Saya berandai-andai, pada 2014 ada tiga partai besar berlaga. Tiga-tiganya dianggap punya platform nasionalis yang sama: Partai Demokrat, PDI-P dan Golkar. Demokrat mengajukan tokoh muda di jajaran kepemimpinan partai: Anas Urbaningrum. SBY sudah tidak bisa maju lagi sebagai Presiden dan ia tampaknya sadar, Demoktrat harus dipimpin orang muda yang fresh. PDI-P pun sadar, era Megawati sudah berlalu, dan mengajukan: Puan Maharani, mungkin juga plus Budiman Sudjatmiko. Partai Golkar? Nah, kita tahu semua, partai ini masih dipimpin tokoh tua: Aburizal Bakrie. Di belakangnya juga tokoh-tokoh tua. Di Golkar, orang muda seperti Yuddy Krisnandi masih harus menunggu lama untuk bisa tampil, karena tokoh-tokoh tua belum ridho untuk memberi tempat. Mungkin ada tokoh "muda" Hutomo Mandala Putra, tapi ini "stok lama" yang sudah tak laku. Karena rakyat Indonesia sudah bosan dengan tokoh yang itu-itu juga, bisa ditebak, prospek cerah masih di pihak Demokrat dan mungkin PD-P. Sedangkan Golkar? Tampaknya: sudah tenggelam, tetap tenggelam dan bergelimang lumpur pula, seperti nasib Porong, Jawa Timur!
Ini mungkin dugaan saya saja. Tapi mari kita tunggu 2014! Satrio Arismunandar Executive Producer News Division, Trans TV, Lantai 3 Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4034, Fax: 79184558, 79184627 http://satrioarismunandar6.blogspot.com http://satrioarismunandar.multiply.com Verba volant scripta manent... (yang terucap akan lenyap, yang tertulis akan abadi...) --- On Thu, 10/8/09, Dasman djjamaludin <[email protected]> wrote: From: Dasman djjamaludin <[email protected]> Subject: [kahmi_pro_network] Alhamdulillah, Aburizal Bakrie Pimpin Partai Golkar To: [email protected] Date: Thursday, October 8, 2009, 11:51 AM Pertama kali, saya mengucapkan selamat atas terpilihnya Aburizal Bakri sebagai Ketua Umum Partai Golkar menggantikan Ketua Umum yang lama H.Jusuf Kalla. Dengan dibantu Bang Akbar Tandjung, tokoh senior di Partai Golkar, Alfan Alfian, Fachry Ali, tokoh yang saya kenal dengan dekat, yang pertama kali memperkenalkan saya dengan B.M.Diah (Tokoh Pers) yang sama-sama berasal dari Aceh. Saya optimis bahwa Partai Golkar kebih berkembang dari tahun-tahun sebelumnya, karena di masa Bang Akbar memimpin, partai ini berhasil meraih kemenangan dalam Pemilihan Umum. Saat itu hujatan terhadap partai ini bertubi-tubi bahkan banyak di antaranya menghendaki agar Golkar dibubarkan saja. Bagi sebagian orang ini merupakan tindakan emosional, karena membubarkan sebuah partai ada aturan-aturannya. Itulah sebabnya saya membuat Surat Pembaca di Harian Umum Suara Karya, 28 Maret 2001, bahwa “Tuntutan Pembubaran Golkar Tanpa Landasan Sejarah”. Selengkapnya bisa dilihat di http://dasmandj. blogspot. com Hanya yang menjadi permasalahan utama sekarang ini, Golkar terlebih dahulu memperkuat internal partai. Anggota-anggota harus solid hingga ke Tingkat I dan II. Permasalahan menjadi oposisi atau tidak, bukan menjadi penting. Kita bisa mengutip pernyataan Presiden SBY baru-baru ini—bukan karena presiden—karena apa yang dilontarkannya bisa diterima akal sehat. “Jika hal itu demi kebaikan, demi bangsa dan negara,” tidak ada istilah mengemis-ngemis. Apalagi jika dikaitkan dengan adagium: “Kesetiaanku kepada partai berakhir, saat kesetiaanku kepada negara bermula.” (Dasman Djamaluddin) Akses email lebih cepat. Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke Internet Explorer 8 baru yang dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini! http://downloads. yahoo.com/ id/internetexplo rer [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]

