Kumpulan berita ini  juga disajikan di website
http://umarsaid.free.fr/



                        Aneka berita gempa Sumatra Barat  (5)

                                                                (bahan-bahan
diambil dari berbagai sumber)



            1.240 Tempat Ibadah Rusak Karena Gempa Sumbar

             Selasa, 6 Oktober 2009


            PADANG, KOMPAS.com-Sebanyak 1.240 unit tempat ibadah di Sumatera
Barat (Sumbar) telah terdata mengalami kerusakan dan banyak di antaranya
rata dengan tanah serta tidak dapat digunakan lagi akibat guncangan gempa
7,9 SR, Rabu (30/9).

            Data Sarkorlak Penanggulangan Bencana Sumbar di Padang, Selasa,
menyebutkan, kerusakan tempat ibadah itu terdiri dari 687 unit rusak berat,
396 rusak sedang dan 257 unit rusak ringan.

            Tempat ibadah yang rusak itu adalah masjid, gereja, vihara dan
kelenteng yang berada di delapan daerah kota dan kabupaten yang terkena
gempa.

            Tempat ibadah paling banyak mengalami kerusakan adalah di
Kabupaten Padang Pariaman mencapai 418 unit rusak berat, rusak sedang (140)
dan rusak ringan (13).

            Kemudian di Kota Padang, 151 unit rusak berat, 120 unit rusak
sedang dan 108 rusak ringan, lalu di Kota Pariaman, 47 unit rusak berat,
rusak sedang (20) dan rusak ringan (21).

            Di Kabupaten Agam, sebanyak 49 tempat ibadah rusak berat 49
unit, rusak sedang (54) dan rusak ringan (52).

            Tempat ibadah yang rusak berat juga terdapat di Kota Padang
Panjang (5), Kabupaten Solok (4), Kabupaten Tanah Datar dan Pasaman
masing-masing dua unit.

            * * *

            Tak Ada Diskriminasi Korban Gempa
            Selasa, 6 Oktober 2009
            PADANG, KOMPAS.com-Ketua Harian Sarkorlak Penanggulangan Bencana
Sumatera Barat (Sumbar), Marlis Rahman menegaskan, tidak ada diskriminasi
evakuasi korban gempa bagi warga keturunan di Kota Padang, dan semua korban
diperlakukan sama sebagai warga negara Indonesia.

            "Tidak ada diskriminasi pencarian korban di kawasan warga
keturunan," tegasnya di Padang, Selasa.

            Hal itu ditegaskannya, menanggapi isu berkembang di dunia
internasional yang menuding telah terjadi diskriminasi evakuasi korban gempa
dari warga keturunan.

            Menurut dia, pada hari pertama pascagempa pimpinan daerah telah
mendatangi kawasan permukiman warga keturunan untuk mengetahui kondisi di
lapangan dan menentukan bentuk bantuan yang harus segera dilakukan.

            Ia mengakui, cukup banyak bangunan bertingkat yang roboh di
kawasan warga keturunan yang lama dibersihkan sekaligus evakuasi terhadap
adanya korban yang diperkirakan ikut tertimbun.

            Personil TNI juga sudah banyak berada di kawasan keturunan itu,
namun mereka tidak bisa melakukan pembersihan karena belum ada izin dari
pemilik, tambahnya.

            "Tim SAR tentu tidak bisa main bongkar saja, tanpa izin pemilik
karena dikhawatirkan barang-barang yang selamat akan hilang," kata Marlis
yang juga Wakil Gubernur Sumbar itu.

            Sedangkan para pemilik bangunan banyak yang mengungsi Ke Jakarta
hingga Singapura, tambahnya. Ia meminta, semua pihak tidak terpancing isu
diskriminasi yang dihembuskan pihak-pihak tidak bertanggungjawab dan tanpa
kebenaran di lapangan.

            * * *

            Tidak Ada Lagi Korban Hidup di Bawah Reruntuhan

            Media Indonesia, 06 Oktober 2009



            PADANG--MI: Sepekan setelah gempa 7,6 skala Richter yang
mengguncang Sumatra Barat, dipastikan tidak ada korban yang hidup dibawah
reruntuhan bangunan yang ambruk di Kota Padang dan sekitarnya. Hal ini
diungkapkan Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan
Bencana (BNPB) Priyadi Kardono di Padang, Selasa (6/10).

