BukuNegara(?)Kelima =                                Atlantis adalah Indonesia
Buku Ito ini hanya serat opini fiktif.
Buku Negara Kelima = Atlantis adalah Indonesia

________________________________
 
Gan, saya sedang membaca buku Negara Kelima karya ES Ito. Mungkin ada beberapa 
yang udh baca. Inti ceritanya adalah ada sebuah kelompok bernama Kelompok 
Patriotik Radikal (KePaRad) yang hendak membubarkan Indonesia dan mendirikan 
negara baru yang disebut Negara Kelima untuk mengembalikan kejayaan masa lalu 
Nusantara.

Yuk kita buka diskusi kita tentang buku ini. Kalo ada informasi tambahan boleh 
di-share juga di sini.

Ada beberapa informasi (gak tau fakta atau fiksi) di buku ini yang cukup 
menyentak, antara lain :

1. Ada sebuah pendapat yang mengatakan bahwa benua Atlantis yang hilang
kini menjadi Indonesia. Hal itu ditelusuri dari kitab Plato berjudul
Timaeus and Critias, alkisah Poseidon dan anak-anaknya adalah dewa yang
menduduki Atlantis alias Kepulauan Nusantara. Hal itu dibuktikan dengan
ciri-ciri dalam kitab Plato tersebut yang mendekati ciri geografis Indonesia,
antara lain banyak memiliki tumbuhan-tumbuhan dan buah-buahan serta
hutan lebat, memiliki 2 musim, disebutkan ada gajah. Tidak mungkin itu
adalah Amerika Selatan, tidak mungkin Afrika, bahkan daerah Yunani pun
mustahil

2. Orang Minang merupakan keturunan langsung dari Alexander Agung 
(Iskandar Agung/Alexander The Great). Konon, Alexander Agung adalah
keturunan langsung dari bangsa Atlantis yang berhasil menyelamatkan diri
dari bencana. Alexander Agung setelah menaklukkan sebagian besar
dunia, beliau sempat berniat mengunjungi Nusantara (yang dipercayai
sebagai Atlantis). Tetapi pasukannya sangat ketakutan karena orang
yang mencoba berlayar ke Nusantara yang waktu itu sangat mungkin
belum berpenghuni, tidak pernah kembali.

Alexander Agung menikahi seorang putri dari Hindustan, menghasilkan 3
orang putra. Salah satu putranya bernama Sri Maharajo Dirajo adalah
yang berhasil masuk Nusantara dan berdiam diri di Minangkabau dan men-
dirikan imperium di sana.


3. Orang Atlantis yang berhasil mengungsi dari bencana yang menenggelamkan
Atlantis kemudian berlayar mencari tempat aman, dan mereka mendarat
di berbagai tempat yang akan menjadi cikal-bakal peradaban manusia yaitu
Mesir, Mesopotamia (Eufrat-Tigris), India (Mohenjodaro-Harappa), dan
peradaban suku Maya (walaupun ini jarang disebut sebagai peradaban
maju dunia kuno, karena diceritakan orang Atlantis mencapai Amerika 
Selatan telat dibandingkan yang mencapai Mesir dll).

Sangat mungkin kesamaan adanya piramid di Mesir dan kebudayaan Maya
disebabkan oleh argumen ini.


4. Plato sebenarnya tertarik dengan Atlantis bukan karena hilangnya benua
tersebut, tetapi karena Plato mendengar bahwa hukum yang ditegakkan
di Atlantis adalah hukum yang adil menurut Plato, sesuai dengan idenya
mengenai welfare state alias negara kesejahteraan


Mari kita mulai diskusinya. Saya merekomendasikan teman-teman baca buku Negara 
Kelima ini, terutama bagi pecinta sejarah. Patutlah Bung ES Ito ini dijuluki 
"Dan Brown-nya Indonesia" 
 
 
Author:
Aryso Santos

“Telah 9000 tahun berlalu sejak perang yang berlangsung antara mereka yang
tinggal di luar Pilar-Pilar Heracles dan mereka yang tinggal di dalamnya. Di
satu sisi, kota Athena dilaporkan menjadi pemimpin perlawanan sementara pihak
satunya dipimpin oleh raja-raja Atlantis, suatu pulau yang bahkan lebih luas
dibandingkan Libya dan Asia, yang kemudian tenggelam karena gempa bumi, dan
menjadi tembok tempur yang menghalangi seluruh pelayaran melalui samudera
itu”(Critias-360SM)

Konon hanya dua catatan yang menceritakan tentang Atlantis yaitu Dialog Timeaus
dan Critias, keduanya dicatat oleh Plato sekitar 360SM. Dialog ini adalah
percakapan antara Socrates (guru Plato), Hermocrates, Timeaus dan Critias,
Socrates menjelaskan tentang masyarakat ideal versinya, sementara Timeaus dan
Critias bercerita kisah yang bukan fiksi. Kisah ini merupakan kisah konflik
antara bangsa Athena dan Atlantis 9000 tahun sebelum masa Plato. Kisah yang
sudah terlupakan tetapi muncul kembali dibawa oleh Solon (600 tahun SM),
seorang Sage dari Hellena yang mendapatkan secara lisan dari pendeta Mesir di
Sais. Solon menyampaikan kisah ini kepada Dropides, kakek buyut Critias.
Dropides menyampaikannya kepada putranya, (yang juga bernama) Critias, dan
diteruskan kepada Critias, sang cucu.

Selama lebih dari 2000 tahun, Atlantis menjadi dongeng dan banyak ilmuwan yang
tidak berani secara terang-terangan mengakui adanya Atlantis. Tetapi sejak abad
pertengahan, kisah Atlantis menjadi populer di dunia Barat. Banyak yang
menganggap Atlantis (jika ada) terletak di Samudra Atlantis, bahkan ada yang
menganggap Atlantis terletak di Amerka sampai Timur Tengah. Para penduduknya
dianggap sebagai Dewa, makhluk luar angkasa, atau bangsa superior. Tetapi
kebanyakan peneliti tidak memberikan bukti atau telaah yang cukup. Sebagian
besar hanya mengira-ngira. Salah satu peneliti yang mengklaim telah menemukan
Atlantis adalah Robert Sarmast, seorang arsitek Amerika keturunan Persia. Ia
menyebutkan bahwa Atlantis dan Taman Firdaus adalah sama.

Fakta menyebutkan bahwa benua Atlantis tenggelam secara perlahan-lahan karena
serangkaian bencana, termasuk gempa bumi. Hanya beberapa tempat di bumi yang
mempunya kecenderungan seperti itu dan Samudera Atlantis tidak termasuk.
Sarmast menunjukkan bahwa Laut Mediteranian adalah lokasi atlantis, tepatnya
sebelah tenggara Cyprus dan terkubur sedalam 1500 meter di dalam air.
Penelitian menunjukkan bahwa permukaan air di daerah Mediterania 5000 tahun
lalu jauh lebih rendah dibanding masa sekarang.

Hal ini dibantah oleh Prof. Arysio Santos dari Brasil. Santos mengatakan jika
Atlantis dan Taman Firdaus adalah sama, maka seharusnya deskripsi ini harus
sejalan dengan seluruh tradisi keagamaan dan kepercayaan seperti Budhisme,
Hinduisme, Islam, Kristen, kepercayaan Indian Amerika dll, yang menceritakan
tentang Taman Firdaus, sebagai tempat asal mula manusia.

Santos menuduh penemuan Sarmast terlalu terburu-buru dan hanya menguntungkan
pihak-pihak tertentu. Dengan ‘penemuan’ Sarmast, kunjungan wisatawan ke
Cyprusmelonjak tajam. Para penyandang dana penelitian Sarmast, seperti editor,
produser film, agen media dll mendapat keuntungan besar. Jika Sarmast benar,
mereka juga akan terkenal dan jika tidak, mereka telah mengantungi uang yang
sangat besar. Sementara itu Dr. Pavlos Flurentzos, seorang arkeolog Cyprus
sendiri menolak penemuan Sarmast, karena Plato secara tegas mengatakan bahwa
Atlantis berada di luar Laut Mediterania. Pernyataan ini didukung oleh Dr.
Michel Morisseau, seorang ahli geologis Perancis yang tinggal di pulau Cyprus.
Dia mengatakan ‘Aku sangat terkejut mendegar berita (penemuan) itu karena tidak
berhubungan sama sekali dengan fakta geologis dan kita harus berhati-hati jika
dalam mengumumkan hal tersebut” nah kemudian Morisseau menantang Sarmant untuk
debat terbuka.

Hanya sehari setelah pengumumannya tanggal 14 November 2004, Sarmast telah
mendulang bantahan karena ‘memilih’ lokasi Atlantis di Mediterania yang
merupakan salah satu daerah paling sering dkunjungi peneliti, oceanographer dan
ahli volkanologis.

Santos menggunakan pendekatan yang berbeda dalam mengungkap lokasi Atlantis.
Mitos dan tradisi dari banyak bangsa bersumber dari banjir besar dan hancurnya
Taman Firdaus, sesuai dengan kisah Atlantis. Tidak dapat disangkal bahwa
Atlantis adalah Taman Firdaus itu. Jejak-jejak cerita Atlantis menurutnya,
dapat ditemukan di banyak sumber, tidak hanya pada dialog Temaeus dan Critias.
Misalnya:

Alexander yang Agung, pernah melewati sepasang pilar emas Hercules dan Dionysus
(alias Atlas) dengan Hieroglyph yang sama ketika memasuki daerah Timur (Indus).
Atlas adalah saudara kembar Hercules. Dengan kata lain, ada sepasang pilar
Hercules dan Atlas di Gibraltar yang merupakan batas daerah Barat, dan sepasang
di ujung Indus sebagai abtas Timur.

Dlam Critias disebutkan bahwa pada pilar emas tertulis hukum, aturan dan
keputusan raja yang ditulis dengan upacara pengorbanan banteng kepada Poseidon.
Upacara ini adalah khas Indus yang disebut sebagai Gomedha sebagai peringatan
atas hilangnya surga (Gomeda Dvipa). Contoh lain tradisi pilar adalah Pilar
Delhi yang didirikan oleh Raja Ashoka untuk memperingati kemenangannya. Terbuat
dari satu baja utuh tahan karat yang masih bertahan hingga saat ini tanpa
mengalami oksidasi sedikitpun. Suatu teknologi 2500 tahun lalu yang bisa jadi
diwarisi dari Atlantis.
Menurut Plato tembok Atlantis terbungkus emas, perak, perunggu, timah dan
tembaga. Pada masa itu hingga saat ini, hanya beberapa tempat di dunia yang
merupakan produsen timah utama. Salah satunya disebut Kepulauan Timah dan
Logam, Tashish, Tartessos dan nama lain, tidak lain adalah Indonesia. Jika
Plato benar, maka Atlantis sesungguhnya adalah Indonesia.
9000 tahun sebelum 600SM, adalah masa kehancuran Atlantis. Jaman es terakhir
yang menyebabkan banjir besar terjadi tepat 9600SM (11.600 tahun lalu).
Bagaimana Solon dapat menunjukkan waktu dengan tepat?
Bangsa Maya mempunyai mitos asal mula mereka berasal dari pulau atau benua yang
disebut sebagai Aztlan, leluhur mereka terpaksa mengungsi karena bencana gunung
berapi yang menenggelamkan tanah mereka. mereka melewati kepulauan di Samudera
Pasifik dan perjalanan ini ditulis dalam Codex Boturini. Jika Aztlan adalah
Atlantis, maka benua itu terletak di Timur Jauh, seputar Indonesia

Menurut Noel, ahli mitologi dari Perancis, mengatakan bahwa Taman Firdaus
Hinduisme disebut Svarna Dvipa (Pulau Emas) dalam Sansekerta. Svaran Dvipa
sekarang disebut Sumatera, dianggap Taman Firaus dan merupakan episentrum bumi
dan disebutPusar Bumi (Mangkubumi).

Di luar pembuktian di atas, masih banyak bukti lain yang dikemukakan oleh
Santos dengan memperhatikan geologis, arkeologis, dan tradisi oral maupun lisan
yang menunjukkan bahwa Atlantis kemungkinan besar terletak di regional Lembah
Indus yang membentang dari Asia kecil (india) hingga Indonesia dengan pusat
peradaban justru di Indoensia.

Plato mengungkapkan tiga tempat dengan nama Atlantis, di mana satu adalah pulau
kecil sebagai ibukotanya. Dia juga menyebut “Yunani Kuno” sebagai musuh dan
penakluk Atlantis yang ia maksud sebagai bangsa Arya dan Aryanavarta (Negara
Para Arya), aTlantis yang tenggelam. Sisa-sisa Atlantis sekarang memebentuk
kepulauan Indoesia dengan sekian banyak gunung berapi yang berada di atas
permukaan laut ketika bencana datang. Daerah ini kemudian disebut oleh bangsa
Yunani sebagai wilayah Kematian yang tidak bisa dilayari. Sebagian besar benua
Atlantis tenggelam di bawah Laut Cina Selatan.

Wilayah Atlantis yang kedua adalah sebagian daerah India di mana sis-sisanya
masih bisa dilihat dari peninggalan di Lembah Indus dan Gangga dengan warisan 
peradaban
Harappa dan Mohenjo Daro.

Dapat disimpulkan setelah manusia berpindah dari daerah padang rumpt dan gurun
Afrika, mereka menemukan iklim ideal untuk bertani dan mengembangkan peradaban.
Semua terjadi pada jaman Pleistocene (1, 8 juta lalu) yang berakhir 11.600
tahun yang lalu. Pleistocene adalah zaman es dengan permukaan air laut 100-150
meter dibawah saat ini. Ketia es mencair, sebagian besar wilayah Indonesia dan
sekitarnya hingga di bawah Laut Cina Selatan terendam air dan menenggelamkan
hampir 20 juta penduduknya. Atlantis yang tenggelam ini disebut Atlantis
Lemuria dan menjadi Wilayah Kematian.

Penduduk Atlantis sendiri terbagi dua, yaitu Arya dan Dravida. Sebutan Tanah
Leluhur (Serendip) sebenarnya adalah bahasa Dravida dari Taprobane (Sumatera),
yang disebut sebagai Taman Firdaus. Tempat dengan sekian banyak nama: Sheol
(Neraka) oeh Yahudi untuk kawasan yang rusak. Hades oleh Yunani, Amenti atau
Punt oleh Mesir, Dilmun oleh Mesopotamia, Svarga oeh Hindu, Avalon oleh Celts
dan lain-lain.

Apa yang diceritakan dalam kisah Injil tentang bencana besar sejalan dengan
yang dikisahkan Plato dan didukung oleh bukti geologis dan arkeologis. Setiap
kali kita berusaha untuk menemukan sumber dan catatan tersebut, kita selalu
berakhir pada India dan Indonesia sebagai dua Atlantis.

Indonesia pada masa itu disebut sebagai Ultima Thule (Batas Akhir), perbatasan
yang tidak boleh dilewati oleh kapal. Di sini teletak sepasang Pilar Hercules
dan Atlas, speerti si kembar Gemini, Castor dan Pollus yang diambil dari
tradisi Hindu, Kembar Ashvin. Sama sperti kebar Seth dan Osiris di Mesir.
Hercules berasa dari Bala Rama (Rama yang perkasa). Sementara Atlas (Atlantis)
adalah Krishna.

Kembar ini merepresentasikan dua ras manusia berambut pirang (Aryo-Semites) dan
berambut kemerahan (Dravida) yang ditakdirkan untuk bersaing memperebutkan
dunia ini. Deduannya berasal dari Taman Firdaus (Lemuria). Dari Lemuria
lahirlah lima ras manusia: merah, putih, kuning, hitam dan coklat.

Perang perebutan ini digambarkan seperti Deva melawan Asura dalam Hindu, atau
Putra Terang melawan Putra Kegelapan dan juga disebut Kitab Wahyu di Injil.
Armageddon (bahasa Yahudi) sesungguhnya berarti Tempat Berkumpul, sama seperti
Shambhalla dalam bahasa Sansekerta. Artinya tempat dimana dua pasukan bertemu
untuk menyelesaikan perbedaan melalui perang dan menutup jaman Kali Yuga.

Edgar Cayce, yang dijuluki Sleeping Prophet, menyebut dua bangsa ini sebagai
Putra Hukum Tunggal dan Putra Belial yang sesungguhnya berasal dari satu sumber
tetapi kemudian memilih dua jalan berbeda dalam menangani permasalahan mereka
untuk menaklukkan dunia sementara Putra Hukum Tunggal bertujuan untuk
melestarikan apa yang ada.

Setelah ribuan tahun berlalu, tidak peduli warna kulit atau kebangsaan kita,
manusia tetap belum bisa belajar dari pengalaman. Perang yang
terus-menerus, pola pikir yangeksploitatif dan rasa superioritas terhadap
kelompok lain masih mewarnai jalan hidup dan kesadaran kita(Rajib/Roy)


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke