism.
  Hayter secara tegas menyimpulkan bahwa utang luar negeri pada dasarnya 
bukanlah transfer sumber daya yang bebas persyaratan. Menurut Hayter, hal-hal 
yang dipersyaratkan dalam pemberian utang luar negeri meliputi: Pertama, 
pembelian barang dan jasa dari negara pemberi pinjaman. Kedua, peniadaan 
kebebasan dalam melakukan kebijakan ekonomi tertentu, misalnya, nasionalisasi 
perusahaan asing. Dan ketiga, permintaan untuk melakukan kebijakan-kebijakan 
ekonomi “yang dikehendaki”, terutama peningkatan peran sektor swasta dan 
pembatasan campur tangan langsung pemerintah dalam bidang ekonomi.
  Berbagai studi lain juga meng-confirm temuan Hayter, seperti yang ditulis 
oleh Hudson (2003), dalam bukunya Super Imperialism: The Origin and 
Fundamentals of US World Dominance, menyebutkan bahwa tujuan pemberian pinjaman 
oleh Amerika sejak 1960 memang tidak dimaksudkan untuk membantu negara-negara 
penerima pinjaman, melainkan untuk meringankan tekanan terhadap neraca 
pembayaran negara tersebut. Kebijakan itu erat kaitannya dengan upaya 
pemerintah Amerika untuk mensubsidi peningkatan ekspor berbagai barang dan jasa 
mereka ke seluruh penjuru dunia.
  Bukti mutakhir utang sebagai salah satu instrumen penjajahan modern, 
dibeberkan oleh John Perkins (2004) dalam bukunya yang fenomenal dan 
kontroversial, Confessions of an Economic Hit Man. Buku ini seperti melengkapi 
dan menguatkan argumen para peneliti sebelumnya, karena Perkins mengaku mantan 
“orang dalam” yang berprofesi sebagai economic hit men, dengan misi berikut:

  Economic hit men (EHMs) are highly paid professionals who cheat countries 
around the globe out of trillions of dollars. They funnel money from the World 
Bank, the U.S. Agency for International Development (USAID), and other foreign 
“aid” organizations into the coffers of huge corporations and the pockets of a 
few wealthy families who control the planet’s natural resources. Their tools 
included fraudulent financial reports, rigged elections, payoffs, extortion, 
sex, and murder. They play a game as old as empire, but one that has taken on 
new and terrifying dimensions during this time of globalization.
  Setelah para EHM berhasil menggolkan pinjaman tersebut, tugasnya selanjutnya 
adalah memberikan proyek atau tender raksasa membangun infrastruktur negara 
seperti pembangkit listrik, pelabuhan, airport, industri minyak, sebagai 
skenario pembelanjaan hutang tadi, kepada korporasi-korporasi besar AS. Kita 
bisa membayangkan besarnya keuntungan yang diperoleh korporasi tersebut dengan 
memenangkan tender sebuah negara! Apalagi, baik perusahaan multinasional atau 
bank yang memberikan pinjaman, sebenarnya dimiliki oleh pihak yang sama. Ini 
artinya uang triliunan dolar yang dipinjamkan sebenarnya hanya “berpindah” dari 
rekening sebuah bank swasta di Washington, ke rekening sebuah bank perusahaan 
konstruksi di New York. Bank tersebut mendapatkan keuntungan dari bunga hutang, 
sedangkan perusahaan konstruksi mendapatkan keuntungan dari proyek 
infrastruktur negara tadi, dan pemerintah AS mendapat keuntungan dari “upeti” 
pajak.
  Kalau sudah seperti ini, utang ribuan triliun tadi sebenarnya untuk siapa? 
Rakyat banyak atau segelintir rezim? (Perkins menyebutnya rezim korporatokrasi; 
sebuah simbiosis mutualisme antara politisi dan konglomerat) . Jangan-jangan, 
utang triliunan rupiah tadi adalah utang najis, menurut istilah Bang Sony 
(Revrisond Baswir), atau odious debt, menurut istilah Alexander Nahum Sack; 
yakni utang milik rezim yang despotik, dimana utang tersebut digunakan untuk 
memperkuat kekuasaan rezim yang lalim tersebut. Maka bukan menjadi kewajiban 
rakyat untuk membayarnya.
  Sayup-sayup pekik merdeka masih terdengar. Begitu pula pidato para pejabat 
tentang semangat kemerdekaan dan kebebasan dari segala bentuk penjajahan. 
Anak-anak pun berlomba makan krupuk dan lari karung dengan riang gembira. Para 
remaja masih asyik terbuai oleh alunan musik dan lagu yang mereka nyanyikan di 
atas panggung 17-an. Sementara itu para veteran berbicara dengan mata berbinar 
tentang perjuangan dan pengorbanan mereka. Pada saat yang sama, entah dimana, 
para politisi busuk tengah angkat gelas dan toast dengan para EHM merayakan 
kemenangan mereka.

  Terhubung langsung dengan banyak teman di blog dan situs pribadi Anda? 
  Buat Pingbox terbaru Anda sekarang!

  __________________________________________________
  Do You Yahoo!?
  Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
  http://mail.yahoo.com 

  [Non-text portions of this message have been removed]



  

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke