Tempat Bahagia (Sanusi Pane) Lamalah sudah aku mencari Berkelana kembara kian kemari Masuk tjandi mendjundjung djari Bersuka raja di taman sari Baru sekarang 'ku mengerti Bahwa bahagia di dalam hati
Dari puisi di atas selintas sekadar mengungkapkan pencarian kebahagian sejati, yang dari paham sufistik merupakan unsur yang dicari dengan mendekat Tuhan sedekat2nya Namun pada akhirnya menemukan Tuhan ada di dalam diri mereka sendiri Mereka mengira dengan menghadirkan "Hukum Tuhan" dapat menghapus kekecewaan atas kegagalan hukum manusia, dapat lebih membahagiakan, dapat mengatasi segala persoalan yang mandeg karena ketidakbecusan manusia (notabene pemerintah dan masyarakat), dapat menanggulangi segala kepedihan dan kekecewaan hidup, sehingga menghadirkan 'Tuhan dan segala manifestasi Nya" sampai nyaris seperti kepada penyembahan berhala Seolah Tuhan saja yang 'mampu dan pada akhirnya dibebani' untuk mengendalikan kehidupan manusia, manusia sudah tidak mampu lagi, sudah invalid Hukum manusia sudah tidak mampu lagi, padahal dalih2 menghadirkan hukum Tuhan, lagi2 hukum manusia yang dihadirkan dengan meng-alasankan hukum Tuhan Tuhan dapat menghadirkan hukum Nya sendiri, tidak perlu bantuan manusia Menurut hukum Tuhan, manusia hanya perlu berusaha menjalani kehidupannya sendiri, masing2 diharapkan becus mengatur kehidupan sendiri, itu sudah cukup, tidak perlu mengatur kehidupan orang yang lain, karena setiap manusia sudah dianugerahi hati dan budi, akal pikiran Tapi manusia seringkali sakit karena ketidakbahagiaan, sehingga kembali merongrong Tuhan untuk kepentingannya (mereka) sendiri (kepentingan kebahagiaan (semu ????)) Jangan sampai terperosok dalam ketidakbahagiaan sendiri, dan meng'objek'kan Tuhan dalam hukum manusia yang tidak bahagia, sehingga malahan membawa petaka bagi manusia lain Kebahagiaan tidak berada di luar, tapi di dalam hati sendiri Masing2 carilah, jangan cari di luar hatimu (apalagi memaksakan orang lain mencarikan kebahagiaan untuk kita)

