Obama dan Nonproliferasi Nuklir
 
Senjata nuklir milik kuasa-kuasa besar dunia yang dulu terlibat dalam Perang 
Dingin kini memang jarang menjadi wacana lagi.
Yang terakhir kita dengar adalah niat Presiden Amerika Serikat Barack Obama 
untuk terus melakukan pengurangan senjata nuklir strategis (jarak jauh) dengan 
Rusia. Ini dipicu oleh fakta bahwa kesepakatan yang ada sekarang ini, yakni 
Traktat Start (Strategic Arms Reduction Treaty) akan habis masa berlakunya 
bulan Desember mendatang.
Akan tetapi, Presiden Obama ingin lebih jauh dari sekadar reduksi. Dalam pidato 
di Praha, April silam, Obama memvisikan dunia tanpa senjata nuklir. Karena itu, 
betapapun ia sadari amat muskil, Obama terus melangkah.
Ketika memimpin persidangan Dewan Keamanan PBB Kamis lalu, Obama membahas upaya 
pencegahan nonproliferasi senjata nuklir. Hadir dalam persidangan tersebut para 
pemimpin kuasa besar, seperti Presiden Rusia Dmitry Medvedev dan PM Inggris 
Gordon Brown.
Namun, seperti kita duga, persidangan yang dipimpin Presiden AS lebih fokus 
pada upaya untuk membelenggu Iran dan Korea Utara, meskipun dalam pernyataan 
disebutkan, upaya pemberian sanksi dan penegakan regulasi lebih keras tidak 
ditujukan pada satu bangsa.
Apabila nantinya disepakati untuk dijalankan, resolusi Dewan Keamanan PBB ini 
akan membuat negara-negara di dunia yang berminat semakin sulit untuk 
mengembangkan senjata nuklir, bahkan melalui pengubahan program nuklir damai 
menjadi proyek senjata.
Namun, dukungan bagi Obama tidak serta-merta membebaskan dirinya dari 
tentangan. Sejumlah negara berkembang dan negara nonnuklir mempertanyakan 
mandat Dewan Keamanan PBB dan mengangkat isu ”zona bebas nuklir” di Timur 
Tengah. Jelas sekali yang dimaksud itu adalah Israel. Kalau mereka konsisten, 
senjata nuklir Israel yang sejauh ini tak pernah diakui juga harus dihapuskan.
Ya, Obama memang punya ide besar untuk menghapuskan senjata nuklir dunia, 
melalui penghilangan faktor-faktor yang bisa memicu lomba senjata di kawasan, 
juga peninjauan ulang Traktat Nonproliferasi Nuklir tahun 1972 tahun depan.
Namun, sejauh yang menjadi fokus hanya Iran atau Korut, sementara Israel 
dibiarkan, maka prakarsa tersebut dari awal telah kehilangan kredibilitasnya. 
Sebagaimana kebijakan lain AS di Timur Tengah, nuansa yang sering timbul adalah 
standar ganda.
Kalau ini yang terjadi, kita juga melihat bahwa dari awal prakarsa tersebut 
akan diragukan efektivitasnya. Ini karena meski secara umum Rusia dan China 
bisa menyetujui ide nonproliferasi, mereka juga tidak senang AS mendikte semua 
urusan dunia. Namun, di luar kompleksitas yang ada, kita juga sepandangan 
dengan Presiden Obama bahwa senjata nuklir seharusnya dihapuskan dari muka bumi.
 
http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2009/09/26/ 02422366/ tajuk.rencana
 
 




New Email names for you! 
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does! 















      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke