Kementerian Dalam Negeri Banglades mengumumkan bahwa pemerintah negara tersebut 
telah melarang aktivitas Organisasi Islam Hizb-ut Tahrir.

Menteri Dalam Negeri Banglades Abdus Sobhan Sikdar mengatakan pemerintah 
khawatir kehadiran Hizb-ut Tahrir bisa mengancam kehidupan yang damai di negara 
itu.

Ini adalah kejadian yang pertama sebuah organisasi Islam yang tidak tersangkut 
aksi teroris dibubarkan kegiatannya.

Hizb-ut Tahrir tidak menerima pelarangan ini dan berjanji tidak akan mendiamkan 
langkah pemerintah yang mereka sebut sebagai kesalahan dari sikap yang 
"berpikiran pro-imperialis."

Pemberontakan

"Pemerintah telah memutuskan untuk melarang Hizb-ut Tahrir karena mereka 
melawan kepentingan hukum dan mengancam keamanan publik," kata Sikdar.

Hizb-ut Tahrir telah aktif di Bangladesh sejak 8 tahun terakhir.

Sekitar 40 anggota Hizb-ut Tahrir ditangkap pada awal tahun ini setelah mereka 
dituding terlibat penyebaran pamflet mendukung aksi pemberontakan yang 
dilakukan oleh pasukan penjaga perbatasan dan mengakibatkan 50 tentara 
Banglades tewas.

Sikdar mengatakan agen intelijen negara itu telah mengawasi aktivitas 12 
organisasi yang ada di negara tersebut.

Diluar itu, empat organisasi lain sebelumnya juga telah dilarang beraktifitas 
-mereka dicurigai telah terlibat dalam kegiatan yang disebut oleh pemerintah 
sebagai kegiatan "teroris" dan "anti pemerintah".

Ketua Hiz-ut Tahrir Banglades, Profesor Mohiuddin Ahmed menyangkal kelompoknya 
terlibat dalam aktivitas teroris.

Dia mengatakan kelompoknya percaya bahwa terorisme dan aksi kekerasan lainnya 
berlawanan dengan ajaran Islam.

Hizb-ut Tahrir telah berada di Banglades selama 8 tahun

Professor Ahmed mengatakan langkah yang dilakukan oleh pemerintah terhadap 
organisasinya ini telah gagal di masa lalu dan tidak akan sukses juga jika 
langkah itu dilakukan lagi saat ini.

"Saya katakan secara terbuka kepada anda kami tidak akan tinggal diam terhadap 
aksi pemerintah dimanapun di dunia ini yang menutup organisasi kami," katanya.

"Kami selalu menyuarakan perlawanan terhadap imperialis. Kami akan melanjutkan 
upaya untuk menunjukan pemikiran pemerintah yang pro imperialis," lanjutnya.

Menteri Dalam Negeri Banglades, Abdus Sobhan Sikdar mengatakan agen intelijen 
akan melanjutkan proses pengawasan terhadap Hizb-ut Tahrir untuk memastikan 
organisasi tersebut tidak muncul kembali dengan menggunakan nama yang berbeda.

Editor BBC Bengali, Sabir Mustafa mengatakan Hizb-ut Tahrir - yang dikenal 
sebagai organisasi yang mempunyai jaringan global - belakangan ini memang aktif 
memperkuat kegiatannya di berbagai universitas.

Menurut dia, pemerintah mengkhawatirkan peningkatan pengaruh mereka terhadap 
para mahasiswa.
 

Sumber:
http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2009/10/091023_bangladeshban.shtml

Kirim email ke