Pak Umar, PKI itu atheis bukan ideologinya ????
Kalo atheis berarti tidak percaya sama tuhan. Bagi orang yang beragama siapapun 
dia, tidak percaya sama tuhan itu berarti kafir. Jadi betapa besarnya jasa dan 
kepahlawanan seorang yang tidak percaya tuhan, tidak akan masuk surga (lha 
percaya sama tuhan saja nggak, gimana mau percaya adanya surga).
Jadi kesimpulannya, betapapun berjasa dan pahlawannya seseorang bila dia atheis 
atau kafir. Maka masuklah dia kedalam neraka dan sia-sialah amalnya. Begitulah 
menurut pandangan orang yang beragama (yang merupakan sebagian besar rakyat 
indonesia).

--- On Thu, 15/10/09, Umar Said <[email protected]> wrote:

From: Umar Said <[email protected]>
Subject: [ppiindia] Nyoto tokoh PKI yang luar biasa !
To: [email protected]
Date: Thursday, 15 October, 2009, 7:51 AM






 




    
                  Tulisan ini  juga disajikan di website http://umarsaid. 
free.fr/



Catatan A. Umar Said



Nyoto tokoh PKI yang luar biasa !



Majalah Tempo edisi 5-11 Oktober 2009 telah menyajikan edisi khusus “Njoto

dan tragedi G30S”, yang terdiri dari 36 halaman (dari halaman 49 sampai 85).

Edisi khusus ini merupakan hasil dari usaha banyak orang yang sudah

mencurahkan waktu dan tenaga, untuk menghimpun bermacam-macam bahan mengenai

sejarah hidup Njoto, wakil ketua II  CC PKI, yang dibunuh oleh militer

secara gelap, tanpa pemeriksaan dan tanpa pengadilan, dan karenanya tidak

diketahui kuburannya sampai sekarang.



“Njoto dan tragedi G30S” bisa dibaca sebagai bunga rampai yang disusun oleh

tim edisi khusus Tempo, sesuai dengan gaya dan selera jurnalistik majalah

ini,  tentang berbagai soal yang berkaitan dengan keluargannya, kegiatannya

sebagai pimpinan PKI,  kelebihan-kelebihan nya sebagai politikus sekaligus

sebagai seniman, hubungannya yang erat dengan Bung Karno, masalah-masalah

pribadinya yang berkaitan dengan asmara, dan banyak segi-segi lainnya,

termasuk masalah G30S.



Dengan dibuatnya edisi khusus “Njoto dan tragedi G30S” maka masyarakat umum

mendapat tambahan bahan bacaan atau informasi, yang bisa memperkaya

pengetahuan kita bersama mengenai putra bangsa yang termasuk brilian di

banyak bidang ini. Mudah-mudahan, inisiatif redaksi Tempo dengan menyajikan

edisi khusus tentang Njoto ini menggugah berbagai orang (terutama yang

pernah mengenalnya dari dekat) untuk membuat kesaksian atau karya-karya

lainnya dalam macam-macam bentuk  mengenai tokoh komunis yang luarbiasa ini.



Sebab, Njoto adalah salah satu di antara banyak sekali (artinya , puluhan

ribu atau bahkan ratusan ribu ?) kader-kader PKI  -- dari berbagai

tingkat -- yang sudah dibunuh di banyak tempat di seluruh Indonesia, yang

umumnya terdiri dari pejuang-pejuang rakyat yang sudah lama berjuang dengan

tulus ikhlas dan tidak mementingkan diri sendiri, bersama-sama Bung Karno,

untuk tercapainya cita-cita masyarakat adil dan makmur.



Tulisan berikut di bawah ini adalah sekelumit dari kesaksian saya, sebagai

seorang yang mendapat kesempatan untuk mengenalnya dan juga  pernah

bersama-sama bekerja di Harian Rakyat, dan berhubungan dekat  dengannya

dalam berbagai kegiatan internasional untuk menjalankan garis politik Bung

Karno (antara lain : Konferensi Wartawan Asia-Afrika, Konferensi Pengarang

Asia-Afrika, Konferensi Internasional Anti Pangkalan Militer Asing).



Sebagian kecil dari tulisan yang berikut di bawah ini telah diambil oleh

redaksi Tempo untuk dirangkum dalam edisi khusus “Njoto dan tragedi G30S”

tersebut.



1.. Umar Said



Paris,  14 Oktober 2009



*  * *



Saya mengenal dekat Bung Njoto sejak saya diajaknya untuk menjadi wartawan

di Harian Rakyat akhir  tahun 1953, yaitu sesudah kembali dari perjalanan

saya ke luarnegeri untuk pertama kalinya. Waktu itu  saya menghadiri

Konferensi Hak-hak Pemuda Sedunia di Wina (Austria) sebagai anggota

(merangkap penterjemah bahasa Inggris) delegasi pemuda Indonesia, mewakili

golongan wartawan muda. Sesudah konferensi di Wina selesai, bersama-sama

Bung Suryono Hamzah (yang ketika peristiwa 65 terjadi bekerja di Sekretariat

Negara urusan tamu-tamu negara) saya pergi ke Bukares (Rumania) untuk

mempersiapkan ikut sertanya Indonesia dalam Festival Pemuda Sedunia. Sesudah

selesai mengunjungi Bukares kami berdua diundang oleh Gabungan Pemuda

Demokratik se-Tiongkok untuk berkunjung ke Peking.



Kunjungan kami berdua ke Peking dalam tahun 1953 ini sangat besar

pengaruhnya bagi perkembangan pandangan politik  saya tentang berbagai hal,

terutama mengenai Tiongkok.  Saya datang di Peking ketika kemerdekaan

Tiongkok baru 4 tahun diproklamasikan oleh Mao Tsetung di Tian An Men, yang

waktu itu masih merupakan lapangan yang tidak begitu besar.



Selama dalam perjalanan itu saya membuat  reportase bersambung (terdiri dari

banyak artikel) yang dimuat oleh suratkabar SIN PO, yang membiayai tiket

pesawat terbang KLM  untuk saya dari Jakarta-Zurich. Rupanya tulisan-tulisan

saya ini menarik perhatian banyak orang, termasuk Bung Njoto, yang waktu itu

sudah aktif sejak lama di Harian Rakyat. Dalam suatu kesempatan, waktu

bertemu dengannya (di pertengahan atau akhir 1953), ia menawari saya untuk

bekerja sebagai anggota redaksi Harian Rakyat. Sejak itulah saya sering

bertemu dengannya, terutama pada malam hari ketika ia datang untuk menulis

artikel atau editorial dan pojok untuk Harian Rakyat, sesudah kesibukannya

yang padat sekali sebagai pimpinan PKI di samping berbagai kegiatannya yang

lain-lain.



Kerja bersama di Harian Rakyat



Dari pekerjaan saya sebagai anggota redaksi Harian Rakyat antara akhir  1953

sampai pertengahan 1956, dan sering bekerja bersama-sama dengannya, saya

kagum terhadap sosok pemimpin PKI yang masih muda sekali (sekitar 27 tahun

waktu itu) tetapi yang kelihatan hebat sekali dalam banyak hal. Dalam

diskusi-diskusi tentang berbagai hal yang berkaitan dengan isi suratkabar

partai ini  kelihatan sekali ia menguasai banyak soal secara baik. Sudah

tentu, sebagai wakil ketua CC PKI, ia tahu banyak mengenai seluk-beluk dunia

politik Indonesia  waktu itu.



Tetapi, dalam diskusi-diskusi dalam redaksi itu juga kelihatan segi-seginya

yang kuat dan menonjol dalam masalah sastra, musik, atau seni pada umumnya.

Bagi saya, Bung Njoto adalah seorang seniman yang ulung di samping seorang

politikus yang sangat brilian, dan seorang publisis atau wartawan dan

sekaligus sastrawan yang berbakat. Karena itu, tidak salahlah kiranya Bung

Karno memilihnya sebagai pembantu dan teman seperjuangannya.



Seingat saya, selama saya bekerja di redaksi Harian Rakyat, ia tidak pernah

marah-marah dengan kasar terhadap siapa saja. Sidang-sidang redaksi di bawah

pimpinannya selalu  berlangsung dengan sejuk dan menyenangkan. Yang sampai

sekarang masih saya ingat adalah peringatannya dalam menulis sesuatu. Ia

mengatakan supaya semua tulisan-tulisan diperiksa berkali-kali sebelum

diserahkan kepada redaktur yang bertanggungjawab. Sebab, sekali ada

kesalahan, maka akan besar akibatnya kalau sudah cetak.



Seingat saya lagi, tidak seorang pun di antara anggota redaksi Harian

Rakyat, yang menganggap sosok Bung Njoto sebagai orang yang sombong atau

sok, walaupun ia adalah wakil ketua CC PKI dan dekat dengan Bung Karno, dan

disukai oleh banyak orang di Lekra atau berbagai kalangan yang luas lainnya.



Dalam pergaulan di luar pekerjaan redaksi, Bung Njoto juga cukup luwes,

lincah dan hangat. Saya masih ingat ketika kami sering bersama-sama

dengannya makan nasi dengan gulai kambing di jalan Gondangdia Lama pagi-pagi

sekali (masih gelap) sesudah koran mulai dicetak. Atau makan bakmi di jalan

Krekot. Tetapi suatu pengalaman yang tetap terkenang dalam ingatan saya

sampai sekarang (sesudah lebih dari 50 tahun) ialah ketika saya berangkat

dengan pesawat terbang menuju Padang dalam tahun 1956 untuk mulai memimpin

suatu suratkabar.



“Orang luar” memasuki daerah Minangkabau



Ceritanya begini. Pada suatu hari, dalam pertengahan tahun 1956, Bung Njoto

memberitahukan kepada saya bahwa ada suratkabar di Padang (Harian

PENERANGAN) , yang dterbitkan oleh pimpinan Baperki cabang Padang,  yang

juga seorang  tokoh Katolik, bernama Lie Oen Sam, membutuhkan penggantian

pimpinan redaksi.  Ia menawarkan lowongan yang baik ini kepada saya, dan

menanyakan apakah saya bersedia menerimanya. Ia menyakan itu karena waktu

itu di Sumatra Barat sedang terjadi ketegangan karena pergolakan politik

yang pada pokoknya menentang berbagai politik pemerintah pusat (Jakarta).

Dan suara-suara anti Bung Karno dan anti-PKI juga sudah sejak lama

berkumandang dengan lantang waktu itu.



Bagi saya, tawaran Bung Njoto ini adalah suatu hal yang membanggakan hati

saya. Sebab, waktu itu saya berumur 28 tahun, dan belum kawin.  Dan walaupun

pengalaman saya sebagai wartawan baru 5 tahun lebih (di harian Indonesia

Raya dari 1950-1953, dan di Harian Rakyat dari akhir 1953 sampai pertengahan

1956) saya bertekad untuk mengambil risiko dengan memimpin suatu suratkabar

di daerah yang sedang bergolak dan anti-Sukarno sekaligus anti-PKI.



Rupanya, Bung Njoto juga cukup mengerti akan risiko yang mungkin saya hadapi

dengan pekerjaan memimpin suratkabar di daerah yang dikuasai secara mutlak

oleh Masyumi (bersama PSI)  yang bersekutu dengan golongan militer yang

dipimpin oleh Letkol Achmad Husein. Oleh karena itu saya dianjurkannya untuk

bertemu dan minta nasehat-nasehat kepada Bung Bachtarudin, anggota CC PKI

yang berasal dari Sumatra Barat dan yang cukup terkenal di daerahnya karena

perjuangannya di jaman revolusi 45 sebagai komisaris besar polisi.



Keprihatinan (atau kehati-hatian) Bung Njoto terhadap segala risiko yang

saya hadapi di daerah yang sedang bergolak waktu itu adalah wajar dan ada

dasarnya. Sebab, saya adalah wartawan yang terang-terangan telah bekerja di

Harian Rakyat, organ sentral PKI. Ditambah lagi saya berasal dari Jawa

Timur. Bagi “orang luar” semacam saya, ditambah dengan suasana daerah yang

tidak ramah kepada golongan yang mendukung politik Bung Karno pada waktu

itu, adalah sulit sekali untuk “memasuki “ daerah Minangkabau.



Berkat bantuan Bung Njoto saya beruntung mendapatkan berbagai nasehat yang

berharga sekali  bagi saya dari Bung Bachtarudin untuk memasuki masyarakat

Minangkabau dengan memimpin Harian PENERANGAN, sampai tahun 1960.



Bahwa Bung Njoto memberi perhatian besar kepada pekerjaan baru saya sebagai

pemimpin redaksi di daerah Masyumi dan PSI yang bersekutu dengan Letkol

Achmad Husein ( yang kemudian menjadi pusat pembrontakan PRRI)

termanifestasi ketika ia memerlukan mengantar keberangkatan saya ke Padang

di lapangan terbang Kemajoran.



Tindakannya yang demikian itu sangat membesarkan hati saya waktu itu. Sama

besarnya ketika  saya ditugaskan olehnya sebagai wartawan Harian Rakyat

untuk meng-cover Konferensi AA di Bandung yang bersejarah itu dalam

tahun1955.



Titik-titik pertemuan antara PWAA, Bung Njoto dan Bung Karno



Ketika saya sudah pindah ke Jakarta dalam tahun 1960 untuk menjadi pemimpin

redaksi suratkabar Harian EKONOMI NASIONAL maka hubungan saya dengan Bung

Njoto mulai makin dekat dan juga makin sering bertemu. Sebab, ia memberikan

perhatian besar terhadap teman-teman wartawan yang melakukan

kegiatan-kegiatan melalui PWI, PWAA, KPAA (Konferensi Pengarang Asia-Afrika)

OISRAA (Organisasi Indonesia untuk Setiakawan Rakyat Asia Afrika), Ganefo,

KIAPMA  (Konferensi Internasional Anti Pangkalan Militer Asing), Komite

Perdamaian dll dll.



Karena saya dipilih sebagai bendahara Panitia Pusat KWAA (Konferensi

Wartawan Asia-Afrika) dan kemudian juga dipilih sebagai bendahara PWI Pusat

merangkap bendahara PWAA, maka hubungan saya dengan Bung Njoto menjadi makin

erat. Karena saya waktu itu sering sekali melakukan berbagai misi untuk PWAA

ke luar negeri dan ikut menjalankan politik Bung Karno mengenai perjuangan

melawan nekolim (neokolonialisme dan imperialisme) dalam skala Asia–Afrika

maka saya menyaksikan bahwa dalam banyak hal ada titik-titik pertemuan

antara PWAA, Bung Njoto dan Bung Karno.



Dari kegiatan-kegiatan itu semualah saya dapat mengetahui bahwa Bung Njoto

mempunyai hubungan atau kenalan yang banyak dengan tokoh-tokoh besar di

dalam negeri dan di luar negeri, dan karenanya mempunyai wawasan yang cukup

luas tentang masalah internasional, terutama yang berkaitan dengan

perjuangan rakyat Asia-Afrika melawan nekolim. Mungkin, ini semua jugalah

yang  merupakan latarbelakang  kedekatan politik dan jiwa antara Bung Karno

dengan Bung Njoto. Tidak salahlah kalau ada orang mengatakan bahwa di antara

tokoh-tokoh politik di Indonesia pada waktu itu, baik yang dari golongan

nasionalis, agama maupun komunis, Njotolah yang termasuk paling dekat dengan

Bung Karno.



Saya tidak kenal dari dekat dengan pemimpin-pemimpin tingkat tinggi PKI

lainnya, umpamanya Aidit, Lukman, Sudisman, Sakirman, atau Oloan Hutapea.

Namun saya merasa pernah merasa dekat dengan Njoto. Karenanya, dengan tidak

ragu-ragu saya bisa mengatakan bahwa Njoto adalah tokoh besar PKI yang

mempunyai banyak keunggulan yang menonjol sekali, dan karenanya ia telah

menjadi kebanggaan dan kekaguman bagi banyak orang.



====



PS.   Mengingat pentingnya isi edisi khusus majalah Tempo “ Njoto dan

tragedi G30 S” yang menarik untuk diketahui oleh lebih banyak orang sebagai

bahan bacaan tambahan, maka website  http://umarsaid. free.fr/  menyajikan

berbagai tulisan dalam edisi khusus tersebut.



[Non-text portions of this message have been removed]




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke