Refleksi:  Kalau bukan faktor agama maka pertanyaannya mengapa lambang agama 
dibawa-bawa oleh para teroris? Apa komentar Anda?


http://www.antaranews.com/berita/1256987971/terorisme-bukan-karena-faktor-agama


Terorisme Bukan Karena Faktor Agama
Sabtu, 31 Oktober 2009 18:19 WIB | Peristiwa | Hukum/Kriminal | 
Denpasar (ANTARA News) - Aksi terorisme yang terjadi di dunia bukan disebabkan 
karena faktor agama, melainkan karena adanya pemahaman agama yang keliru dan 
kemudian diikuti oleh para penganutnya, kata mantan aktivis Jamaah Islamiyah.

Mantan aktivis Jamaah Islamiyah Nasir Abbas dalam sebuah workshop yang digelar 
Lembaga Cegah Kejahatan Indonesia DPD Bali di Denpasar, Sabtu mengemukakan, 
adanya paham yang keliru tersebut akhirnya bisa menyesatkan para pengikutnya 
dan lahirlah apa yang disebut radikalisme.

"Jadi sama sekali bukan faktor agama, tapi karena paham yang keliru," katanya 
menegaskan.

Nasir Abbas yang belakangan kerap berbicara di media cetak dan elektronik itu 
mengemukakan, dalam agama tidak mengajarkan permusuhan dan menanamkan 
kebencian. 

"Akan tetapi karena ada aktor atau pemimpin yang mengajarkan paham keliru dan 
mereka punya para pengikut setia sehingga mudah melakukan tindakan yang 
diyakininya, seperti aksi pengeboman," katanya.

Menyinggung aksi terorisme di Indonesia, Abbas melihat, saat ini ruang gerak 
mereka makin sempit menyusul keberhasilan personel Detasemen Khusus (Densus) 88 
Polri yang sejak 2005 hingga 2009 berhasil menangkap para pelaku pengeboman. 

Ia memberikan apresiasi positif atas keberhasilan tugas dari Densus 88 dalam 
memburu para teroris dan mereka bekerja secara profesional.

Meskipun demikian, Abbas buru-buru mengingatkan agar masyarakat tetap waspada. 
Menurut dia, tetap saja ancaman terorisme itu selalu ada, hanya kita tidak bisa 
tahu persis kapan datangnya.

Teroris, katanya, seperti kejahatan lainnya tetap harus diwaspadai dan tidak 
bisa hilang begitu saja. 

Dia mengatakan, dengan ditangkapinya para pelaku teroris, jelas hal ini bakal 
membuat ruang gerak mereka tidak lagi mudah seperti dulu. Mereka tidak akan 
lagi memanfaatkan jaringan lewat rekrutmen seperti sebelumnya, namun lebih 
memilih strategi baru dengan cara memakai jaringan keluarga. 

Menurut dia, teroris saat ini akan sulit mempengaruhi atau mengajak orang 
menjadi pengikut dan mendukung tindakannya itu karena adanya perlawanan 
masyarakat. 

"Kita lihat antipati masyarakat terhadap teroris cukup tinggi, sehingga mereka 
sulit mendapat tempat lagi," katanya.

Selain itu, katanya, banyaknya sosialisasi pemahaman ataupun ceramah-ceramah 
keagamaan seraya memberi pencerahan masyarakat yang menyatakan aksi pengeboman 
seperti dilakukan teroris adalah tindakan keliru sedikit banyak kian 
menyadarkan masyarakat untuk tidak membenarkan aksi teroris.

Terkait langkah kewaspadaan masyarakat terhadap keberadaan teroris, Abbas 
menyatakan saat ini tidak bisa mengenali para pelaku teroris berdasar ciri-ciri 
fisik semata. 

"Misalnya, mereka diidentikkan dengan memakai jubah, berjanggut dan lainnya. 
Ciri fisik tidak ada, kita hanya bisa kenali tingkah lakunya, seperti tidak 
gaul atau menutup diri," katanya. (*)
COPYRIGHT © 2009


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke