http://ramadan.detik.com/read/2009/08/23/121245/1187941/626/jalan-menuju-surga

Minggu, 23/08/2009 12:12 WIB

Jalan Menuju Surga

Yuli Pujihardi - detikRamadan

Jakarta -Ini kisah nyata saat saya tengah bertugas piket melayani donatur, 
sebuah pengalaman yang membuat saya bergetar. Siang itu udara di luar kantor 
panas sekali.

Saking panasnya membuat pohon palem di depan kantor daunnya mulai nampak warna 
kuning di setiap pucuk daunnya. Tiba-tiba terlihat pasangan suami istri turun 
perlahan dari becak. Saya yang tengah piket waktu itu menyangka kedua orang tua 
itu pastilah akan meminta bantuan ke Dompet Dhuafa apalagi krisis ekonomi saat 
itu tengah melanda.

"Assalamualaikum, maaf merepotkan, boleh saya minta bantuannya Mas," suaranya 
terdengar perlahan.

Duh, benar dugaan saya. mereka datang  untuk minta bantuan.

"Silakan duduk Pak, Bu, apa yang kami bisa bantu ?"

"Saya ingin bayar zakat dari celengan yang saya punya, tolong bantu hitung 
zakat saya," jawabnya sambil menyerahkan bungkusan dari taplak putih yang mulai 
memudar warnanya.

Saya tercenung, merasa telah melakukan kesalahan. Mereka yang saya kira akan 
meminta bantuan malah membayar zakat. Dalam hati saya menangis, sudah 
berprasangka dan ternyata prasangka itu salah.

Dan yang lebih mengagetkan lag,i di atas celengan dekat lubang tempat memasukan 
uang, bertulis tangan 'jalan menuju surga'.

"Ini uang tabungan kami, yang kami sisihkan dari uang sisa setiap kami 
berbelanja,".

Dan Subhanallah, ketika dihitung jumlahnya mencapai Rp 4.760.000. Ada uang 
receh yang jumlahnya cukup banyak sekali. Hingga meja tepat kami menghitung tak 
cukup menampung.

Saya hanya bisa mendoakan agar sedekah yang ia tunaikan hari ini benar-benar 
menjadi jalan mereka memasuki surga.

"Semoga Allah memberikan pahala atas apa yang engkau telah berikan dan semoga 
Allah memberikan barokah atas apa yang masih tersisa," itulah bait doa yang 
saya panjatkan.

Hari itu saya belajar banyak hal. Pertama soal betapa prasangka itu, tidaklah 
benar. Saya yang menyangka pasangan suami itu tadinya adalah orang yang akan 
meminta bantuan, namun nyatanya ia malah muzakki yang dari dana zakatnya 
program-program kami dapat terwujud.

Kedua, jangan pernah melihat orang dari fisiknya saja. Yang disangka meminta 
malah membayar. Semoga Allah membuka hati ini terus-menerus untuk dapat 
menangkap kebaikan. Amin.

*)Yuli Pujihardi adalah Corporate Secretary & Resources Mobilization Dompet 
Dhuafa

(iy/iy) 



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke