Human trafficking (Perdagangan Manusia) ala Australia; mengirim refrugees (pengungsi pencari suaka) ke Indonesia, dengan alasan "kemanusiaan".
Kalau pemerintah AUS begitu besar kepeduliannya terhadap prinsip-prinsip kemanusiaan, kenapa para refrugees ini tidak diterima saja untuk menetap dan menjadi WN Australia? http://www.detiknews.com/read/2009/10/26/194303/1229002/10/bawa-78-imigran-g elap-kapal-australia-dilarang-berlabuh-di-kepri?991102605 Senin, 26/10/2009 19:43 WIB Bawa 78 Imigran Gelap, Kapal Australia Dilarang Berlabuh di Kepri Chaidir Anwar Tanjung - detikNews Pekanbaru - Aparat dari TNI AL dan Bea Cukai melarang kapal berbendera Australia bersandar di Pelabuhan Pulau Pangkil, Bintan, Kepulauan Riau. Kapal tersebut ditengarai akan menurunkan 78 imigran gelap asal Srilanka. Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 16.00 WIB, Senin (26/10/2009). Petugas Bea Cukai dan TNI AL langsung bergerak saat mendengar kabar kedatangan kapal tersebut. "Mereka mengaku sudah berkoordinasi dengan Departemen Hukum dan HAM untuk mendaratkan para imigran gelap itu di sini. Para imigran katanya mau dikirim ke Rumah Tahanan Detensi Imigrasi (Rudenim) Tanjung Pinang," kata seorang petugas yang tak ingin disebutkan namanya. Namun saat dicek ke Kanwil Departemen Hukum dan HAM Kepri, informasi tersebut tidak benar. Kanwil Departemen Hukum dan HAM Kepri menegaskan, tidak ada perintah dari Departemen Hukum dan HAM mengenai puluhan imigran gelap tersebut. Atas dasar itulah aparat berwenang melarang kapal tersebut bersandar. Kepala Kanwil Departemen Hukum dan HAM Kepri, I Gde Widiarta, membenarkan hal tersebut. Menurutnya, pihaknya tidak pernah mendapatkan rekomendasi dari pusat untuk menerima para imigran gelap tersebut. "Tidak ada rekomendasi dari pusat untuk menahan mereka (imigran gelap) itu di sini," kata Widiarta saat dihubungi wartawan. Hingga pukul 19.20 WIB, kapal tersebut masih tertahan sekitar 10 mil dari bibir pantai. Petugas tetap melarang kapal tersebut bersandar, meski berulangkali berusaha melakukan negosiasi. Belum ada keterangan resmi baik dari pihak Bea Cukai maupun TNI AL mengenai peristiwa ini. (cha/djo) http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/27/03241542/kapal.berbendera.austra lia.angkut.warga.sri.lanka Foto: Ratusan imigran asal Sri Lanka beramai-ramai mengangkat poster berisi harapan, tuntutan, dan pertanyaan mereka di kapal kayu yang sandar di pelabuhan Indah Kiat, Cilegon, Provinsi Banten, Senin (26/10). Sudah dua minggu imigran tersebut terkatung-katung di kapal kayu menunggu kejelasan nasib mereka. MIGRASI Kapal Berbendera Australia Angkut Warga Sri Lanka Selasa, 27 Oktober 2009 | 03:24 WIB Tanjung Pinang, Kompas - Sebuah kapal berbendera Australia, Oceanic Vicking, yang mengangkut imigran asal Sri Lanka, hari Senin (26/10) memasuki perairan Pulau Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Kapal perang atau KRI TNI Angkatan Laut sampai saat ini masih terus mengawasi kapal tersebut. Komandan Pangkalan Utama TNI AL IV Tanjung Pinang Laksamana Pertama SM Darojatim mengatakan, kapal itu sudah lego jangkar di perairan Bintan dan diawasi oleh KRI Kelabang. Kedatangan tak diundang kapal yang memuat 78 imigran asal Sri Lanka ini melengkapi rentetan kisah masuknya manusia-manusia kapal yang belakangan ini semakin deras mengalir ke wilayah Indonesia dengan tujuan negara lain. Dua pekan lalu, sebuah kapal kayu dengan 255 imigran asal Sri Lanka juga sandar di pelabuhan bongkar muat Indah Kiat, Cilegon, Provinsi Banten. Menurut informasi, kapal Oceanic Vicking ini berlayar dari Pulau Christmas, Australia, sejak 22 Oktober. Kapal itu dijadwalkan tiba atau memasuki perairan Batam atau Bintan tanggal 26 Oktober 2009. "Namun, kapal baru dapat masuk jika sudah ada izin keamanan," kata Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut Batam Kolonel Purwanto. Meski belum bersandar di pelabuhan Kijang di Bintan, beberapa wartawan luar negeri, khususnya Australia, sudah siap menunggu kedatangan kapal tersebut. Sementara itu, di Cilegon, ratusan imigran asal Sri Lanka lainnya yang dua minggu terakhir bertahan di kapal kayu yang sandar di pelabuhan bongkar muat Indah Kiat kemarin malah menggelar aksi unjuk rasa mempertanyakan nasib mereka. Hingga dua minggu ini, dari 255 imigran asal Sri Lanka di kapal kayu yang dari semula berniat menuju Australia, hanya empat orang yang bersedia turun ke penginapan, yang berjarak sekitar 500 meter, yang sudah disediakan pihak pengelola pelabuhan Indah Kiat. Meski sebagian besar menolak turun, sejak mereka berada di pelabuhan Indah Kiat, para imigran itu selalu mendapatkan suplai makanan dan layanan kesehatan. Mereka tengah dicarikan solusi, kata Kepala Divisi Imigrasi Kantor Wilayah Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Banten, Harry Purwanto. Namun, apabila tidak mau turun, langkah selanjutnya tak bisa diproses. Membanjirnya arus pengungsi dengan tujuan Australia melalui wilayah Indonesia ini juga mendapat pengawasan serius dari pihak Interpol. "Polisi sejauh ini terus memantau keberadaan para pengungsi di seluruh wilayah Indonesia," ujar Kepala Bidang LO dan Perbatasan National Central Bureau Interpol Indonesia Komisaris Besar Minton M Simanjuntak yang dihubungi Kompas semalam. Dalam waktu dekat, tanggal 11-14 November 2009, Indonesia dan Pemerintah Australia bahkan akan menggelar pelatihan untuk mengantisipasi perdagangan dan penyelundupan manusia yang menjadi perhatian kedua negara belakangan ini. (FER/CAS/ONG)

