...............tidak berarti
tidak ada harapan. Peluang kebangkitan ekonomi kerakyatan setidak-tidaknya
dapat disimak dalam lima hal berikut. Pertama, mencuatnya perlawanan terhadap
hegemoni AS dari beberapa negara di Amerika Latin dan Asia dalam satu dekade
belakangan. Kedua, berlangsungnya pergeseran peta geopolitik dunia dari yang
bercorak unipolar menjadi tripolar sejak kemunculan Uni Eropa dan kebangkitan
ekonomi China. Ketiga, berlangsungnya krisis kapitalisme AS sejak 2007.
Keempat, meningkatnya kerusakan ekologi
di Indonesia pascaeksploitasi ugal-ugalan dalam rangka neokolonialisasi. Kelima,
meningkatnya kesenjangan ekonomi dan sosial di Indonesia 


 (Revrisond Baswir) 

   

3 Seri Bacaan Lawan Neoliberalisme -Nekolim 

   

link-link terkait
lawan-neoliberalisme silah kunjung   

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/search/label/lawan-neoliberalisme 

   

   

posting satu 

Republik Indonesia Dalam
Perangkap Struktur Ekonomi Kolonial 

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/08/kerakyatan-vs-neoliberalisme-masihkah.html
 



Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat batu dan kayu jadi tanaman.....

Akankah terjadi pula tikus
mati di lumbung beras.......



Negeri kaya tapi rakyatnya miskin, tanahnya subur tapi tergantung impor bahan
pangan pokok.....



Harian Kompas Senin 24 Agustus menegaskan pada kita kondisi memprihatinkan ini
dalam beritanya RI Terjebak Impor Pangan. Menurut data yang berhasil di
kumpulkan Kompas, setiap tahun Indonesia harus mengeluarkan devisa setara
dengan Rp 50 triliun untuk membeli enam komoditas pangan dari negara lain.
Komoditas tersebut meliputi kedelai, gandum, daging sapi, susu, dan gula.
Bahkan, garam yang sangat mudah diproduksi di dalam negeri karena sumber
dayanya tersedia secara cuma-cuma dari alam tetap masih harus diimpor sebanyak
1,58 juta ton per tahun senilai Rp 900 miliar.



Data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa nilai impor kedelai rata-rata setiap
tahun mencapai 595 juta dollar AS (setara dengan Rp 5,95 triliun), gandum 2,25
miliar dollar AS (Rp 22,5 triliun), gula 859,5 juta dollar AS (Rp 8,59
triliun), daging sapi 480 juta dollar AS (Rp 4,8 triliun), susu 755 juta dollar
AS (Rp 7,55 triliun), dan garam 90 juta dollar AS (Rp 900 miliar). Sedangkan 
data
Departemen Perindustrian, menyebutkan impor bahan baku susu bagi industri susu
maupun industri makanan mencapai 655 juta dollar AS per tahun. Bila ditambah
impor dalam bentuk produk olahan, angkanya naik 140 juta dollar AS lagi menjadi
795 juta dollar AS.



Kompas menyimpulkan pada bagian awal beritanya bahwa kebijakan pembangunan
ekonomi nasional yang bias industri mengabaikan pengembangan potensi pangan
lokal dan pemenuhan kebutuhan pangan warga. Akibatnya, Indonesia kian terjebak
dalam arus 

impor pangan.



Bisa jadi benar, walaupun juga patut pula dipertanyakan kesahihannya. Paling
tidak pertama, beberapa pakar dan aktifis gerakan sosial malah mengatakan sejak
sepuluh tahun terakhir ekonomi Indonesia mengalami proses menyakitkan
de-industrialisasi. Kedua, saya yakin bahwa inilah setting tatanan ekonomi yang
’dipaksakan’ di negeri ini melalui lembaga keuangan internasional hingga WTO
maupun melalui saluran hubungan bilateral antar negera maju dan Indonesia. 
Terakhir,
saya meyakini tesis Revrisond Baswir bahwa RI hingga hari ini masih terjebak
dalam kubangan struktur ekonomi kolonial.



Berikut adalah petikan artikel Revrisond Baswir (bisnis Indonesia 18 Agustus
2009), Kerakyatan vs neoliberalisme :RI dibangun di atas struktur ekonomi
kolonial



........bagaimanakah kondisi perekonomian Indonesia saat ini? 



Pertama, sebagai bekas negara jajahan, Indonesia tidak dapat mengingkari
kenyataan terbangunnya struktur ekonomi kolonial di sini. Oleh sebab itu,
ekonomi kerakyatan pertama-tama harus dipahami sebagai upaya sistematis untuk
mengoreksi struktur ekonomi kolonial tersebut. Kedua, liberalisasi bukan hal
baru bagi Indonesia, tetapi telah berlangsung sejak era kolonial. 



Menyadari kedua kenyataan itu, dapat disaksikan betapa sangat beratnya
tantangan penyelenggaraan ekonomi kerakyatan yang dihadapi Indonesia. Tantangan
terberat tentu datang dari pihak kolonial. Sejak 17 Agustus 1945, pihak
kolonial hampir terus-menerus berusaha menjegal pengamalan cita-cita proklamasi
dan amanat konstitusi tersebut. Oleh sebab itu, setelah mengalami penjajahan
baru (neokolonialisasi) pada 1967, tantangan penyelenggaraan ekonomi kerakyatan
tentu cenderung semakin berat.  


...............tidak berarti tidak ada harapan. Peluang kebangkitan ekonomi
kerakyatan setidak-tidaknya dapat disimak dalam lima hal berikut. Pertama,
mencuatnya perlawanan terhadap hegemoni AS dari beberapa negara di Amerika
Latin dan Asia dalam satu dekade belakangan. Kedua, berlangsungnya pergeseran
peta geopolitik dunia dari yang bercorak unipolar menjadi tripolar sejak
kemunculan Uni Eropa dan kebangkitan ekonomi China. Ketiga, berlangsungnya
krisis kapitalisme AS sejak 2007. Keempat, meningkatnya
kerusakan ekologi di Indonesia pascaeksploitasi ugal-ugalan dalam rangka
neokolonialisasi. Kelima, meningkatnya kesenjangan ekonomi dan sosial di 
Indonesia 

   

Posting  2 

Hegemoni Neoliberalisme :
Penjajahan Kurikulum, Cuci Otak dan Pembodohan di Perguruan Tinggi 

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/08/hegemoni-neoliberalisme-penjajahan.html
 

   

Sementara itu,
telah terjadi penjajahan kurikulum terhadap fakultas-fakultas ekonomi kita.
Pengajaran ilmu ekonomi sebatas neoklasikal yang mengemban sepenuhnya paham
liberalisme/neoliberalisme dengan pasar-bebas yang menyertainya. Neoliberalisme
tidak pro-job, tidak pro-poor, tidak pula pro-economic nationalism. Maka
"daulat pasar" (daulat pemodal) menggusur "daulat rakyat". Pasar-pasar
rakyat dan pasar-pasar tradisional digusur oleh supermarkets, malls dan
hypermarkets, sehingga terjadi eksklusivisme bagi yang kuat dan marjinalisasi
terhadap yang lemah. Rakyat miskin tergusur, pembangunan rakyat akibatnya tidak
inherent dengan pembangunan ekonomi. Bahkan, pengajaran ilmu ekonomi di
ruang-ruang kelas bisa mengalahkan pesan konstitusi, Pasal 27 ayat 2, Pasal 33
dan seterusnya diabaikan. Ini adalah hegemoni akademik, yang membelit
dosen-dosen kita menjadi academic followers, yang mudah kagum pada neoklasikal
Barat, yang barangkali buta ideologi dan buta perjuangan bangsanya.



Dipetik dari artikel Sri-Edi Swasono "ISEI, Neoliberalisme, dan Ekonomi
Konstitusi", di harian Suara Pembaruan, 2009-08-04



.....berlangsungnya praktik pembodohan publik secara masif melalui praktik
penggelapan sejarah sejak 1966/1967. Sejarah yang digelapkan tidak hanya
berkaitan dengan peristiwa 30 September 1965, tetapi berkaitan pula dengan
peristiwa pengakuan kedaulatan Indonesia 
dalam forum Konferensi Meja Bundar (KMB) pada Desember 1949. 



.....terlembaganya sistem ‘cuci otak’ yang bercorak neoliberal dan antiekonomi
kerakyatan pada semua jenjang pendidikan di Indonesia. Sesuai dengan buku-buku
yang dipakai pada berbagai fakultas ekonomi di Indonesia , tanpa disadari, 
sebagian
besar fakultas ekonomi berubah fungsi menjadi pusat pengkaderan agen-agen
kolonial. 



Petikan artikel Revrisond Baswir (Bisnis Indonesia 18 Agustus 2009), Kerakyatan
vs Neoliberalisme :RI dibangun di atas struktur ekonomi kolonial

   

Artikel 3 

Neoliberalisme : Penanda
Kemenangan Gagasan atau Kemenangan Kelas? 

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/08/neoliberalisme-penanda-kemenangan.html
 

   

...... berbeda
dengan Arianto yang melihat kemenangan neoliberalisme, sebagai refleksi dari
kemenangan satu gagasan terhadap gagasan lainnya, saya justru melihat
neoliberalisme merupakan penanda kemenangan kelas kapitalis atas kelas buruh.
Ketimbang menempatkan intelektual sebagai agen perubahan sosial, justru inilah
saat dimana peran historis kelas pekerja, sebagai satu-satunya kelas yang
potensial menjadi revolusioner sangat relevan.



dipetik dari artikel Coen Husain Pontoh di indoprogress

   

   

   



Baca juga 

   

Dorong Koalisi
Partai Demokrat, Partai Golkar dan PDI-P 


http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/08/dukung-gagasan-koalisi-partai-demokrat.html
 

  
 

 

 Kapitalisme, Kemiskinan, Krisis Ekologi dan Gerakan Hijau  


http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/08/kapitalisme-kemiskinan-dan-krisis.html
 

  







      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke