Tulisan yang bijak, layak direnungkan bersama..
--- In [email protected], Ananto <pratikno.ana...@...> wrote: > > Mati Syahid dan Pemahaman Imporan > Oleh: KH. A. Mustofa Bisri > > > > Kesukaan meniru atau `mengimpor' sesuatu dari luar negeri mungkin sudah > menjadi bawaan setiap bangsa dari negeri berkembang; bukan khas bangsa kita > saja. Pokoknya asal datang dari luar negeri. Seolah-olah semua yang dari > luar negeri pasti hebat. Tapi barangkali karena terlalu lama dijajah, bangsa > kita rasanya memang keterlaluan bila meniru dari bangsa luar. > > > > Sering hanya asal meniru; taklid buta, tanpa mempertimbangkan lebih jauh, > termasuk kepatutannya dengan diri sendiri. Ingat, saat orang kita meniru > mode pakaian, misalnya. Tidak peduli tubuh kerempeng atau gendut, pendek > atau jangkung; semuanya memakai rok span atau celana cutbrai, meniru bintang > atau peragawati luar negeri. > > > Pada waktu pak Harto dan orde barunya ingin membangun ekonomi, sepertinya > juga asal meniru negara maju; tanpa melihat jatidiri bangsa ini sendiri yang > pancasilais (Padahal waktu itu ada yang namanya P4). Maka, meski tanpa > `kapital', selama lebih 30 tahun negeri kita seperti negeri kapitalis dan > akibatnya, bangsa kita pun bahkan sampai sekarang sulit untuk tidak disebut > bangsa yang materialistis. > > > Nah, ketika ada tren baru dari luar negeri yang berkaitan dengan keagamaan > pun banyak diantara kita yang taklid buta. Kalau taklid soal mode, > madzhabnya Amerika dan Eropa; soal tari dan nyanyi banyak yang berkiblat ke > India; maka dalam tren keagamaan ini, agaknya banyak yang bertaklid kepada > madzhab Timur Tengah, Iran, atau Afghanistan. > > > Seperti pentaklidan tren baru dari luar negeri yang selalu dimulai dari kota > dan baru kemudian menjalar ke desa-desa, demikian pula tren yang berkaitan > dengan keagamaan ini. Seperti takjubnya sementara orang kota terhadap tren > mode dari luar negeri --atau takjubnya sementara orang desa terhadap tren > mode dari kota-- dan langsung mengikutinya, orang-orang Islam kota atau > mereka yang punya persinggungan dengan luar negeri, agaknya juga banyak yang > demikian. Mereka melihat dan takjub melihat keberagamaan yang dari luar > negeri yang sama sekali lain dengan yang selama ini dianut orang-orang tua > mereka disini. Maka, seperti halnya orang-orang yang mengikuti mode baru > dari luar negeri, mereka ini pun bangga dengan model keberagamaan baru > mereka. Termasuk kecenderungan merendahkan orang yang tidak mengikuti `tren > baru' mereka itu. > > > Karena taklid buta, karena asal meniru tanpa mempertimbangkan lebih jauh, > sering kali lucu dan sekaligus memprihatinkan. Ambil contoh misalnya soal > jihad. Ada beberapa orang yang hanya melihat perjuangan bangsa Palestina dan > Afghanistan, misalnya, yang berjihad --seperti kita dulu ketika melawan > kolonialis Belanda-- dengan segala cara; termasuk mengorbankan nyawa > sendiri. Lalu mereka ikutan melawan musuhnya Palestina dan Afghanistan di > sini dengan cara yang sama. Mereka lupa bahwa jihad seperti yang dilakukan > dan diajarkan Rasulullah SAW ada aturan dan etikanya. > > > Orang Palestina yang melakukan bom bunuh diri untuk melawan kolonialis > Israel, bila terbunuh bisa disebut syahid. Dalam hadis riwayat imam Ahmad > dari Sa'ied Ibn Zaid, disebutkan bahwa orang yang terbunuh membela haknya > atau keluarganya atau agamanya, adalah syahid. Orang yang mati syahid , > seperti disebutkan dalam beberapa hadis, berhak mendapatkan enam anugerah: > 1. Diampuni dosanya sejak tetes darahnya yang pertama; 2. Bisa melihat > tempatnya di sorga; 3. Dihiasi dengan perhiasan iman; 4. Dikawinkan dengan > bidadari; 5. Dijauhkan dari siksa kubur; 6. Dan aman dari kengerian Yaumil > Faza'il akbar . > > > Tapi orang yang melakukan bom bunuh diri di Indonsia yang tidak sedang > berperang melawan siapa-siapa dan mayoritas penduduknya beragama Islam, > jelas namanya bunuh diri biasa yang dilarang oleh Allah SWT, ditambah > tindakan kriminalitas luar biasa: membuat kerusakan. Banyak sekali ayat > Al-Quran yang menunjukkan dilarangnya berbuat kerusakan di muka bumi. Dalam > perang melawan orang-orang kafir sekali pun, ada batasan-batasannya; > misalnya tidak boleh membunuh perempuan dan anak-anak, merusak lingkungan, > dsb. > > > Allah berfirman: "Walaa taqtuluu anfusakum.." (Q. 4. An-Nisaa: 29). "Dan > janganlah kamu membunuh dirimu.." Menurut para mufassir, larangan membunuh > diri ini termasuk juga membunuh orang lain; karena membunuh orang lain > termasuk membunuh diri sendiri, sebab umat merupakan satu kesatuan. Larangan > ini sangat jelas sekali. Orang yang membunuh dirinya sendiri dan sekaligus > orang-orang lain yang tidak berdosa, jelas sangat jauh untuk dapat disebut > syahid? Sungguh keterlaluan mereka yang mencekokkan doktrin yang jelas-jelas > bertentangan dengan ajaran Al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW. Apalagi hanya > karena taklid buta terhadap tren dari luar negeri . Dan sungguh naïf mereka > yang mengaku umat Muhammad-- dengan mudah terpikat hanya oleh iming-iming > bidadari, hingga mengabaikan akal sehat dan tega menghancurkan nilai agung > kemanusiaan yang ditegakkan Rasulullah SAW. > > > Wallahu a'lam. > > > > KH. A. Mustofa Bisri, Pengajar di Pondok Pesantren Taman Pelajar Raudlatut > Thalibin, Rembang, Jawa Tengah. > > > [Non-text portions of this message have been removed] >

