Menunggu Komando Ganyang Malaysia


Sejak awal NU selalu gigih membela keutuhan bangsa dan negara ini, sejak
dari rongrongan bangsa sendiri seperti pemberontakan PKI Madiun,
pemberontakan DI-TII dan Pemberontakan PRRI Permesta. Demikian juga sangat
gigih berjuang untuk merebut Irian Barat, selanjutnya sangat militan turut
aktif dalam kesatuan Komando Mengganyang Malaysia, tahun 1960-an, ketika
negeri kecil itu menjadi sarang imperialis untuk merongrong negeri ini
dengan melakukan berbagai sabotase politik dan ekonomi, sejak masa PRRI
hingga jauh sesudahnya.



Ribuan kader bangsa ini, terutama dari kalangan nasionalis, kerakyatan dan
kalangan Islam (NU) yang sudah dilatih untuk melakuan konfrontasi dengan
negeri itu, tetapi akhirnya gagal dilaksanakan, karena gerakan Bung Karno
untuk Mengganyang Malaysia itu disabot oleh bangsa sendiri yakni kalangan
Angkatan Darat dan beberapa kelompok kanan.



Akibatnya kalau Bung Karno Konfrontasi dengan Imperialis di Malaysia, maka
rezim Indonesia berikutnya berkolaborasi dengan Imperialis. Mulai saat itu
kedaulatan Republik Indonesia punah atas nama pembangunan yang dilandasi
pada utang luar negeri, penanaman modal asing, serta penerapan life style
asing, sehingga maraklah budaya asing yang kapitalistik dan imperialistic
itu dalam kehidupan kita sehari-hari.



Ketika kita sudah terjerumus ke dalam jurang hutang yang tak mungkin ditutup
lagi, lalau kita menggadaikan seluruh harta kekayaan negara, seluruh
martabat bangsa untuk ditukar dengan materi. Selanjutkan seluruh cara
berpikir kita, selera kita, sikap kita, kebijakan kita, ditentukan oleh kaum
kolonial yang bercokol di semua Departemen, dan semua instansi, yang duduk
sebagai konsultan asing yang masuk bersama modal yang mereka pinjamkan.
Dengan cara itu bangsa ini sudah tidak berdaulat lagi, tidak lagi punya
kehendak, tak punya kemampuan memilih, semuanya harus didekte oleh negara
donor.



Kebijakan negara dengan demikian tidak untuk melayani kepentingan rakyat,
tetapi untuk melayani kepentingan mereka, akhirnya pembangunan sarana umum
dilarang, pembangunan berorientasi pemerataan dilarang, orientasi
pertumbuhan digiatkan, akhirnya hanya sekelompok orang yang kaya, sementara
mayoritas miskin, lantas negeri ini terjerumus dalam korupsi yan tak
terbendung yang mengakibatkan krisis dan ambruk. Seluruh asset negara
dikorup baik oleh aparat negara sendiri, oleh swasta dan dijarah oleh
kapitalis asing.



Persahaabatan dengan kapitaslis-imperialis sejak setelah Konfrontasi itu
membuat negara kita semakin hancur, sehingga tidak disegani orang lain,
malah dilecehkan, karena miskin, tidak kreatif dan hanya menghiba-iba bangsa
lain untuk dikasihani. Melihat kondisi semacam itu Malaysia sebuah negera
gurem baik dari segi mental, dari segi budaya, berani menghina kita dengan
mengusir bangsa kita di sana yang telah diperas tenaganya, serta melakukan
pencurian kayu dan hasil tambang di daerah perbatasasan, seterusnya mereka
semakin kurang ajar berani mengambil beberapa wilayah Indonesia yang ada di
perbatasan.



Berbeda dengan tahun 1960 lalu dengan heroik semua kita melawan imperialisme
Malaysia, sementara saat ini kebanyak orang menghindar, sebab semangat bela
negara telah dilumpuhkan oleh materi yang dijejalkan kaum imperialis. Karena
itu NU mengeluarkan statemen tegas bahwa Kedaulatan Indonesia harus
ditegakkan, dengan mengedepankan diplomasi, tetapi kalau hal itu tidak bisa
artinya Malaysia masih membandel, maka tidak ada cara lain kecuali perang.
Banyak kader NU yang dulu pernah dilatih dalam Komando Ganyang Malaysia
(Kogam) yang siap melatih kader NU saat itu menajadi sukarelawan.


Terhadap kedaulatan bangsa NU memang tidak ada tawar menawar soal PKI, DI,
PRRI, Irian Barat, dan Malaysia, siapa yang berani menggangu kedaulatan RI
baik bangsa sendiri apalagi bangsa asing akan diganyang oleh NU. Sebab NU
lah yang paling banyak berkorban dalam membangun Republik ini, ketika
melawan Portugis, melawan Belanda, melawan Ingrris, melawan Sekutu dan
Jepang.Inilah arti dari visi dan komitmen NU sebagai Islam Kebangsaan.
Karena itu untuk Mengganyang Malaysia, dan dengan strategi apa pengganyangan
itu dilaksanakan, saat ini warga NU sedang menunggu Komando, dari pimpinan
tertinggi NU setelah melihat hasil diplomasi, yang bakal dilaksanakan.[]

Dari berbagai Sumber


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke