Pernah "Hajar" Golkar, Masuknya Rizal Dipertanyakan

Sabtu, 10 Oktober 2009 | 11.53 WIB


INGGRIED DWI WEDHASWARY



JAKARTA, KOMPAS.com Pilihan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie mengajak 
Rizal Mallarangeng ke jajaran pengurus DPP Partai Golkar kembali dipertanyakan. 
Rizal tak pernah tercatat sebagai kader Partai Golkar. 

Bagi politisi Partai Golkar, Ferry Mursyidan Baldan, Rizal justru punya catatan 
sejarah pernah "menghajar" Partai Golkar pada pemilu presiden Juli lalu. Kala 
itu, Rizal, yang menjadi Juru Bicara Cawapres Boediono, pernah menuding Partai 
Golkar melakukan black campaign terhadap Boediono.

"Agak sulit menerima dia (Rizal). Peserta Munas saja menyoraki saat namanya 
disebut. Bukan hanya soal kaderisasi. Ketika kampanye lalu, kalimat dia 
menghajar, bahkan memaki Golkar. Sekarang tiba-tiba masuk. Bagaimana orang yang 
dulu memaki-maki, kemudian ditampung," kata Ferry saat mengisi diskusi "Golkar 
Kini dan Masa Depan", Sabtu (10/10) di Jakarta.

Masuknya kakak kandung Andi Mallarangeng itu tak hanya dipersoalkan dari sisi 
kaderisasi oleh internal Partai Golkar. Menurut Ferry, track record Rizal yang 
dekat dengan partai lain menjadi pertanyaan tersendiri. 

"Dari sisi paham politiknya kan berbeda, berseberangan. Orang tidak dibatasi 
untuk bersahabat dengan siapa saja, tapi juga harus memperhatikan moral 
berpolitik," kata mantan anggota DPR ini.

Pengamat politik LIPI, Ikrar Nusa Bakti, menilai masuknya Rizal memang cukup 
mengejutkan. Ia mempertanyakan, apakah hal ini menunjukkan longgarnya sistem 
kaderisasi di Partai Golkar. Sebab, Rizal tidak masuk dari sistem kaderisasi 
yang baik.

Politisi Partai Golkar lainnya, Poempida Hidayatullah mengungkapkan, tak ada 
persoalan dari sisi aturan kaderisasi. Sebab, peraturan partai tak melarang 
"orang baru" masuk menjadi pengurus, sepanjang tidak melanggar ketentuan 10 
persen dari total jumlah pengurus.

"Tapi tidak mudah bagi Celi (panggilan Rizal). Dia harus belajar Hymne Golkar, 
menghapal. Dan yang terpenting, dia harus paham ideologi Golkar. Jangan membawa 
ideologi dia sendiri," kata Poempida.

Pandangan lain diungkapkan pengamat politik Fachry Ali. Ia melihat, direkrutnya 
Rizal merupakan refleksi cara berpikir Ical yang respek pada kaum intelektual. 
"Walaupun dari sisi karier politik, banyak yang mempertanyakan. Tapi, Ical 
berpikir, 'tidak penting warna kucing, tapi apakah kucing ini bisa menangkap 
tikus'," kata Fachry.

Ical sendiri, seusai pengumuman pengurus DPP Partai Golkar di Pekanbaru 
beralasan, ia merekrut Rizal karena sudah mengetahui kemampuannya. Ia ingin 
membangun sebuah lembaga kajian baru bagi Partai Golkar. Rizal, menurut dia, 
sudah teruji memimpin Freedom Institute, sebuah lembaga yang didanai oleh 
keluarga Bakrie.

KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary 



 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke