http://www.rnw. nl/id/bahasa- indonesia/ article/
 
SBY Janjikan Transisi, Bukan Pro-Rakyat


Diterbitkan : 21 Agustus 2009 - 1:45pm | Oleh Aboeprijadi Santoso 
Diarsip dalam: 

Aboeprijadi Santoso
indonesia
pembentukan kabinet
SBY


Presiden terpilih Susilo Bambang Yudhoyono, dalam pidato penerimaan di 
Kemayoran,  menjanjikan transisi dengan membangun landasan ekonomi yang lebih 
kuat. 
Pada pidatonya SBY menyebutkan kebijakan pro-rakyat di sini bukan menjadi kunci 
bagi kesejahteraan bangsa, melainkan bagian dari pembangunan infra struktur 
dalam rangka pembaruan pertanian dan industri. Jika kabinet presidensiil yang 
akan disusunnya membuka pintu kepada semua pihak, maka
Pesta Kemenangan
Dengan semangat kemenangan, Partai Demokrat bersama para mitra koalisinya Kamis 
malam menggelar apa yang dapat disebut ‘pesta kemenangan’, dengan acara utama 
pidato presiden terpilih Susilo Bambang Yudhoyono. Perhelatan di Lapangan 
Jakarta International Expo, Kemayoran itu, membuka tradisi yang meniru Amerika, 
dengan mengakhiri rangkaian pemilu parlemen dan pilpres, dengan pidato 
penerimaan oleh presiden terpilih, yang dihadiri ribuan undangan.
Tiga Tataran
SBY menjanjikan: "Tekanan baru pada refitalisasi, dorongan baru untuk 
refitalisasi industri, guna menciptakan basis ekonomi yang lebih kokoh." SBY 
memaparkan perlunya membangun infra struktur pada tiga tataran:
 

Basis yaitu jalan, jembatan, pelabuhan, kereta api, irigasi dan telekomunikasi. 
Lunak yaitu iklim yang mendukung pengusaha,
Sosial yaitu kebijakan pro-rakyat yang langsung membantu kebutuhan rakyat 
paling lemah.
Semua itu, demikian SBY mengisyaratkan, demi meningkatkan pertumbuhan ekonomi 
dan kesejahteraan masyarakat
"Kita berharap investasi dan dunia usaha akan berkembang lebih pesat. Pada 
gilirannya pertumbuhan perekonomian nasional akan dapat meningkatkan 
kesejahteraan rakyat kita."
Neo-lib?
Pada hakekatnya, bukan kebijakan pro-rakyat, melainkan pertumbuhan ekonomi yang 
ditunjang pembangunan industri dan investasi modal, termasuk asing, tetap 
merupakan kebijakan kunci yang diharapkan dapat menggulirkan kesejahteraan bagi 
lapisan paling lemah. Paparannya lebih mengesankan kebijakan transisi yang 
membangun landasan ke depan, ketimbang kebijakan kesejahteraan rakyat.
Tuduhan neo-lib secara tak langsung hendak disanggah SBY dengan mengatakan 
"perlu campur tangan pemerintah, dalam tanda kutip, 'yang terukur' ".
Kabinet Bersih
Bedanya dengan pemerintahan dulu, periode SBY kedua ini, paling kurang 
menjanjikan tekad pemerintahan yang bersih, melalui reformasi birokrasi dan 
pemberantasan korupsi.
"Saya akan memilih yang terbaik, yang profesional dari semua kalangan. Baik 
dari partai politik maupun dari kalangan non partai. "
Susunan kabinet baru, terutama soal proporsi partai dan non partai kini menjadi 
perhatian utama publik. Para pengamat memperkirakan, sedikitnya tiga pos kunci 
seperti keuangan, energi an pertambangan dan BUMN akan dipercayakan kepada para 
profesional non partai, sedangkan pos menteri agama dan pendidikan sesuai 
tradisi masing-masing akan jatuh pada Nadhatul Ulama dan Muhammadiyah. 
Menarik dinantikan siapa yang akan menempati pos-pos kunci penegakan hukum, 
terkait tuntutan pemberantsan teror.
Rangkul Semua
Kursi-kursi selebihnya, menjadi bancaan partai-partai politik. SBY sejak lama 
memberi isyarat yang makin jelas bahwa dirinya membuka pintu bagi semua partai, 
termasuk Golkar dan PDI-P. Golkar ingin masuk koalisi SBY, karena partai yang 
merosot menjadi partai ketiga ini, terang-terangan merasa tak terbiasa menjadi 
oposisi.
Kecil kemungkinan, tokoh muda akan menang dan memimpin Golkar menjadi oposisi. 
Bahkan PDI-P pun, sebagian elitnya yang dekat dengan Tauifik Kiemas sejak mula 
cenderung ikut SBY. Sebaliknya SBY pun sejak mula pun berkeinginan kuat 
menggandeng PDI-P, namun terhalang oleh penolakan Megawati.
SBY rupanya tidak hanya ingin mengimbangi PKS dan nuansa kabinet Islam, tapi 
juga menampilkan diri selaku pemimpin bangsa yang ingin mengayomi semua unsur 
dan kelompok. Jika begitu, maka kabinetnya menjadi kabinet tambun, alias gemuk 
tapi tak lincah. 
Dan dengan kabinet presidensiil tanpa oposisi yang kuat di parlemen, haluan ini 
hanya akan menumbuhkan budaya demokrasi yang sinkretis, yang menampung 
kebhinekan politik, sekedar demi mengayominya.
 















      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke