From: firdaus cahyadi <[email protected]>
Date: Monday, November 9, 2009, 12:44 PM


  



Karena Aku Sarjana Ekonomi, maka Aku Neolib!

“Neolab-neolib, enggak ngerti aku mas, lha kalau neozep, saya tahu,”
ujar pedagang asongan kepadaku. Mungkin dia ngomel di depanku, karena
dia tahu aku adalah seorang sarjana ekonomi tamatan universitas
terkemuka di Indonesia. Bahkan saking terkemukanya, beberapa alumni
universitasku dipercaya menjadi menteri bidang ekonomi.
“Begini mas, Neolib itu singkatan dari neoliberal,” ujarku,
“Neoliberal sendiri adalah sebuah paham ekonomi yang melarang campur
tangan negara dalam soal perekonomian, jadi semua diserahkan kepada
pasar. Campur tangan negara baru diperbolehkan bila itu untuk membantu
para pelaku pasar,”

“Contohnya mas?” tanyanya lagi. “Begini, pemerintah tidak ikut
campur tangan mengenai harga permen yang sempeyan (kamu) jual itu,”
jelasku, “Harga permen yang sampeyan jual itu murni ditentukan oleh
pasar, jika banyak permintaan terhadap permen maka harga permen
sampeyan akan naik, begitu juga sebaliknya,”

“Wah, bagus kan mas, berarti perusahaan yang paling efisien dalam
memproduksi permen akan bisa memasang harga lebih murah, ” ujarnya,
“Dan akan muncul perlombaan diantara perusahaan-perusaha an permen untuk
lebih efisien, jika sudah begitu konsumen akan menerima harga yang
lebih murah,”

“Persis!” timpalku,”Karena itulah maka mekanisme pasar seperti yang
dianjurkan dalam paham neoliberal itu tidak hanya diterapkan pada
produksi permen tapi juga produk jasa semacam pendidikan tinggi,”

“Bentar mas, apa neh maksudnya bahwa neoliberal juga diterapkan di perguruan 
tinggi?” tanyanya.

“Begini, seperti pada produk permen tadi, pendidikan tinggi atau
universitas adalah sebuah produk jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat,
” jelasku lagi, “Jadi produk jasa pendidikan itu akan menguntungkan
bagi perusahaan-perusaha an yang berinvestasi di dalamnya, karena banyak
orang yang membutuhkan produk pendidikan tinggi,”
“Terus,” ujarnya nggak sabar.

“Maka, harus ada aturan yang membolehkan swasta dalam negeri atau
asing untuk berbisnis di dalam produk pendidikan tinggi itu, “teagasku,
“Singkatnya, perguruan tinggi negeri dan swasta baik asing atau
nasional dibebaskan bersaing di Indonesia,”

“Nah agar swasta bisa masuk maka subsidi di bidang pendidikan tinggi
harus dihapus atau dikurangi,” kataku, “Karena jika tidak dihapus, maka
investasi swasta di bidang pendidikan tinggi tidak tumbuh, subsidi akan
menghambat investasi karena menyebabkan tarif di perguruan tinggi tidak
mencapai harga keekonomian yang memungkinkan swasta untuk berinvestasi”

“Oh, itu yang menyebabkan biaya pendidikan di universitas makin mahal ya mas 
sekarang?” tanyanya.

“Persis” jawabku singkat.

“Lho, tadi dalam contoh soal permen, harga permen bisa turun, kok di
pendidikan tinggi biaya pendidikan tinggi justru naik berlipat-lipat?”
tanyanya lagi.

“Harga permen dalam sistem neoliberal tadi bisa turun tapi bisa saja
naik tergantung pasar, tapi naik turunya harga tetap di dalam batas
harga keekonomian, yaitu yang memungkinkan pengusaha masih mendapatkan
untung atau laba. Jadi meskipun harga permen turun, turunya tidak
mungkin di bawah harga keekonomian,” jelasku, “Begitu pula dalam soal
produk pendidikan tinggi,”

“Ya kalo harga keekonomian dalam soal pendidikan tinggi ini tidak
terjangkau oleh masyarakat miskin seperti saya ini gimana?” tanyanya
lagi. “Ya anak anda berarti nggak bisa sekolah di perguran tinggi mas,”

“Waduh, kalau caranya begitu, anak saya tetap jadi pedagang asongan
dong mas, tidak bisa kuliah,” ujarnya, “Bukankah kuliah salah satu
pintu masuk untuk merubah nasib,”
“Ya itulah neoliberal mas,” tegasku, “Ya karena aku seorang sarjana
ekonomi, maka tugasku adalah mendukung agar paham neoliberal ini dapat
berjalan di negeri ini. Soal ada korban dari masyarakat miskin seperti
sampeyan ini ya nggak jadi soal, yang penting tidak mengorbankan para
pemilik modal atau pelaku pasar. Karena jika mengorbankan para pemilik
modal bisa mengganggu mekanisme pasar, ya kalo cuma orang miskin yang
jadi korban ya nggak begitu masalah,”

Pedagang asongan itu pergi meninggalkanku sambil memendam
kemarahannya. . Entah marah padaku, atau pada paham neoliberal yang
mengancam kehidupannya. “Yang jelas, karena aku seorang sarjana ekonomi
maka aku harus menjadi neolib, karena itu yang diajarkan kepadaku
selama lima tahun di fakultas ekonomi,” ujarku dalam hati, “Maafkan aku
wahai orang-orang miskin yang sudah antri menjadi korban paham
neoliberal, dukunganku terhadap paham neoliberal semata-mata karena aku
seorang sarjana ekonomi,”
Sumber: http://edukasi. kompasiana. com/2009/ 11/09/karena- aku-sarjana- 
ekonomi-maka- saya-neolib/








      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke