aduhai aduhai lihat jemarinya mencapit tang tang mencapit kaki hwadooooooowwwwwww......
itu kaki tau itu kaki temanku yang kau jepit tang itu hoaaaaaaaaaaaaaaaaaah.... sakitnya pasti tak terkira aku tak kuasa melihat mereka merobek kakimu aaaaaaaaaarrrrrrrrrghhhhhhhhhh........ !!! mereka kini menyantap dan menyeruput dagingmu aduh temanku sayang apa gerangan salahmu, sehingga ajal kau hadapi dalam wajah semuram itu tapi apa kau memang bersalah sedemikian ? atau mereka telah addicted dalam menghakimi dan menterormu mereka suka, mereka senang melakukannya mereka menikmatinya lalu mengapa kita hidup bila kematian kita demikian sia2 hwaaaaaaaaaaaaaaa.......... toloooooooooonggggg... !!! tolooooooooonnnnnnnnnnng ...!!! mereka kini mengambilku juga sebentar lagi aku akan dirajam remuk dengan batu atau ditikam dengan pisau aku akan berakhir di tungku panas mereka akan mengepit kakiku dengan tang lalu mereka menyeruput daging pada kaki2ku, mereka menikmatinya, sungguh, aku bisa melihat dari pandangan mereka yang dingin hati mereka sudah membeku dunia kita sungguh hitam dan muram -------- aku mengamati mereka - kepiting2 itu - , lalu terdiam "aku tidak jadi memesan kepiting." putusku akhirnya, kepada pemilik rumah makan pemilik itu memberengut, tidak puas melihatku tidak jadi menikmati kepiting2nya aku tidak perduli, dan beranjak keluar siang demikian terik, menyengat aku mengusapi dahiku yang berkeringat berhenti sebentar di kios penjual berita mataku tertarik dengan salah satu judul berita di sana tentang aturan2 penuh hukuman keji yang diciptakan untuk manusia oleh manusia sendiri aku teringat pada kepiting yang tidak jadi kupesan aku duduk di bangku taman, merenungkan, hakikat perbedaan kita dengan kepiting, barangkali pada akhirnya tidak ada

