Beberapa tahun lalu (2003?) anggota MMI pernah terlibat penyerangan pos polisi 
di sebuah desa dekat kota Piru di pulau Ceram. 5 orang polisi  asal Kalimantan 
mati ditembak waktu sedang tidur.  

Sejalan dengan  kejadian ini bataljon gabungan TNI  melakukan pengeledakan pada 
STAIN di Karang Panjang di kota Ambon. Pengeledakan ini dilakukan karena salah 
seorang MMI yang terlibat dalam penyerangan di Piru itu tertangkap. Dalam 
pengeledakan terbukti salah satu ruang bangunan STAIN adalah gudang senjata 
MMI. 

Buru-buru rektor STAIN  bernama Atamimi minggat ke Jakarta, mungkin untuk 
konsultasi dengan penguasa tertinggi. Atamini tidak ditahan karena ruang gedung 
sekolah dipakai untuk gudang senjata. Begitu pula para pelaku pembunuhan polisi 
tidak terdengar kabar  apapun apakah mereka  diajukan ke pengadilan dan dihukum.

Banyak contoh terorisme di Indonesia yang kalau dilihat seperti adanya 
permainan antara kaum berkuasa. Mereka bermain sambil sembunyi tangan. Anak 
buah mereka bertugas serdadu serdadu lapangan  dengan bendera agama untuk 
melakukan pekerjaan kotor.  




  ----- Original Message ----- 
  From: Satrio Arismunandar 
  To: news Trans TV ; kampus tiga ; [email protected] ; 
[email protected] ; HMI Kahmi Pro Network ; ppiindia ; nasional list ; 
jurnalisme ; sastra pembebasan ; Syiar Islam 
  Sent: Thursday, August 20, 2009 11:33 AM
  Subject: [nasional-list] Majelis Mujahidin: Penggerebekan di Jatiasih 
Rekayasa Pemerintah


    Majelis Mujahidin: Penggerebekan di Jatiasih Rekayasa Pemerintah
        Rabu, 19 Agustus 2009 | 15:25 WIB 

        TEMPO Interaktif, Yogyakarta -  Drama penggerebegan rumah yang diduga 
sarang teroris di Perumahan Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat pada 7 Agustus 2009 
lalu dinilai Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) sebagai bentuk rekayasa 
pemerintah. MMI juga menegaskan, bahwa dua orang yang diduga residivis teroris 
asal Solo, yakni Air Setiawan dan Eko merupakan korban salah bunuh. Pasalnya, 
hingga saat ini belum ada bukti-bukti kuat yang menunjukkan bahwa temuan 
ratusan kilogram bahan peledak di Jatiasih digunakan untuk melakukan pengeboman 
di kediaman Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono di Puri Cikeas, Bogor.

        “Penggerebegan itu rekayasa pemerintah karena paranoid dengan teroris. 
Yang terjadi justru salah tangkap, salah tembak, dan salah bunuh,” kata Ketua 
MMI Irfan S. Awwas di kantor MMI di Yogyakarta, Rabu (19/8).

        Menurut Irfan, pernyataan Kapolri bahwa rumah presiden sebagai sasaran 
pengeboman berikutnya terlalu mengada-ada, karena penjagaan keamanan di sana 
semestinya superketat. Bahkan yang dikabarkan akan melakukan adalah Air dan Eko 
yang notabene adalah anak-anak muda. Keanehan lainnya, posisi Air dan Eko pada 
Jumat pagi masih berada di rumahnya di Solo, tapi pada Jumat sore dikabarkan 
polisi telah berada di Jatiasih. “Air dan Eko ini korban,” kata Irfan lagi.

        Akibatnya saat ini, menurut Irfan adalah munculnya keresahan masyarakat 
lantaran isu-isu terorisme dikait-kaitkan dengan isu agama, dalam hal ini 
Islam, sehingga pemerintah terlihat bersikap diskriminatif. Seperti pernyataan 
Pangdam IV Diponegoro Mayjen Haryadi Soetanto (Senin, 17/8) yang dinilai 
bernada SARA karena mengatakan, bahwa jika ada orang asing yang memakai sorban, 
jubah, dan berjenggot, maka masyarakat diminta melaporkan kepada pihak 
keamanan. Juga sikap Detasemen Khusus Antiteror 88 yang melarang anak-anak 
untuk mengikuti pengajian karena dikhawatirkan menjadi obyek rekruitmen 
teroris. “Densus 88 sudah over acting!” tandas Irfan.

        Semestinya, isi pidato Presiden SBY pada 15 Agustus 2009 yang 
mengatakan, bahwa akar terorisme adalah kemiskinan, keterbelakangan, dan 
ketidakadilan itu ditegaskan dengan keseriusan pemerintah untuk menanggulangi 
ketiga persoalan itu. Bukan malah menjadikan agama sebagai isu terorisme. MMI 
menilai perilaku teroris di Indonesia masih dilatarbelakangi oleh kebencian 
mereka terhadap Amerika Serikat. “Janganlah kinerja lima tahun SBY ini diawali 
dengan kinerja pemerintahannya yang diskriminatif,” tandas Irfan.

        Terkait upaya pemerintahan SBY untuk memberantas terorisme yang dinilai 
MMI gagal, maka MMI menuntut DPR RI untuk memanggil Presiden dan Kapolri untuk 
mempertanggungjawabkannya. MMI juga menantang diadakannya debat terbuka antara 
pemerintah dan para petinggi intelijen terkait terorisme. Pasalnya, isu-isu 
tersebut selama ini hanya ditanggapi secara sepihak dari pemerintah. “MMI sudah 
mengirim surat ke Hendropriyono (mantan Kepala BIN) untuk mengajak debat,” kata 
Irfan. 




           
       



  

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke