Tauhidullah 3 Kodrat pemikiran manusia adalah model pemikiran rasional, logis dan dialektis, hal ini terprogram dalam RNA dan DNA dan karenanya sulit untk menghapusnya. Bahkan semua indoktrinasi sistim pemikiran imajinatif mistis dan dogma religius yang sudah diberlakukan sejak manusia dapat menikmati empuknya singgasana kekuasaan politik, ekonomi dan kebudayaan yang berada dalam kereta sejarah masyarakat manusia bakal dihapus dan dicampakkan oleh dasar pemikiran Islami yang rasional, logis dan dialektis Islami.*)
*) - kata Islami saya gunakan untuk membedakan semantika kata rasional, logis dan dialektis yang dimuat dalam Kamus Bahasa dengan kata rasional, logis dan dialektis yang diungkapkan dalan seluruh isi dan makna wahyu Qurani, di mana Al-Dinu al-Islam adalah hukum alam semesta yang ditetapkan menjelang Big-Bang. Saya tahu bahwa banyak yang akan memprotes saya yang awam dan bodoh ini berani mengemukakan catatan [*)] sedemikian itu. Catatan di atas merupakan pendekatan yang saya dasarkan kepada hasil-hasil studi teoretis di bidang sains positif, pengamatan lapangan, uji-coba laboratorium, data statistik paleo-anthropologi serta rekaman sejarah tertulis maupun tak tertulis kebudayaan manusia, hasil pemikiran para ahli fikir Muslimin klasik dan kontemporer, dan pemahaman pribadi saya atas firman Allah swt yang diwahyukan kepada rasulullah Muhammad saw yang dibukukan sebagai Mushaf Al-Quranu al-Karim. Dalam firman Quraniyah dapat kita temukan ayat-ayat yang menjelaskan tentang ke-Esa-an dan seluruh jalan setapak (path integral) menuju ke ke-Esa-an tersebut yang difirmankan oleh Allah swt. Dan ke-Esa-an tersebut adalah utuh, bulat (no boundary), masif, tunggal (no concurents) dan tak terdefinisikan obyektif berada (self sustained obyective reality) serta meliputi segala sesuatu. Ke-Esa-an yang saya gambarkan dengan pemahamaan pribadi tersebut adalah suatu pendekatan asimptotis yang tidak akan dapat mencapai, apalagi menyatu dengan yang didekati. Karena kita berbenturan dengan sifat ghoib (ketiadaan informasi) Allah swt yang antara lain telah diungkapkan dengan firman QS.112:4. Keadaan ini sama persis dengan proses yang dihadapi dalam uji-coba laboratorium fisika energi tingg ketika melacak quark, di mana ditemukan bahwa quark tidak ada yang bebas mandiri dalam alam, demikian pula partikel semu yang lahir pada saat partikel berada di horizon pengamatan sebuah noktah-hitam. Pada interpolasi waktu mulabuka alam semesta melalui Relativitas Umum kita akan berhadapan dengan titik kemanunggalan masif (singularity) sedangkan apabila dilacak melalui Fisika Quantum, noktah hitam bakal menelan semua partikel yang dikirimkan dan dari dalam noktah hitam tak satu digit informasipun yang dapat keluar. Ke-Esa-an Allah swt dapat didekati melalui firman yang menyatakan Allah swt sebagai Yang Awal dan Yang Ahir serta Yang Dzohir dan Yang Bathin. Firman ini merupakan klaim paradoksal bagi logika formal manusia yang terbentuk di dalam proses pengembangan satuan ruang-waktu (space-time continum). Logika manusia akan memahami bahwa setiap awal ada ahir dan setiap ahir ada awalnya, tetapi mengerti awal dan ahir itu sebagai suatu kemanunggalan utuh yang tak terpisahkan adalah di luar nalar. Karenanya manusia di dalam usaha mengenal Kemahakuasaan yang menentukan nasibnya di Bumi pada zaman kelangkaan pengenalan terhadap alam lingkungan hidup secara komprehensif, manusia mengembangkan hasil olah "indera ke-enam" pengertian mistik mengenai awal dan ahir sebagai suatu proses kejadian yang mandiri dan terpisah dalam jarak yang jauh. Dan untuk mencapai ahir yang baik perlu menempuh suatu "laku", "thoriq" yang mempergunakan perantara-perantara "suci" sebagai pembimbing dalam perjalanan dari awal ke ahir. Eksperimen manusia ini oleh Allah swt dikritik dengan firman yang menyatakan bahwa dalam hal "hablu min Allah" tidak ada perantara-perantara yang biasa diadakan oleh institusi keagamaan. Kaum Muslimin dapat LANGSUNG menghadap dan memohon serta mengadukan nasibnya kepada Allah swt tanpa harus dibantu oleh siapapun. Permohonan kepada Allah swt yang biasa disampaikan oleh kaum Muslimin terdahulu berbunyi "Robbanaaaa aatinaa fii dun-yaa hasanatan wa fii al-ahiroti hasanatan wa qinaa 'adzaaba al-naar".(QS.2:201) Dalam doa tersebut di atas (QS.2:201) semantika kata "dun-ya" tidak lagi bertumpu kepada materi, suatu semantika yang ditransformasikan berkat eksistensi Allah swt, tetapi kepada waktu atau proses yang bersumber dari kata "awal". Dengan demikian maka tafsir untuk gabungan kata "fii dun-ya" menjadi "pada saat sekarang" dan "fii al-ahiroh" menjadi "pada saat mendatang, masa depan". Dengan demikian maka kemanunggalan utuh Yang Awal dan Yang Ahir menjadi suatu eksistensi yang tidak terbantahkan rasional, logis dan dialektis Islami. Do'a yang sering disebut sebagai do'a "sapu jagad" itu tidak hanya meliputi permohonan kebaikan material semata-mata tetapi suatu permohonan kebaikan kwalitas hidup kaum Muslimin dari awal kelahiran hingga ahir hayat dikandung badan. Dengan dzohir (yang tertanggap penginderaan) dan bathin (yang tak tertanggap penginderaan) sebagai suatu kesatuan tunggal dari tanda-tanda eksistensi Allah swt dapat diamati melalui uji-coba laboratorium fisika partikel dan pengamatan astrofisika. Jika kita membaca laporan-laporan (papers) studi tabrakan partikel di pusat-pusat pengkajian partikel, maka pada data spektrograf ditemukan keberadaan sinar-sinar yang panjang gelombangnya berada di sebelah luar panjang gelombang spektrum sinar yang dapat ditanggap dengan mata manusia. Di alam semesta yang gelap-buta (jika dapat melakukan "space-walk" di luar pesawat ulang-alik angkasa luar dapat disaksikan alam semesta yang gelap-buta) ditemukan banyak sekali bintang-bintang dan galaksi-galaksi yang sudah meledak dan hancur-lebur pada masa lampau berkat adanya panjang gelombang sinar yang berada di luar spektrum sinar yang tidak dapat ditanggap oleh mata. Sinar-sinar dengan panjang gelombang ultra tersebut hanya dapat ditanggap dengan mempergunakan peralatan penginderaan elektromagnetis yang canggih, sebagaimana yang kini sudah mampu diproduksi oleh manusia. Peralatan penginderaan canggih yang dewasa ini sudah dapat diproduksi adalah berkat kegiatan kreatif manusia dalam usaha mengetahui makna hidup dan tujuan hidup manusia. Usaha kita bersama dalam memahami Tauhidullah ini merupakan upaya awam secara bodoh dengan mengandalkan perangkat tercanggih yang dimiliki mahluk Allah swt sebagai peralatan pendekatan diri kepada Allah swt. Dalam bulan Romadzon 1430 ini marilah kita usahakan mendidik diri pribadi untuk membersihkan ruh kita dari perkiraan-perkiraan, angan-angan dan definisi-definisi manusia terhadap Allah swt yang mengotori Al-Ruh. Dengan tazkiyyatun nafs yang kita lakukan selama bulan Romadzon kali ini insya'Allah sholat kita bakal semakin husuk dan kita rasakan getaran-getaran ruhaniyah pada diri pribadi semakin kuat, pasti. Allahumma soli wa salim wa baarik'ala Muhammad wa 'alaa ahlihi wa al-shabihi wa al-anbiyaa-i wa al- mursaliin wa al-mukminiina wa al-mukminati Wa biillahi taufiqu wa al-hidayah wassalamu'alaikum wa rohmatullohi wa barokaatuh, A.M [Non-text portions of this message have been removed]