            Menurutnya, pencarian korban peralatan yang dimiliki tim SAR
asing menunjukan tidak ada lagi korban yang masih hidup di bawah reruntuhan
bangunan yang ambruk. "Mereka sudah menyisir semua area lokasi bencana di
Padang. Alat mereka tidak mendeteksi satupun kemungkinan korban yang hidup,"
ujar Priyadi.

            Dengan hal ini, tugas tim SAR asing yang membantu dipastikan
selesai secara otomatis. Dalam waktu tiga hari, diharapkan secara bertahap
mereka semua telah dapat meninggalkan Indonesia.

            Pasalnya, lanjut Priyadi, spesialisasi tim SAR asing adalah
mencari korban manusia yang hidup dengan demikian keahlian 688 personil tim
SAR baik asing dan lokal untuk mencari korban selamat tidak relevan lagi.

            Saat ini, relawan asing yang masih tinggal adalah mereka yang
bertanggung jawab pada bidang kemanusiaan. Relawan asing kemanusiaan akan
bekerja di bawah koordinasi United Nation-Office for The Coordination for
Humanitarian Office (UN.OCHA) untuk mengurusi masalah kesehatan, pendidikan
dan pascatrauma bencana.

            Lebih jauh kata Priyadi, BNPB pada akhir Oktober segera
menyediakan pusat-pusat trauma center di sejumlah titik lokasi bencana. Saat
ini, tambahnya pihaknya sedang berkoordinasi dengan sejumlah organisasi
dokter, psikologi dan universitas. (Tlc/OL-06)






             * * *



            Kota Pariaman Masih Lumpuh

            Media Indonesia, 06 Oktober 2009



            PARIAMAN--MI: Kota Pariaman, Sumatera Barat hingga saat ini
masih mengalami kelumpuhan karena jaringan listrik, komunikasi, dan air
bersih mengalami kerusakan setelah diguncang gempa Rabu (30/9) lalu.

            "Hingga saat ini jaringan listrik, komunikasi, dan air bersih
masih mengalami kendala," kata Wali Kota Pariaman Mukhlis Rahman di
Pariaman, Selasa (6/10).

            Akibatnya, kondisi pada malam hari masih gelap gulita dan
sebagian besar warga kesulitan mendapatkan air bersih kecuali mereka yang
memiliki sumur resapan di rumahnya.

            Wali Kota Mukhlis menjelaskan, pihaknya sedang mengupayakan
untuk mengatasi kerusakan tersebut dalam waktu dekat. "Kami berharap kondisi
seperti ini hanya sementara saja dan dalam satu atau dua minggu bisa segera
diperbaiki," katanya.

            Ia juga menambahkan, pihaknya akan melakukan upaya rehabilitasi
terhadap kerusakan yang terjadi pada berbagai fasilitas tersebut akibat
gempa usai menuntaskan proses penyaluran bantuan logistik bagi para korban
gempa di kota itu. "Setelah proses penyaluran bantuan tuntas, maka kami akan
segara melakukan upaya rehabilitasi dan memperbaiki kerusakan yang ada,"
katanya.

            Wali Kota menambahkan, hingga saat ini, pemkot telah menerima
sejumlah bantuan baik berupa logistik maupun uang tunai dari sejumlah
donatur yang akan segera didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

            Bantuan tersebut datang dari pihak dalam negeri maupun luar
negeri yang peduli terhadap bencana di Sumatera Barat. "Saya sangat
berterima kasih pada bantuan yang datang. Semuanya sangat membantu kami
dalam proses penyaluran bantuan maupun rehabilitasi mendatang," katanya.

            Sumber bantuan di antaranya dari Badan SAR nasional, Dinas
Sosial Sumatra Barat, Dinas Sosial Payakumbuh, Wali Kota Payakumbuh dan
sejumlah pihak swasta. Wakil Presiden Jusuf Kalla telah memutuskan bahwa
masa tanggap darurat akan berlangsung selama dua bulan. (Ant/OL-02)




            * * *
            Bantuan untuk Korban Gempa Masih Tersendat
            Media Indonesia, 06 Oktober 2009
            PADANG-MI: Memasuki hari kelima pasca gempa, Rabu (5/10)
sebagian korban gempa masih mengeluhkan tidak dapat bantuan. Minimnya
bantuan membuat beberapa warga mengamuk di gudang logistik Kabupaten Padang
Pariaman.

            Fahmi Syukur, warga Jorong (Dusun) Sungai Karuah Nagari Balah
Aia Kecamatan VII Koto Kabupaten Padang Pariaman kepada Media Indonesia,
Senin (5/10), mengatakan, di kampungnya sekitar 300 rumah hancur dihantam
gempa. "Bantuan sudah datang satu kali, namun baru 130 rumah yang dapat
bantuan, 170 rumah lainnya belum sama sekali," tuturnya.

            Bantuan berupa mi instan, beras dan berbagai kebutuhan harian
tersebut pun hanya sedikit. Korban gempa setempat rata-rata hanya mendapat
tiga bungkus mie dan seliter beras. "Warga masih membutuhkan logistik, tenda
dan selimut. Saat ini hanya bernaung di bawah tenda seadanya," ujar dia.

            Tersendatnya bantuan membuat beberapa warga mengamuk. Sejumlah
warga mendatangi gudang logistik Pemkab Padang Pariaman Senin dini hari.
Mereka mengamuk karena tak kunjung mendapat bantuan. Warga lalu memaksa
mengambil sendiri mie instan, air mineral dan sejumlah logistik.

            Kapolres Padang Pariaman Ajun Komisaris Besar Uden Kusumawijaya
membenarkan pengambilan paksa tersebut. "Namun bukan penjarahan. Hanya
beberapa warga mengambil logistik sendiri karena jatah desa mereka diambil
desa lain."

            Menurutnya, warga marah karena logistik dibiarkan lama menumpuk
di gudang. "Ini karena pengaturan distribusi logistik tidak jelas," katanya.

            Karena kurangnya bantuan, sepanjang pemantauan Media Indonesia
di Padang Pariaman, banyak warga yang meminta sumbangan di jalan.

            Di Kecamatan IV Nagari, Kabupaten Agam, warga mengeluhkan
kekurangan tenda dan selimut. "Warga setempat sekarang tidur di bawah tenda
seadanya. Mereka butuh bantuan," kata anggota DPRD Agam Zulfaidar.

            Padahal, menurut Koordinator Bidang Bantuan Barang Satkorlak
Sumbar Abdul Gafar, distribusi bantuan berupa mie instan, air mineral,
beras, tenda, sarden, minyak goreng, sarung, biskuit, genset dan berbagai
kebutuhan harian dari Satkorlak Provinsi ke kabupaten kota cukup lancar.

            "Mekanisme penerimaan bantuan langsung diantar ke Satkorlak dan
kita distribusikan ke berbagai daerah, terutama Padang, Kota Pariaman dan
Kabupaten Padang Pariaman, yang terparah kerusakannya." (HR/OL-7)

            * * *
                  Jawa Pos, 05 Oktober 2009 ]

                  SMS Berisi Isu Diskriminasi dari Kampung Pecinan
                  HARI keempat pascagempa di Pa­dang mulai diwarnai
munculnya isu-isu sensitif dan kabar pen­jarahan yang potensial memper­getir
nasib para korban.

                  Warga Tionghoa yang bermukim di sebuah kampung pecinan di
pu­­sat Kota Padang, misalnya, di­ka­­barkan telah menjadi korban
dis­­kriminasi dalam hal penangan­an evakuasi dan pembagian bantu­an. Sebuah
pesan singkat yang ber­edar dari HP ke HP kemarin, mi­salnya, berbunyi: Tell
the world, Stop the donation to West Sumatra!!! Primordialism and racism is
happening in there, Chinese people didn't allowed to have food and was
forced to buy the food aid. Family of mine was at there!!! Please sent out
this massage to the world so they know the true!!! (kata­kan pada dunia,
stop bantuan ke Sumatra Barat!!! Primordialis­me dan rasisme terjadi di
sana, war­ga Tionghoa tak diperbolehkan mendapatkan makanan dan dipaksa
membeli bantuan makanan. Keluargaku di sana!!! Tolong sebarkan pesan ini ke
seluruh dunia biar mereka tahu kenyataan ini!!!)

                  Benar tidaknya kenyataan yang terjadi di kampung Tionghoa
dengan isi SMS itu, Sutan Zaili Asril, direktur Padang Ekspres, anak
per­usahaan Jawa Pos di Padang semalam memberi penuturan. Dari
penga­matannya selama empat hari setelah terjadi gempa, proses evakuasi
terhadap korban bencana di Pondok China memang dinilai lambat. Hal itulah
yang memicu merebaknya isu pendistribusian bantuan yang tak adil di beberapa
tempat, termasuk di kawasan Pecinan.

                  Padahal, buruknya manajemen dan ketidakberdayaan
petugaslah yang sebenarnya terjadi. Di sisi lain, para korban sangat
membutuhkan bantuan. Zaili menilai, distribusi bantuan yang diberikan pemkot
juga tidak mengarah. "Entah kenapa, kesannya pemerintah cenderung
memprioritaskan evakuasi di Hotel Ambacang, LBB Gama, Prayoga, Sigma, maupun
LBB Lia. Padahal, evakuasi di Pondok China maupun Pasaraya seharusnya juga
menjadi prioritas karena jumlah korbannya sangat banyak," terang Zaili lebih
lanjut.

                  Perlu juga diketahui, situasi lebih memiriskan dulu juga
terjadi beberapa hari pascagempa tsunami Aceh pada 2004. Buruknya manajemen
penyaluran bantuan dan minimnya pengawasan membuat situasi menjadi bar-bar
dan tak terkontrol. Di berbagai tempat di Aceh, waktu itu, para penjarah
bahkan sampai tega memotong jari mayat korban tsunami untuk mengambil
cincin, anting di ku­ping, dan perhiasan lain.

                  "Sejak hari pertama gempa, kami belum mendapat bantuan
sama sekali," kata Ny Esther, salah seorang warga yang bermukim di Jalan
Klenteng. Padahal, lokasi kampung tempat tinggal Esther berada di pusat Kota
Padang. Apalagi, rumah wanita 43 tahun itu luluh lantak. Bangunannya tinggal
separo, seperti dibelah menjadi dua.

                  Menanggapi isu sensitif itu, Pe­ng­urus Wilayah
Muhammadiyah Jatim Sulton Amin benar-benar sangat prihatin. Menurut dia, hal
itu sangat memalukan. Terlebih, per­hatian dunia saat ini juga me­ngarah
pada kondisi para korban gempa. ''Jangan sampai relawan asing yang membantu
di Padang hengkang sebelum waktunya gara-gara masalah ini,'' ujarnya.

                  Dia menambahkan, sudah waktunya membuang ego pribadi yang
muncul akibat perbedaan suku, agama, ras ,dan warna kulit. Perasaan senasib
sebagai warga Indonesia dan sesama korban gempa yang membutuhkan bantuan
seharusnya mampu melebur perbedaan itu.

                  Selain itu, dia mengharapkan seluruh masyarakat tetap
tenang dan tidak terprovokasi. Bahkan, dia siap membantu kalau langkah
prosedural seperti melaporkan kepada pihak terkait tetap tidak membawa
perubahan. ''Langkah terkahir adalah menyerahkan bantuan langsung ke etnis
Tionghoa maupun kelompok lain yang didiskriminasikan,'' tegasnya.
(kit/dim/lea)

                  * * *
                  Suara Pembaruan, 5 Oktober 2009
                  Kerugian Sementara Rp 1,9 Triliun
                  [PADANG] Gempa bumi berkekuatan 7,6 skala richter (SR)
yang mengguncang Sumbar, Rabu (30/9) lalu, menimbulkan kerugian material
yang sangat besar. Perkiraan sementara, jumlah kerugian mencapai Rp 2,1
triliun. Jumlah itu dipastikan akan jauh meningkat, mengingat belum ada
estimasi awal jumlah kerugian di Kota Padang, yang paling parah tingkat
kerusakannya.

                  Perkiraan sementara kerugian Rp 1,9 triliun tersebut
meliputi Kota Pariaman sekitar Rp 1,25 triliun, Kabupaten Agam Rp 460
miliar, Kabupaten Pasaman Barat Rp 115 miliar, dan Kabupaten Solok Rp 45
miliar.

                  Terkait hal tersebut, Kepala Humas Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB), Priyadi Kardono, pemerintah memutuskan
mempersingkat masa tanggap darurat penanganan bencana gempa bumi Sumbar,
dari dua bulan menjadi satu bulan. Pertimbangannya, selain kerusakan yang
ditimbulkan tidak separah dugaan semula, juga karena diperlukan percepatan
rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur pascagempa.

                  Untuk itu, mulai pekan depan, BNPB bekerja sama dengan
Pemprov Sumbar mulai mendata korban dan kerusakan infrastruktur. Sejauh ini,
BNPB mencatat, korban tewas yang sudah ditemukan hingga Senin pagi mencapai
608 orang.

                  Meskipun masa tanggap darurat dipersingkat, BNPB tidak
memasang batas waktu pencarian korban yang diduga meninggal dunia, dan masih
terjebak di bawah reruntuhan bangunan atau longsoran tanah. "Bergantung pada
masyarakat apakah mau dicari terus atau ditetapkan saja menjadi kuburan
massal," ujar Priyadi, Senin (5/10) pagi.


                  Mulai Aktif

                  Sementara itu, pada Senin pagi, aktivitas Kota Padang
mulai tampak, meskipun dengan intensitas yang sangat terbatas. Jalan-jalan
di dalam kota mulai tampak orang berlalu lalang. Di beberapa titik, seperti
Jalan Raya Tabing, terjadi kemacetan karena ada jalan yang rusak akibat
gempa.

                  Toko dan rumah makan juga sudah mulai buka, setelah aliran
listrik pulih. Hal itu menyusul kiriman 34 trafo dan 7 genset PLN dari
Jakarta. Di samping itu, juga ada kiriman 35 trafo bantuan Kantor PLN
lainnya di wilayah Sumatera.

                  Di Pasar Raya Padang, pedagang sembako dan sayur mayur
sudah mulai berjualan. Mereka menggelar dagangannya di pinggir jalan di
depan pasar, karena bangunan pasar Inpres hancur dan terbakar akibat gempa.

                  Namun, harga bahan pokok melonjak. Harga minyak goreng
dari Rp 8.000 menjadi Rp 14.000 per liter, cabai dari Rp 40.000 menjadi
80.000 per kg, gula dari Rp 10.000 menjadi Rp 15.000 per kg. Demikian pula
mi instan yang semula dijual Rp 1.200 naik menjadi Rp 1.800 per bungkus.

                  Aktivitas belajar-mengajar di sekolah juga sudah mulai
pulih. Sekitar 300 siswa SMAN 1 Kota Padang, pukul 07.00 memulai masuk. Para
siswa mendapat pengarahan dari Kepala Sekolah, Jufri Zasri, tentang prosedur
kegiatan belajar-mengajar serta nasihat untuk tetap tabah dalam menjalani
cobaan.

                  Para siswa juga diminta melaporkan keadaan siswa lainnya
yang belum masuk pada hari pertama sekolah pascagempa. Setelah itu di
lapangan mereka menggelar doa bersama untuk arwah korban gempa.

                  Sebagian siswa belajar di dalam tenda di halaman sekolah,
dengan berdesak-desakan karena terbatasnya kapasitas tenda. Untuk sementara
ruang kelas di lantai 2 dikosongkan, khawatir konstruksinya rapuh akibat
gempa.

                  Di SMP 1 Padang, setelah mendapatkan pengarahan dari
kepala sekolah dan didata, para siswa diizinkan pulang. Di sekolah ini,
sekurangnya tiga staf pengajar menjadi korban gempa, satu di antaranya
meninggal dunia.


                  Penyelamatan Longsor

                  Terkait pencarian korban, tim penyelamat dari Indonesia
dan luar negeri mulai memasuki wilayah perbukitan Sumbar. Diperkirakan,
banyak warga yang tertimbun tanah longsor dari wilayah perbukitan, terutama
di Kabupaten Padang Pariaman. Kepala Subdit Bencana Departemen Kesehatan,
Rustam Pakaya mengungkapkan, sekitar 600 orang diperkirakan tewas di
Pariaman. "Ada beberapa desa yang warganya terkubur hidup-hidup," katanya.

                  Saat tim penyelamat tiba, kondisi sejumlah warga desa yang
terisolasi sangat memprihatinkan. Mereka sangat membutuhkan makanan, air
bersih, dan tempat tinggal.

                  "Saya satu-satunya orang yang hidup. Ada 36 anggota
keluarga saya di sini. Istri, anak, mertua dan yang lainnya meninggalkan
saya. Mereka semua masih terkubur dalam tanah sekarang," kata seorang warga
desa Kapolo Koto, Zulfahmi.

                  Tim penyelamat pesimistis masih ada korban yang selamat.
"Hari Sabtu (3/10) kami masih bisa mendengar suara orang minta tolong, tapi
sekarang tidak lagi," kata seorang personel TNI yang membantu tim
penyelamat.

                  Pekerja lembaga amal Inggris, Oxfam, Ian Bray, mengatakan
distribusi logistik masih menjadi kendala utama. "Akses jalan menuju daerah
gempa sangat sulit. Sehingga penyaluran belum berjalan dengan baik.
Bayangkan saja, menuju sebuah desa yang biasanya hanya ditempuh dengan waktu
35 menit dari Kota Padang, kini menjadi 10 jam untuk mencapainya," katanya.
[E-7/A-20/ CNN.com/BBC.com/Rtr/ WID/A-17]

                  * * *

                  Ratusan Pengungsi Masih Bertahan di Siberut

                  Media Indonesia, 05 Oktober 2009

                  PADANG--MI: Sebanyak lebih kurang 500 orang pengungsian
yang berada di Siberut Kabupaten Mentawai masih bertahan tempat yang aman.

                  Wakil Bupati Kabupaten Mentawai, Yudas Sulaibagalek, di
Padang, Sumatra Barat, Senin (5/10), mengatakan para pengungsi  berada di
Kepulauan Siberut tersebut masih trauma dan shock. "Pada malam harinya
bertahan pada tempat perbukitan yang ada di Siberut tersebut, namun pada
siang harinya kembali ke rumah masing-masing," ungkapnya.

                  Menurutnya, masyarakat yang ada di Kabupaten Mentawai
tidak ada yang meninggal dunia, namun hanya mengalami luka ringan dan luka
berat. Dia mengatakan, diperkirakan lebih kurang dari 70 persen bangun milik
pemerintahan setempat tidak layak untuk dipakai.

                  Bangunan milik pemerintahan yang mengalami rusak berat
tersebut, rumah dinas Bupati Mentawai, rumah Dinas Ketua DPRD, serta
beberapa bangunan lainya.  "Sedangkan ada beberapa gedung sekolah yang
mengalami kerusakan di Kabupaten Mentawai", katanya.

                  Dia menambahkan, diperkirakan kerusakan sekolah yang ada
di Kabupaten Mentawai sekitar lebih kurang dari 70 persen bangunan. Bangunan
sekolah yang mengalami kerusakan tersebut adalah; SD, SMP satu atap lima
unit, SMU sebanyak 4 unit serta SMP Murni 2 Unit.

                  Akses di Kepulauan Mentawai sangat sulit, sehingga
masyarakat di sana hanya makan seadanya, kapal yang biasanya dari Kota
Padang sering ke Mentawai. "Sejak terjadinya gempa dengan kekuatan 7,6 SR,
kapal yang membawa kebutuhan tidak ada lagi ke Mentawai", ujarnya.

                  Dia menambahkan, kapal yang berangkat dari Pelabuhan Muaro
Padang  menuju Mentawai sudah normal kembali, sejak Senin  (5/10).
(Ant/OL-03)

                  * * *





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke