Seperti diketahui bersama, yang sekarang kan masih seguru seilmu dengan
(Alm) Eyang..
Jadi jangan heran.. karena pola serupa sudah dilakukan.. menempatkan
orang di
'tempat yang salah'..

Pola menghambat/memperlambat regenerasi paling mudah/teruji dilakukan..
untuk mendapat jabatan 'seumur hidup'.. :-(

CMIIW..

-- 
Wassalam,

Irwan.K
"Better team works could lead us to better results"
http://irwank.blogspot.com

Pada 22 Oktober 2009 18:36, Satrio Arismunandar <
[email protected]> menulis:

>
>
> From: Rino <rino.azhari@ vivanews. com>
> To: jejaklangkah@ googlegroups. com
> Sent: Wed, October 21, 2009 5:31:16 PM
> Subject: SBY dan Pemilu 2014
>
> Semoga Teori Boni Hargens ini salah
>
> Tapi tidak ada salahnya untuk mewaspadai hal ini.
>
> JAKARTA -
> Pengamat politik Universitas Indonesia (UI) Boni Hargens menilai ada
> rencana
> tersembunyi yang berbahaya terkait pemilihan orang-orang yang kontroversial
> dalam kabinet 2009-2014. Rencana itu menurut Boni, bisa terkait dengan
> pencitraan SBY setelah 2014.
>
> "Nampaknya SBY memilih orang-orang yang tidak kredibel atau ada yang
> kredibel namun ditempatkan di tempat yang sama sekali bukan bidangnya itu
> bertujuan agar dirinya tetap menjadi yang terbaik di antara bawahannya,"
> papar Boni di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (21/10/2009) .
>
> Dengan begitu, sambung dia, maka pada 2014 nanti ada opini yang akan
> dikembangkan bahwa tidak ada anak bangsa yang lebih baik daripada SBY.
>
> "Kepemimpinannya juga harus dilanjutkan pasca 2014 melalui amandemen
> kelima UUD 45," ujar Boni.
>
> Boni mencontohkan, ada tiga orang dari parpol dalam pemilu lalu yang gagal
> menjadi anggota DPR dan DPD. "Orang-orang yang tidak diinginkan rakyat ini
> diangkatnya menjadi menteri," kata dia.
>
> SBY, imbuh dia, tahu persis bahwa dengan memiliki bawahan-bawahan
> berkemampuan
> standar, maka dirinya saja yang bisa eksis dan dihormati sebagai pemimpin
> yang
> terbaik.
>
> "Tengok saja ada Patrialis Akbar yang gagal menjadi anggota DPD, kemudian
> diplot menjadi menkum HAM. Terus ada Agung Laksono yang diangkat menjadi
> Menko
> Kesra. Ini kan aneh, orang yang gak disukai oleh rakyat disuruh ngurusin
> rakyat. Terus ada juga Wasekjen PKB, Helmy Faishal yang juga tidak terpilih
> pada pemilu lalu dan tidak jelas track recordnya, juga diangkat jadi
> menteri," tambah Boni.
>
> SBY kelihatannya tahu persis peta kader-kader potensial dari partai
> pendukung,
> sehingga hanya orang-orang "kacangan" yang diambil oleh SBY dan bukan
> kader terbaik partai. Boni pun menyayangkan sikap para petinggi partai yang
> tidak menyadari hal ini dan menjadi pion yang dimainkan tanpa sadar.
>
> "Lihat saja ada banyak nama di tubuh PKS yang lebih memiliki kapasitas
> sebagai menteri dengan latar belakang pendidikan yang tinggi serta dari
> kalangan generasi muda, tapi ini tidak dilirik kan oleh SBY. SBY justru
> mengambil
> yang tua-tua karena yang tua-tua ini tidak akan menjadi saingannya kelak.
> Itu
> baru PKS, belum lagi dengan PKB, PAN, PPP serta Golkar yang terakhir.
> Seluruh
> kader yang diambil oleh SBY bukanlah kader terbaik," imbuhnya.
>
> Di kalangan internal PD atau para pendukung SBY pun sama. SBY menganggap
> kader
> terbaik dari Partai Demokrat akan berbahaya dan mengalahkan SBY jika diberi
> pos
> yang strategis.
>
> "Contohnya adalah Andi Malarangeng yang ditempatkan menjadi Menteri Pemuda
> dan Olah Raga. SBY tahu dia harus memberi jatah bagi Andi, namun jatah itu
> janganlah posisi yang bisa membuatnya bersinar. Maka diletakkan lah Andi di
> Menpora, jadi hutangnya pada Andi lunas, sekaligus meredupkan sinar Andi.
> Kalau
> SBY memang mau menjadikan Andi salah satu tokoh, kan mestinya dia
> ditempatkan
> di posisi yang lebih pas, sebagai Mensesneg ataupun Sekab karena dia juga
> sudah
> berpengalaman di sana," tegasnya.
>
> Nasib serupa juga menimpa kedua adik Andi Mallarangeng. SBY membuat mereka
> seperti tokoh-tokoh politik yang dibenci rakyat, sehingga mereka yang
> dikenal
> sebagai pengkhianat ulung semakin dibenci oleh rakyat dan tidak mungkin
> bisa
> berkiprah jika tidak berada dibawah ketiak SBY.
>
> SBY juga cerdas dalam berstrategi untuk menempatkan orang-orang tua di
> sekitarnya. "Dia jadikan Djoko Suyanto menjadi Menko Polhukam. Dia tahu
> nasib dan popularitas Djoko tidak akan jauh berbeda dengan Widodo AS yang
> redup
> begitu selesai menjabat. Jadi tidak mungkin Djoko kemudian menjadi
> saingannya
> kelak. Begitu juga Hatta Rajasa yang orang teknis. Jika dia ditempatkan di
> bidang teknis tentunya dia akan berkibar juga. Namun dia justru ditempatkan
> sebagai Menko Perekonomian, di mana dia tidak bisa bekerja maksimal,"
> paparnya.
>
> Boni pun berani bertaruh, mantan ketua dewan pakar tim sukses SBY-Boediono
> yang
> juga pengamat politik yang cemerlang Bima Arya Sugiarto tidak akan
> mendapatkan
> porsi apapun dalam kabinet mendatang.
>
> "Banyak orang mengira bahwa Bima akan ditempatkan menjadi juru bicara
> presiden karena penampilannya yang menarik, cerdas, lulusan luar negeri,
> dan
> santun dalam berbicara, tapi saya bertaruh justru karena
> kelebihan-kelebihan nya
> itu Bima tidak akan mendapatkan posisi itu.
>
> Jika Bima ditempatkan di posisi itu, maka akan berkibar kariernya dan itu
> yang
> tidak diingikan oleh SBY," jelasnya.
>
> Analisa lainnya menurut Boni, juga bisa dilihat dari dukungan kepada
> orang-orang yang menjadi ketua lembaga tinggi Negara seperti MPR, DPD, dan
> bahkan pada Partai Golkar. "MPR kita tahu TK melakukan blunder ketika
> menjadi ketua MPR, ini diketahui persis oleh SBY dan TK pun kemudian
> menjadi
> bulan-bulanan. Demikian juga dengan ketua DPD yang tidak akan bersinar dan
> biasa-biasa saja," kata dia.
>
> Sementara untuk Golkar, SBY lebih mendukung Aburizal Bakrie yang bermasalah
> dengan Lapindo. Jadi ini memang strategi yang sangat cerdas dengan mengunci
> semua simpul yang bisa menurunkan popularitasnya.
>
> Jika SBY tidak mungkin lagi berkiprah pada 2014 karena mungkin kuatnya
> penolakan untuk mengamandemen UUD terutama yang terkait masa jabatan
> presiden,
> maka bisa jadi pula hal kemudian bisa dilimpahkan bagi keuntungan karier
> politik kedua putranya.
>
> "Yah kalau diri sendiri tidak bisa, paling tidak hal itu akan berguna bagi
> kedua anaknya. SBY tentunya tidak menginginkan ada anak muda yang cerdas
> dan
> bersinar berada dalam pemerintahannya saat ini karena jika mereka
> dimasukkan
> maka nama mereka tentunya akan sangat popular dan justru kontraproduktif
> dan
> berdampak jelek bagi karier politik kedua putranya itu kelak. SBY tentunya
> menginginkan minimal salah satu putranya dapat mengikuti jejaknya kelak,"
> tandasnya. (lam)
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke