http://beritajatim. com/detailnews. php/6/Politik_ &_Pemerintahan/ 2009-10-07/ 
46516/Ada_ 9_Alasan_ Kenapa_Golkar_ Harus_Beroposisi _

Munas Golkar 2009

Ada 9 Alasan Kenapa Golkar Harus Beroposisi

Rabu, 07 Oktober 2009 10:47:36 WIB 

Reporter :
Oryza A. Wirawan 
 


Sudahlah, Golkar. Inilah saatnya belajar beroposisi.
Pilihan itu memang hanya dua: beroposisi atau mendompleng rezim
Yudhoyono. Namun setidaknya ada sembilan alasan mengapa Golkar harus
beroposisi, dan bukannya memepet Yudhoyono atau mengemis posisi menteri
di kabinet.

Pertama: selama perjalanan lima tahun ke depan,
Indonesia butuh oposisi yang kuat di parlemen untuk mencegah
otoritarianisme kembali. Potensi kembalinya otoritarianisme dalam
bentuk yang lebih lunak sebenarnya sudah tampak. Ambil misal, keinginan
pemerintah untuk membuat regulasi tentang rahasia negara, atau mulai
diperlemahnya peran komisi antikorupsi. Dalam hal ini, keberadaan
Golkar sebagai partai dengan kursi terbanyak kedua di parlemen menjadi
penting, sebagai orang yang berteriak mengingatkan pemerintahan agar
tak melenceng.

Kedua: ikut dalam pemerintahan, tak membuat nama
Golkar terdongkrak. Rasanya cukup sudah pelajaran yang diperoleh Golkar
semasa dipimpin Muhammad Jusuf Kalla. Kalla menjadikan Golkar sebagai
bagian dari pemerintahan Yudhoyono selama lima tahun silam. Ide-ide
segar kebijakan pemerintah juga meluncur dari Kalla. Tapi apalah kata,
apa yang dinilai sebagai keberhasilan pemerintah gagal diklaim oleh
Golkar. Yudhoyono dan Demokrat (yang saat itu hanya tujuh persen di
parlemen) berhasil memanfaatkan klaim itu untuk merebut kemenangan
dalam pemilu 2009.

Saya tidak tahu, teori macam mana lagi yang
mau dipakai untuk membenarkan 'percintaan' rezim SBY-Boediono dengan
Golkar. Lima tahun lalu, dengan ketua umum yang menjadi 'the real
president' saja Golkar gagal mendongkrak citra melalui pemerintahan.
Bagaimana pula mau berharap mendongkrak citra dengan mendompleng
pemerintah saat ini?

Ketiga: menunjukkan perbedaan dengan
Demokrat. Secara umum, Golkar dan Demokrat tak berbeda jauh. Karakter
keduanya memang dirancang sebagai partai penopang kekuasaan. Mereka
juga partai berideologi birokrat dan stabilitas, dalam arti memiliki
orientasi pemerintahan, pembangunan, dan tak terikat dengan romantisme
ideologi masa lalu. Keduanya juga tergantung pada figur seorang ketua
dewan pembina: Golkar pada Soeharto, dan Demokrat pada SBY. Keduanya
juga didominasi oleh wajah-wajah (eks) petinggi militer. Dan keduanya
merupakan partai tengah di tengah basis ideologis lama yang hidup di
Indonesia.

Bergabung dengan pemerintahan Yudhoyono hanya akan
membuat Golkar tak memiliki diferensiasi jelas, jika dibandingkan
dengan Demokrat. Padahal, partai yang bisa bertahan ke depan adalah
partai yang bisa menunjukkan diferensiasi, baik dalam hal ideologi
(sebagaimana dimiliki PKS dan PDIP) maupun konstituen (sebagaimana
dimiliki PKB). Di tengah pragmatisme politik di masyarakat, dua hal itu
sebenarnya yang bisa diharapkan untuk menyelamatkan partai.

Keempat: menyelamatkan Golkar dari citra kegagalan pemerintah. Jika
sebuah keberhasilan adalah sebuah pertarungan klaim yang sulit
dimenangkan, maka tidaklah demikian dengan sebuah kegagalan. Setiap
kegagalan membutuhkan kambing hitam. Ikut dalam pemerintahan
SBY-Boediono membuat Golkar membuka diri untuk menjadi bagian dari
sebuah kegagalan atau kesalahan, jika suatu ketika pemerintahan ini
keseleo di tengah jalan.

Kelima: demi kaderisasi. Di bawah
kepemimpinan Kalla, Golkar memang kalah dua kali, dalam pemilu
legislatif dan pemilihan presiden. Namun di bawah kepemimpinan Kalla
pula kita menyaksikan generasi baru mulai tumbuh. Para politisi muda
ini mau bergerak di tengah himpitan kaum tua yang masih mendominasi.
Generasi muda partai ini memiliki ideologi dan semangat untuk berdiri
sebagai oposisi pemerintahan. Mereka tidak mengharamkan oposisi
sebagaimana sebagian kaum tua. Golkar akan memadamkan semangat
regerenasi ini, jika pada akhirnya lebih memilih merangkul pemerintahan
Yudhoyono ketimbang berseberangan.

Keenam: konsolidasi partai.
Setiap konsolidasi membutuhkan apa yang disebut 'alasan perjuangan'
sebagai medium. Menjadi oposisi akan mengembalikan pola pikir para
kader partai, bahwa mereka harus kembali berjuang agar Golkar naik
peringkat pada pemilu 2014. Beroposisi akan memberi kesadaran bahwa
mereka bukan lagi bagian dari pemerintahan dan tak terjebak romantisme
sebagai partai pembangunan, yang tak jelas apa maksudnya dan
definisinya (semua partai juga mengklaim mengabdi untuk pembangunan) .
Beroposisi menciptakan etos perjuangan.

Ketujuh: menciptakan
kemandirian partai. Selama masa Orde Baru, Golkar diidentikkan dengan
partai penguasa. Sebagai penguasa, Golkar menikmati berbagai
'kemewahan' dan pengistimewaan: konstituen dari kelompok pegawai
negara, suplai duit dari negara dan pengusaha, serta pengamanan dari
kelompok tentara. Saat ini, semua 'kemewahan' itu sudah terlucuti.
Golkar saatnya berdiri mandiri, dan ini bisa dilakukan dengan cara
mengubah pola pikir kader partai. Memepet kekuasaan dan memanfaatkan
pos-pos di pemerintahan menunjukkan bahwa partai ini belum siap mandiri.

Kedelapan: harga diri dan posisi tawar partai. Menjadi bagian dari
sebuah koalisi besar, yang tanpa dukungan Golkar pun sebenarnya sudah
bisa menjadi mayoritas, hanya akan merendahkan posisi partai. Golkar
tak bisa berdiri sejajar dengan Yudhoyono sebagai mitra, namun hanya
berdiri sebagai subordinat. Ini berdampak buruk pada moral kader
partai, mengingat Golkar sebenarnya masih cukup kuat di daerah-daerah.

Golkar boleh saja kalah di tingkat pusat. Namun, di daerah, kendati
Demokrat berkuasa di mana-mana dalam pemilu lalu, sejatinya Golkar
masih memiliki kekuatan yang tak bisa diremehkan. Sebagian besar
politisi Golkar di parlemen-parlemen daerah memiliki pengalaman dan
kematangan jika dibandingkan politisi Demokrat. Beroposisi di tingkat
pusat dan merebut kemenangan di daerah-daerah dalam pemilihan kepala
daerah melalui kepiawaian politisi berpengalaman akan memperkuat
konsolidasi partai.

Kesembilan: beroposisi sebagai panggilan
sejarah dan proses reideologisasi Golkar. Indra Piliang, salah satu
tokoh muda Golkar pernah berkata kepada saya, beroposisi sama dengan
menulis ulang sejarah partai itu. Saya berpendapat sejarah Golkar
memang harus ditulis ulang, dengan cara menjadi oposisi. Melalui
oposisi, para kader Golkar bisa kembali mendefinisikan ideologi partai
yang selama ini seolah tak lepas dari ideologi birokrat, partai
pemerintah. Penguatan dan pendefinisian kembali ideologi ini bisa
berjalan baik, jika Golkar memiliki perspektif lain dalam memandang
pemerintahan, yang itu hanya bisa dilakukan sebagai oposisi. Golkar
juga bisa menjadi teladan bagaimana seharusnya oposisi yang benar dan
santun, serta tak asal beda, karena pernah berpengalaman di
pemerintahan selama bertahun-tahun.

Itulah sembilan
pertimbangan menjadi oposisi untuk Golkar. Kenapa sembilan? Meniru kata
Yudhoyono di sebuah media, "Ini agak personal. Sembilan adalah angka
keberuntungan saya." [air]

[Non-text portions of this message have been removed]

















      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke