From: Riwanto Tirtosudarmo <tirtosudarmo@ yahoo.com> 
Date: Tue, 13 Oct 2009 14:54:16 -0700 (PDT)
The return of technocracy and the politics without passion.






Kembalinya Teknokrasi dan Hilangnya Rasa dalam Politik 
 
Kekhawatiran para pengamat tentang kecenderungan Yudhoyono untuk merangkul 
lawan-lawan politiknya sesungguhnya agak mengherankan. Bukankah selama ini 
Yudhoyono sudah kita kenal sebagai consensus builder, dan orang yang super 
hati-hati dalam mengambil keputusan. karena  sebuah kerikil pun menurut 
keyakinannya bisa menggulingkan seseorang dari kursi kekuasaan? 
 
Kecenderungan politik Yudhoyono yang integralistik semacam itu memang 
mengkhawatirkan bagi demokrasi dan karena itu memang perlu dikritisi dan 
dikoreksi. 
 
Kecenderungan lain dari pemerintahan Yudhoyono-Budiono adalah akan menguatnya 
teknokrasi. Teknokrasi adalah sebuah model pemerintahan yang mengutamakan 
teknik-teknik pencapaian tujuan yang bersifat rasional dan didasarkan pada 
prinsip-prinsip yang dianggap ilmiah. 
 
Dipilihnya Budiono sebagai wakil presiden oleh Yudhoyono merupakan indikasi 
kuat dari pilihan teknokrasi sebagai model pemerintahan lima tahun kedepan. 
Oleh para pendukungnya Budiono juga telah dianggap sebagai figure yang bersih 
dan pekerja keras. 
 
Birokrasi yang bersih adalah slogan yang dipakai oleh Budiono dalam 
kampanyenya. Latar belakang Budiono sebagai akademisi di bidang ekonomi yang 
dianggap memahami teknik-teknik yang efektif dan efisien dalam upaya mencapai 
tujuan-tujuan pembangunan adalah gambaran yang paling ideal dari seorang 
teknokrat. 
 
Yang menarik adalah adanya kecenderungan dalam masyarakat yang juga 
menginginkan sebuah pemerintahan yang semacam itu. Secara populer sering 
dikatakan bahwa kabinet yang akan datang haruslah mementingkan profesionalitas 
dan kabinet yang dibentuk sebaiknya merupakan kabinet kerja.  
 
Aspirasi semacam ini selain mencerminkan keinginan untuk segera memperoleh 
hasil yang nyata untuk kepentingan rakyat banyak, juga menggambarkan adanya 
kekecewaan terhadap tingkah laku para politisi yang cuma mementingkan diri 
sendiri. Kecenderungan politik yang menjadi sangat ekslusif dan hanya mewakili 
kepentingan diri sendiri dan golongan merupakan lahan yang subur bagi lahirnya 
teknokrasi. 
 
Teknokrasi pernah kuat di Indonesia, terutama pada dua decade pertama 
pemerintahan Orde-Baru. Dominasi para ahli ekonomi dari Fakultas Ekonomi UI 
dibawah kepemimpinan Widjojo Nitisastro telah membuktikan bawa pembangunan 
eknomi telah membawa hasil-hasil yang nyata bagi masyarakat. 
 
Pertumbuhan ekonomi tinggi dalam waktu yang relatif panjang, swasembada pangan 
berhasil dicapai, jumlah penduduk miskin berhasil diturunkan, angka melek huruf 
meningkat, laju pertumbuhan penduduk terkontrol, listrik dan jalan aspal masuk 
desa, dan seterusnya. 
 
Budiono secara sepintas agak mirip Widjojo Nitisastro. Budiono juga pernah 
bekerja di Bappenas dalam masa keemasan teknokrasi Orde Baru. Dalam sebuah 
tulisan untuk menghormati Widjojo Nitisastro, Budiono tidak menyembunyikan 
kekagumannya terhadap Widjojo, dan bukan  mustahil bahwa Widjojo adalah role 
model bagi Budiono. 
 
Belum lama ini kita membaca bahwa Budiono dengan tim ekonominya telah berhasil 
membuat program 100 hari setelah pemerintahan yang baru dilantik. Melihat 
komposisi tim pembuat kebijakan 100 hari yang mayoritas adalah ahli ekonomi, 
besar dugaan bahwa model pemerintahan yang akan dibangun Yudhoyono memang akan 
bersifat teknokratis. 
 
Tak pelak lagi teknokrasi akan kembali berkuasa di Indonesia. Dari sejarah Orde 
Baru kita menyaksikan bahwa menguatnya teknokrasi berjalan parallel dengan 
matinya politik sebagai pembawa aspirasi kepentingan masyarakat banyak. 
Teknokrasi sebagai cara untuk mencapai tujuan pembangunan  dimungkinkan karena 
dikontrolnya politik hampir-hampir secara total oleh Suharto. Aksi-aksi 
menentang strategi pembangunan ekonomi Orde-Baru berarti masuk penjara. Lanskap 
politik saat ini jelas berbeda dengan masa Orde-Baru. 
 
Lanskap politik saat ini tampaknya sangat demokratis tetapi ada yang terasa 
hilang didalamnya. Mungkin yang hilang adalah rasa, passion, komitmen dan 
solidaritas sosial, terhadap nasib rakyat banyak. Politik kita, terjebak dalam 
oligarki partai, dalam kartelisme. Politik kita hari ini kehilangan prinsip 
dasar yang telah diperjuangkan oleh para pendiri republik ini:  solidaritas, 
komitmen social dan inklusifitas. 
 
Dalam lima tahun kedepan kita akan menyaksikan kembalinya teknokrasi dalam 
siyuasi politik yang kehilangan rasa, komitmen dan solidaritas social. The 
return of technocracy and the politics without passion! 
 
Riwanto Tirtosudarmo, Canberra,  14 Oktober 2009.

 
















      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke