Jawa Pos
 Sabtu, 17 Oktober 2009 ] 

Mimpi Calon Menteri 
Oleh: Arfanda Siregar


HINGGA17 Oktober, para pelamar calon menteri Kabinet Indonesia Bersatu jilid II 
harus terus menghidupkan handphone (HP). Mana tahu, kalau nasib lagi mujur, 
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan menghubungi pelamar yang pas 
menjadi pembantunya. 

Kebiasaan menghidupkan telepon genggam seharusnya berlanjut hingga menjadi 
menteri. Waktu kerja menteri melayani publik tidak seperti pekerja kantoran 
yang hanya setengah hari. Stop dreaming, start action, menteri tidak pernah 
berhenti melayani publik walau saatnya bermimpi, seperti kata seorang ahli 
motivator. 

Hanya Mimpi 

Kebanyakan menteri di negeri ini bagai menara gading, terpisah atau malah 
memisahkan diri dengan rakyatnya. Jangan terlalu berharap mampu menghubungi HP 
menteri, sekadar mengetahui nomor HP-nya pun rakyat tidak pernah mendapatkan 
akses. Menteri-menteri kita itu katanya saja akan bekerja siang dan malam untuk 
kemakmuran rakyat.

Kenyataannya, mereka memperjuangkan kemakmuran diri sendiri dan kroni. Fakta 
bahwa kehidupan rakyat melarat tidak membuat hati mereka miris. Berbagai 
kemewahan dan fasilitas berlebih yang didapat, baik legal maupun ilegal, 
dilahap di tengah-tengah pandangan nanar mata rakyat yang lapar. Empati menteri 
atas karut-marut kehidupan publik sangat tipis sehingga tidak peduli bahwa 
tindakan mereka sesungguhnya sangat menyakiti hati rakyat.

Lihat saja di jalan. Kalau ada menteri yang melintas, seluruh rakyat pembayar 
pajak harus menepi dan memberikan jalan kepadanya. Selama lima tahun terakhir 
ini, mobil menteri tak hanya dikawal moge (motor gede) atau mobil polisi. Di 
belakang mobil menteri masih ada sebuah jip berlampu sirene besar. 

Pelayanan kesehatan menteri juga berbeda dengan rakyat. Menteri tidak perlu 
berdesak-desakan sampai mau menjemput ajal menunggu giliran pelayanan kesehatan.

Sekarang SBY begitu bangga dengan program jaminan kesehatan masyarakat miskin 
(jamkeskin) yang, konon, untuk mendapatkan surat miskin masyarakat sudah 
kehabisan napas. Sementara itu, setiap menteri di Indonesia mendapatkan layanan 
kesehatan VVIP, boleh memilih dokter hingga rumah sakit, dalam dan luar negeri. 
Nilai jaminan yang berdasar Peraturan Menteri Keuangan No 115/PMK.02/2009 
mencapai Rp 24 miliar dan dinikmati bersama keluarga. 

Berbagai keistimewaan yang lain akan menjadi sangat menyakitkan rakyat kalau 
dibeber satu per satu. Yang pasti, di negeri ini seorang menteri adalah warga 
negara terhormat yang dibekali berbagai keistimewaan. Dan, bisa saja untuk 
memperoleh itu mereka mengorbankan hak-hak rakyat.

Karena itu, tak usah heran peminat yang kepengin ditelepon SBY membeludak. SBY 
sendiri terus terang telah menerima ratusan proposal dari mereka yang 
mengharapkan menjadi bagian dari 34 menteri kabinet mendatang. Proposal ada 
yang disampaikan lewat atau menelikung partai politik, organisasi masyarakat, 
atau individu pelamar. Cara penyampaiannya pun beraneka macam. Ada yang 
langsung kepada SBY, Ibu Negara Ani Yudhoyono, Sekretaris Negara Hatta Rajasa, 
dan elite Partai Demokrat. Bahkan, orang tua SBY yang renta pun menjadi sasaran 
para pemburu jabatan menteri.

Bukan Sekadar Mainan 

Padahal, menjadi menteri adalah pengabdian, bukan sekadar mengejar keistimewaan 
yang kelak didapat sebagai pembantu presiden. Dalam Kamus Besar Bahasa 
Indonesia, mengabdi adalah berjanji untuk benar-benar menghambakan diri kepada 
nusa bangsa atau memperhambakan diri kepada rakyat. Jabatan menteri bukan 
mainan karena yang dipertaruhkan bukan hanya individu, keluarga, atau kelompok 
bersangkutan, tapi nasib masyarakat dan bangsa ini ke depan. Cukup sudah cerita 
bangsa ini terseok-seok karena kepentingan sesaat dan waktunya menatap 
tantangan dan kepentingan bangsa lebih besar. 

Orang yang memahami berat dan besarnya tanggung jawab menjadi menteri pasti 
tidak akan mengocok-ngocokkan diri kepada presiden. Bukan saja tugasnya yang 
berat, tetapi juga berbagai fasilitas yang bakal diterima sudah melawan kodrat 
dasar profesi menteri. Yakni, seorang yang bersumpah dan berjanji akan selalu 
mengabdi kepada bangsa dan negara tanpa perasaan malu menikmati berbagai 
perlakuan istimewa yang tidak mungkin dirasakan oleh rakyat yang menggajinya.

Orang-orang yang konsisten dengan kodrat sebagai pejabat publik bukan tidak ada 
di sini. Salah seorang di antara mereka adalah Bung Hatta. Suatu hari beliau 
kepengin membeli sepatu bermerek Bally yang bermutu tinggi. Saat itu dia tidak 
punya uang. Untuk memendam keinginannya, dia menyimpan guntingan iklan yang 
memuat alamat penjualnya, lalu berusaha menabung agar bisa membeli sepatu 
idaman tersebut. Namun, uang tabungan, tampaknya, tidak pernah mencukupi karena 
selalu terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan 
handai tolan yang datang kepadanya untuk meminta pertolongan.

Hingga akhir hayat Bung Hatta, sepatu Bally idaman tidak pernah terbeli karena 
tabungannya tak pernah mencukupi. Hingga ajal memanggil, iklan sepatu itu masih 
tersimpan dan menjadi saksi keinginan sederhana dari seorang Hatta. Padahal, 
jika ingin memanfaatkan posisinya waktu itu, mudah saja bagi dia memperoleh 
sepatu Bally. Misalnya, meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang 
menjadi kenalan Bung Hatta.

Bukan hanya Hatta yang demikian. Orang sekaliber Presiden Amerika Serikat John 
Fitzgerald Kennedy pun berpesan kepada warga negaranya untuk tidak berpikir 
mendapatkan keuntungan dari negaranya. ''Ask not what your country can do for 
you. Ask what you can do for your country.'' Sudah kodrat pejabat publik 
mengabdikan diri kepada rakyat tanpa pamrih apa pun. Seluruh tenaga, pikiran, 
dan waktu digunakan untuk mengabdikan diri kepada rakyat. Tidak terkecuali pada 
waktu sebagian besar orang bermimpi, menteri harus tetap tampil segar 
mendengarkan keluh kesah rakyat.

Karena itu, Anda yang akhirnya ditakdirkan ditelepon SBY, jalankanlah kodrat 
Anda tersebut dengan baik. Yaitu, menjadi seorang pejabat publik yang baru 
bermimpi setelah semua rakyat terbuai dalam mimpi. Semoga. (*)

*). Arfanda Siregar , dosen Politeknik Negeri Medan 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke