**Sumber: *www.KabarIndonesia.com* <http://www.kabarindonesia.com/>

http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=19&jd=%93Jejak%94+Islam+di+Luar+Angkasa&dn=20091110211955



Oleh : Muhammad Rizky Halim Ilyas



Wah.. agama islam sudah mulai duluan dari bangsa-bangsa lainya..hebat!!!
saya dapet dari sebuah buku yang saya baca waktu bazar buku-buku islam...

Barat telah mencapai kemajuan dalam ilmu luar angkasa. Tapi, sesungguhnya
dari tangan ilmuwan Muslim misteri angkasa luar itu pertama kali berhasil
disimak Hidayatullah.com Islam mencapai puncak kejayaannya pada era
pemerintahan Daulah Abbasiyah, terutama pada bidang ilmu pengetahuan. Nyaris
tak ada sejengkal pun dari bilik-bilik ilmu ini yang tidak tersentuh oleh
umat Islam. Termasuk ilmu tentang dunia luar angkasa. Nashiruddin ath-Thusi
dan al-Biruni adalah sebagian dari sosok yang cukup dikenal kepakarannya
dalam bidang ini.

Jadi sebelum ilmuwan Barat bergelut di dalamnya, para ilmuwan Islam telah
lebih dulu mendalami dan mengakrabi dunia angkasa luar. Meski tak semaju
dengan capaian ilmuwan Barat, tapi dari hasil kajian ilmuwan Muslimlah
pintu-pintu menuju kemajuan terbuka satu demi satu.

Bintang, bulan, dan matahari adalah obyek penelitian yang paling menarik
perhatian para ilmuwan Muslim kala itu. Pasalnya, Al-Quran mengabarkan bahwa
ketiga ciptaan Allah ini mempunyai fungsi yang luar biasa. Bintang misalnya,
Allah menciptakannya sebagai petunjuk dalam menentukan arah.

Inilah yang coba diteliti oleh ilmuwan Muslim ketika itu. Dari hasil kajian
dunia luar angkasa, beragam kemudahan bisa dinikmati umat Islam saat itu.
Satu persatu hikmah dan manfaat di balik penciptaan bintang berhasil
terkuak. Yang paling sangat bermanfaat adalahcara dalam menjadikan bintang
sebagai penunjuk arah.

Jelas saja hasil itu berpengaruh besar dalam kehidupan umat Islam saat itu.
Sektor perekonomian termasuk yang paling merasakan berkahnya. Perjalanan
bisnis para saudagar Arab yang kerap tersendat oleh pekatnya malam, kini
sudah mulai teratasi. Dengan adanya penunjuk arah, hamparan padang pasir
yang berselimutkan gelapnya malam bukan lagi 'penyesat' yang perlu ditakuti.
Begitu juga para nelayan yang mencari ikan di hamparan laut luas.

Kita juga mengakui bahwa sebagian dari ilmu perbintangan ini dikecam oleh
para ulama. Namun, jika kita perhatikan buku akidah, maka yang diharamkan
adalah ilmu perbintangan yang digunakan untuk meramal perkara-perkara yang
belum terjadi, seperti meramal nasib atau kejadian tertentu yang sifatnya
ghaib bagi manusia. Lain halnya jika ia digunakan untuk kepentingan
menentukan arah. Dalam fungsi ini hukumnya mubah-mubah saja. Al-Quran
sendiri melegalkannya. Bahkan, hukum itu bisa berubah menjadi mustahab atau
wajib jika digunakan untuk menentukan arah kiblat.

Bukti Sejarah

Di perpustakaan Eropa, kita bisa menemukan bukti bahwa sumbangsih ilmuwan
Muslim dalam ilmu luar angkasa bukan omong kosong. Khususnya yang berkaitan
dengan penamaan bintang. Seorang penulis Barat bernama Paul Kunitzsch
menemukannya dalam buku Almagest karya Ptolomeus tentang penamaan bintang
"Fomalhault" . Nama itu berasal dari bahasa Arab, "famul haut" yang berarti
mulut ikan hiu. Muslim Heritage Foundation bahkan mencatat ratusan nama
bintang yang berasal dari Bahasa Arab.

Tapi begitulah siklus kehidupan yang diinginkan pencipta-Nya. Allah akan
mempergilirkan kejayaan itu berdasarkan usaha dan kerja keras setiap kaum.
Itulah yang terjadi pada rezim Abbasiyah. Pemerintahan yang semakin melemah
memaksa perkembangan ilmu pengetahuan kembali masuk ke jalur lambat. Apa
yang telah dirintis oleh para ilmuwan kita seolah kehilangan induknya karena
tak lagi mendapat nafkah perhatian yang memadai. Salah satu yang mengalami
nasib malang itu adalah ilmu angkasa luar.

Lahir kembali

Berabad abad terlelap tidur, akhirnya kejayaan Islam di luar angkasa yang
nyaris terkubur itu seolah lahir kembali. Sultan Salman Abdul Aziz adalah
aktor utamanya. Pria berkebangsaan Arab Saudi ini tak lagi mengamati ciptaan
Allah di luar angkasa dari bumi. Ia melihatnya dalam radius yang lebih
dekat.

Pada tahun 1985, ia berangkat ke luar angkasa sebagai peneliti mewakili
organisasi satelit Arab. Keberangkatannya tentu saja mengangkat prestise
umat Islam di dunia internasional. Pasalnya, pria yang tak lain cucu pendiri
Kerajaan Arab Saudi ini menjadi orang Islam pertama yang berhasil menembus
luar angkasa.

Ia melayang di dunia yang sangat asing ini selama delapan hari. Sepulang
dari luar angkasa Sultan bukannya istirahat. Pria kelahiran Riyadh, 27 Juni
1956 ini bersama beberapa orang temannya, langsung mendirikan Association of
Space Explorers. Lembaga bertaraf internasional ini mewadahi para astronot
yang pernah mengangkasa. Sultan menjadi orang penting di dalamnya.

Keinginan mengembalikan kejayaan Islam di luar angkasa juga ikut menjalar
sampai ke negeri jiran. Pemerintah Malaysia selalu menunggu waktu yang tepat
untuk mengirim putra terbaiknya ke luar angkasa. Dan saat yang dinanti pun
tiba. Pada tahun 2005, pemerintah Malaysia memutuskan untuk membuat program
mengirim angkasawan ke Rusia. Mereka belajar di sana sebelum terbang.

Rencana besar ini tidak dilakukannya dengan sembrono. Pendaftaran memang
terbuka, tapi seleksinya diperketat. Jumlah pendaftar mencapai 11.000 orang.
Mereka mengikuti sembilan tahap seleksi, sampai akhirnya hanya terpilih
sepuluh di antara mereka yang layak pergi ke Rusia untuk memperdalam ilmu
angkasa di sana. Dari sepuluh orang yang dikirim, Rusia memutuskan untuk
memilih satu saja di antara mereka yang layak pergi menjalankan misi di luar
angkasa.

Keberuntungan itu jatuh pada Dr Sheikh Muszafhar Shukor. Pria yang
sehari-harinya bekerja di sebuah rumah sakit di Malaysia, berhasil
menyisihkan ribuan pesaingnya. Ia akhirnya meluncur ke angkasa pada tanggal
10 Oktober 2007 lalu. Sesuai dengan keahliannya sebagai dokter bedah
ortopedik, di luar angkasa ia menjalani eksperimen yang terkait dengan bedah
tulang.

Shalat di Luar Angkasa

Penelitian bukanlah satu-satunya misi Sheikh Muszafhar di luar angkasa. Ia
juga membawa misi relijius yang sangat penting. Ia ingin melaksanakan shalat
di luar angkasa, sekaligus mengabarkan kepada dunia bahwa shalat adalah
ibadah yang sangat agung. Ibadah yang tidak boleh ditinggalkan kapan dan di
mana saja, termasuk ketika berada di luar angkasa.

Bersama tiga astronot lainnya, ia mengangkasa selama 12 hari. Waktu itu umat
Islam di bumi sedang menjalankan ibadah puasa. Sebagai orang Islam, Sheikh
tetap menjalankan ibadah itu meski berada ribuan mil dari bumi. Dan ia
mengaku, berpuasa di langit jauh lebih nyaman dan khusyuk. Selain karena
tidak merasa haus, lapar, atau lelah, ia juga bisa melihat beragam
tanda-tanda kekuasaan Allah.

Di angkasa, Sheikh menjalankan sejumlah eksperimen yang diamanahkan
kepadanya. Di atas sana, ia menjalankan fungsinya sebagai dokter dengan
penelitian-penelitian biologis dan kimiawinya. Menurut Sheikh, 12 hari
ternyata tidak cukup panjang untuk menjalankan semua eksperimennya.

Sheikh tidak bisa menyembunyikan rasa puas dari perjalanannya ini. Bukan
saja karena ia berhasil melakukan penelitian, sebagaimana yang ia
rencanakan. Di luar angkasa ia bisa menjumpai banyak sekali tanda kekuasaan
Allah. Yang tak mungkin terlupakan, ketika ia mendengar suara adzan di sana.


"Saya seperti menemukan kedamaian yang berbeda. Percaya atau tidak, di hari
terakhir sewaktu kami hendak turun ke bumi, saya mendengar suara adzan,"
kisahnya. Rasa syukur dan senang Sheikh semakin berlipat karena ia merasa
keberangkatannya tak sekedar mewakili negaranya, tapi juga dunia Islam.

*Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com*

*Alamat ratron (surat elektronik): [email protected]*

*Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com// <http://www.kabarindonesia.com/>*

* *


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke