Majelis Mujahidin: Penggerebekan di Jatiasih Rekayasa Pemerintah
Rabu, 19 Agustus 2009 | 15:25 WIB
TEMPO Interaktif, Yogyakarta -  Drama penggerebegan rumah yang diduga sarang 
teroris di Perumahan Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat pada 7 Agustus 2009 lalu 
dinilai Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) sebagai bentuk rekayasa pemerintah. 
MMI juga menegaskan, bahwa dua orang yang diduga residivis teroris asal Solo, 
yakni Air Setiawan dan Eko merupakan korban salah bunuh. Pasalnya, hingga saat 
ini belum ada bukti-bukti kuat yang menunjukkan bahwa temuan ratusan kilogram 
bahan peledak di Jatiasih digunakan untuk melakukan pengeboman di kediaman 
Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono di Puri Cikeas, Bogor.

“Penggerebegan itu rekayasa pemerintah karena paranoid dengan teroris. Yang 
terjadi justru salah tangkap, salah tembak, dan salah bunuh,” kata Ketua MMI 
Irfan S. Awwas di kantor MMI di Yogyakarta, Rabu (19/8).

Menurut Irfan, pernyataan Kapolri bahwa rumah presiden sebagai sasaran 
pengeboman berikutnya terlalu mengada-ada, karena penjagaan keamanan di sana 
semestinya superketat. Bahkan yang dikabarkan akan melakukan adalah Air dan Eko 
yang notabene adalah anak-anak muda. Keanehan lainnya, posisi Air dan Eko pada 
Jumat pagi masih berada di rumahnya di Solo, tapi pada Jumat sore dikabarkan 
polisi telah berada di Jatiasih. “Air dan Eko ini korban,” kata Irfan lagi.

Akibatnya saat ini, menurut Irfan adalah munculnya keresahan masyarakat 
lantaran isu-isu terorisme dikait-kaitkan dengan isu agama, dalam hal ini 
Islam, sehingga pemerintah terlihat bersikap diskriminatif. Seperti pernyataan 
Pangdam IV Diponegoro Mayjen Haryadi Soetanto (Senin, 17/8) yang dinilai 
bernada SARA karena mengatakan, bahwa jika ada orang asing yang memakai sorban, 
jubah, dan berjenggot, maka masyarakat diminta melaporkan kepada pihak 
keamanan. Juga sikap Detasemen Khusus Antiteror 88 yang melarang anak-anak 
untuk mengikuti pengajian karena dikhawatirkan menjadi obyek rekruitmen 
teroris. “Densus 88 sudah over acting!” tandas Irfan.

Semestinya, isi pidato Presiden SBY pada 15 Agustus 2009 yang mengatakan, bahwa 
akar terorisme adalah kemiskinan, keterbelakangan, dan ketidakadilan itu 
ditegaskan dengan keseriusan pemerintah untuk menanggulangi ketiga persoalan 
itu. Bukan malah menjadikan agama sebagai isu terorisme. MMI menilai perilaku 
teroris di Indonesia masih dilatarbelakangi oleh kebencian mereka terhadap 
Amerika Serikat. “Janganlah kinerja lima tahun SBY ini diawali dengan kinerja 
pemerintahannya yang diskriminatif,” tandas Irfan.

Terkait upaya pemerintahan SBY untuk memberantas terorisme yang dinilai MMI 
gagal, maka MMI menuntut DPR RI untuk memanggil Presiden dan Kapolri untuk 
mempertanggungjawabkannya. MMI juga menantang diadakannya debat terbuka antara 
pemerintah dan para petinggi intelijen terkait terorisme. Pasalnya, isu-isu 
tersebut selama ini hanya ditanggapi secara sepihak dari pemerintah. “MMI sudah 
mengirim surat ke Hendropriyono (mantan Kepala BIN) untuk mengajak debat,” kata 
Irfan.
 


 
















      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke