--- In [email protected], "yerww" <ye...@...> wrote:

http://jakarta.indymedia.org/newswire.php?story_id=1561

 Untuk barisan yang tercerai berai, Untuk kawan yang berguguran sepuluh tahun 
silam
Dikirim oleh : A.Tjahjadi
Pada tanggal : 04-11-2008, 16:00
anakglo...@...
nasional / sastra berjuang / feature

10 Tahun Tragedi Semanggi


(artikel ini kami tayangkan ulang pada feature sebagai peringatan sepuluh tahun 
tragedi semanggi.. agar kita semua tidak lupa bahwa tragedi ini masih belum 
terungkap dan mereka yang bertanggung jawab belum ditangkap)

Artikel: 
Agendakan Kembali Penuntasan Kasus TSS | DPR menolak Pengadilan HAM 
Trisakti-Semanggi | Peringatan Tujuh Tahun Tragedi Semanggi I

Link:
Semanggi Peduli | Cerita saksi | Jangan Diam | Penuturan Asih Widodo, ayahanda 
Sigit Prasetyo (Korban Tragedi Semanggi I)


Sudah tiga hari kami berjalan. Dari Salemba sampai gedung MPRI di jalan Gatsu 
(Gatot Subroto). Lumayan jauh, ah…apa sesungguhnya yang membuat kami begitu 
kuat menelusuri jalan. Mungkin saja semangat perubahan. Situasi yang kami 
idam-idamkan, kesempurnaan, dan keadilan bagi seluruh warga negara. Hari ke 
hari energi itu bertambah kuat. Sekuat suara kami, lantang, memekik sepanjang 
jalan, yang menggema menjadi satu bersautan bercampur amarah dan makian.

"Gantung Suharto!…Rakyat Bersatu Tak Bisa Dikalahkan!. Reformasi, Reformasi, 
Reformasi!."

Demikian teriakan-teriakan, cacian kebencian selama tiga hari lamanya membahana 
dalam gang-gang sempit, warung rokok kecil, warung Tegal tempat makan para 
kernet dan sopir angkutan kota. Kami berteriak, memamaki, di sepanjang jalan 
Salemba-Matraman-Otista dan Cawang.

Tiga hari berlalu. Kami semua belum lah mandi. Bau badan kami bercampur dengan 
bau rumah sakit. Kadang bau bercampur alkohol. Kadang bunga sedap malam dan 
mawar merah yang membusuk. Bahkan sesekali bau darah dan orang meninggal. 
Suasana yang susah diterjemahkan. Sepanjang jalur "Revolusi", menghantui, 
membalut barisan kami. Mata kami sayu, memerah karena amarah tak kunjung padam. 
Karena musuh berada dimana-mana, setiap hari. 18 orang meninggal, pasca 
bentrokan antara rakyat dengan pasukan gabungan Polisi-TNI . Dada kami serasa 
sesak. Sedih. Tapi, air mata ini, airmata kimia, gas-gas yang kami hisap selama 
3 hari, membuat kami mabuk. Kami semua terluka dan kebingungan, sudah tiga hari 
kami memaki dan mencaci. Sampai kami merasa lelah yang teramat lelah yang 
pernah kami rasakan. Kami semakin mabuk-mengawang-awang berteriak, terbawa 
suasana reformasi-sudah-basi! Busuk! Reformasi tidak mencerminkan penderitaan 
kami, penderitaan rakyat di bawah kuasa tiran.

"Kawan-kawan, mulai hari ini, sejak darah dan keringat rekan-rekan kita tumpah 
di aspal Semanggi, pantang bagi kita teriak Reformasi".

"Ingat kawan-kawan, elit-elit yang dikumpulkan oleh para mahasiswa banci di 
Ciganjur, hanyalah siasat segelintir elit. Tak lebih, mereka adalah borjuis 
kecil, bagian dari kekuasaan tiran Orde Baru. Mereka hanyalah para oportunis, 
yang diam, bungkam, selama puluhan tahun tanpa berani berhadapan dengan 
kediktaktoran Soeharto!.

"Mari kawan-kawan, mari rakyat Jakarta kita lupakan Reformasi. Kawan, rakyat, 
telah gugur diitembak oleh pemerintahnya sendiri, oleh serdadu yang pelurunya 
dibeli oleh rakyat".

"Hari ini kita nyatakan perang!. Ya kawan-kawan, perang kepada tiran!. Kita tak 
akan lupa, sejarah telah membuktikan kekuatan rakyat, rejim dan semua tiran 
hanya takluk oleh kekuatan rakyat. Ingat kawan-kawan, kekuatan rakyat, massa 
rakyat, hidup rakyat! hidup rakyat!".

"RE-VO-LU-SI!"
"RE-VO-LU-SI!"
"RE-VO-LU-SI!"

Tuntaslah hari itu. Keadaan telah kami rubah sendiri, melalui tangan-tangan 
kecil kami, para anak muda yang belajar membangkang, melukis sejarahnya 
sendiri, sejarah perubahan. Kami telah merubah diri kami dari anak-anak 
pembangunan yang dimanjakan produk-produk luar negeri. Kami menjadi anak-anak 
yang sadar diri. Kami adalah rakyat, kami tidak akan menjadi teknokrat untuk 
menyokong kemapanan demi sekelompok orang. Jangan sampai kami seperti angkatan 
66. Mereka duduk semenja dengan para jendral. Mereka mendua untuk perubahan. 
Cukup sudah, Soe Hoek Gie gagal memilih strategi. Dia tidak mengorgansir 
rakyat. Dia hanya bisa lari ke gunug-gunung ketika musuh rakyat semakin sadis 
melakukan pembantaian bangsanya sendiri. Kami memilih hidup kami sebagai 
pembawa revolusi. Kami anak pembangunan yang murtad, anak haram Orde Baru yang 
membangkang selamanya.

Hari keempat. Kami terkapar berjatuhan, tertidur dihalaman trotoar kampus 
salemba. Bangunan belanda yang kokoh berdiri melihat kami kelelahan seperti 
mengejek kami. Seperti laskar bambu runcing yang terbirit-birit melawan senapan 
mesin. Tak jauh dari tempat kami terkapar, sebuah mobil kodim terbakar di muka 
jalan. Rakyat membakar mobil tentara,menendang, berteriak, memaki, massa telah 
kerasukan barisan kami, barisan pembawa revolusi. Tanpa komando, tanpa 
pemimpin, rakyat sepanjang jalur revolusi melakukan sapu bersih anggota TNI dan 
Polisi. Koran-koran mencatat 109 orang korban berguuran, dirawat di beberapa 
rumah sakit terdekat di bilangan Semanggi. Bendera kuning bertebaran di depan 
gang-gang sempit kampung kumuh. Batu-batu beserakan di jalan. Gedung-gedung 
terbakar. Masih mengepul asap hitam bercampur bau plastik yang menyengat. Semua 
mulai berubah. Suara kami masih menggema di gang-gang sempit, diwarung-warung 
rokok kecil, di warung tegal milik rakyat jelata.

Namun Orde Baru masih begitu kuatnya, diskusi-diskusi malam mempererat kami. 
Ditemani kopi dan gorengan para pensiasat beradu argumen. Sebagian 
tertawa-tawa, asap gas airmata telah dirubah. Seorang relawan rakyat Salemba 
menjamu kami dengan berlinting-linting ganja. Kami membakar kelelahan kami, 
membumbungi asap angan-angan kami. Semua tertawa, bahagia, meskipun 18 orang 
mati ditembak TNI dan Polisi. Kami tertawa tak jelas. Mungkin, karena seorang 
teman kami yang dirawat dirumah sakit Jakarta sedang sibuk mencari posisi yang 
nyaman untuk tidurnya. Bayangkan saja pemuda yang bertubuh sedang, berkacamata 
tebal, merintih kesakitan karena pantatnya hancur, tertembak gas airmata, 
ditembus peluru gas airmata. Seseorang yang merintih kesusahaan, karena 
pantatnya menjadi sasaran kemarahan TNI dan Polisi.

Pagi hari kami terbangun oleh derap langkah-langkah mahasiswa yang bergegas ke 
ruang kelasnya. Para pegawai rumah sakit mulai berdatangan, sebagian adalah 
dokter-dokter angkatan 66 yang pro-angkatan darat, pendudkung garis depan Orde 
Baru. Sinis memandang barisan kami yang terkapar, mabuk, marah, karena kami 
menginginkan revolusi sejati. Kami individu yang berjiwa bebas, yang menyatakan 
diri berdiri sejajar dengan rakyat. Kami bagian dari kampus perjuangan Orde 
Baru Universitas Indonesia (UI) yang menolak elitisme, mengasingkan diri dari 
rakyat, kami yang menolak bekerja dan menjadi budak untuk tiran orde baru.

II

Setahun berlalu. Barisan kami tak membesar. Masih sama dengan barisan setahun 
lalu. Tapi tenaga kami terkuras habis sudah. Kami kembali dihadapkan dengan 
kondisi kemampanan pembangunan manusia orde baru. Meskipun kami sudah di 
ibliskan, diharamkan sebagai anak haram Orde Baru, para pembangkit arwah 
orang-orang Kiri, begitu selenting kata Amin.

Rutinitas merebut kami. Sebagian barisan terpecah, karena sebagian kawan harus 
menyelesaikan agenda akademik. Bersidang dan kemudian minggat dari padepokan 
ini. Kami yang tersisa, tersisih dan kalah, hanya memenuhi sudut kantin bersama 
kartu remi dan gaple mempertaruhkan masa depan kami. Diskusi revolusioner telah 
tawar rasa-rasanya. Kami dihadapkan oleh barisan para dewan jenggot, barisan 
yang menguasai ruang-ruang senat, ataupun tempat ibadah. Dewan jenggot yang 
anti celana jeans, selalu bercelana bahan dan menggantung seperti kekurangan 
bahan. Begitu seorang teman menjelaskan mengenai barisan-barisan lain yang 
bermunculan. Mereka bergerak, berkelompok, menutupi diri dengan keyakinan yang 
berseberangan. Bahkan sesekali mengutuk kami, karena barisan kami memusuhi 
Tuhan kata mereka.

Puncak perang dingin antar barisan-barisan akhirnya meledak. Setahun setelah 18 
orang dibunuh. Barisan kami lumpuh, tak bernyawa. Meskipun pada akhirnya 
seorang kawan kembali merubahnya hari itu.kembali membuat sejarah baru bagi 
barisan kami.

"Kawan-kawan, musuh-musuh sekalian. Kami adalah barisan yang tersisa. Kami 
adalah rakyat sejatinya. Kami teriakan selama empat hari lamanya disudut-sudut 
gang kampung, di gedung-gedung, di trotoar, di pasar dan di langit Jakarta yang 
membusuk setahun lalu!.

Hari ini kami kembali berjanji, Kami tidak akan meneruskan sejarah barisan 
kami, sebagaimana brisan yang mengantri kue pembangunan, memburu karir dan 
status sosial yang telah menunggu di gerbang kemapanan, memperalat, mendombakan 
untuk menuruti si penggembala yang tak lain adalah ORBA (Golkar, Militer, 
keluarga-keluarga Raja, Orang-orang Kaya). Kami adalah barisan pembawa 
Revolusi, dan selamanya kami akan membawa api suci ini di dalam dada kami, 
hingga akhirnya nanti akan membakar tembok-tembok sekolah, gedung-gedung, 
mal-mal, hingga kita terbangun dari amnesia sejarah ini".

Sekoyong-konyong seorang kawan kami merebut selembar jaket dari kerumunan orang 
yang telah mengepung barisan kami. Hari itu pemilu dewan jenggot sedang 
digelar. Sekejap suasana menjadi riuh, kawan kami membakar jaket almamater. Dia 
membakar simbol barisan kemapanan yang mengabdi untuk tirani orde baru. 
Terbakarlah, asap membumbung tinggi seperti setahun yang lalu.

III

Hari semakin sore. Jam 17.17 sore. Barisan kami hanya berhasil menempuh 
perjalanan hingga di muka hotel JW Marriot, Ambasador. Barisan di muka sudah 
dihadang. Kawan-kawan yang berusaha masuk melalui jalur kuburan Karet lumpuh 
tertahan, tercerai berai. Mereka berhasil ditahan Kostrad (TNI Angkatan Darat).

Barisan kami semakin mengecil, setelah insiden kecil di wilayah Casablanca. 
Bentrok antara barisan mahasiswa dan rakyat sempat terjadi. Barisan mahasiswa 
berjaket masih mempercayai untuk merapatkan barisannya tanpa berbaur dengan 
rakyat. Sementara barisan kami adalah barisan rakyat, barisan anak-anak 
keluarga miskin, barisan klas menengah.

Barisan kami terpaksa dipecah. Strategi untuk mencapai titik pusat perlawanan. 
Taktik untuk menghindari peluru-peluru KOSTRAD yang liar mengancam nyawa kami. 
Bergegaslah kami, lima-lima, tiga-tiga dan berpasangan bagi mereka yang membawa 
pujaan hatinya.

Tibalah barisan kami di depan Atmajaya. Jalan Semanggi. Medan peperangan yang 
pernah menjadi saksi kami. Di antara puluhan lampu sniper menari-nari meminta 
maut, raungan ambulan-ambulan dan rentetan senjata Kostrad-AD yang membabi 
buta, teman kami berguguran 18 orang malam itu. Setahun yang lalu.

Kami membaur dengan massa yang berkerumunan di tengah jalan. Kami duduk-duduk 
di jalur cepat. Persis seperti setahun yang lalu, ketika kami mengatur nafas, 
untuk kembali melempar bom-bom molotov. Masih ingat rupanya, pom bensin di 
sudut simpang Semanggi habis dicuri. Literan bensin kami jadikan perlengkapan 
pertahanan diri. Meskipun sia-sia, musuh yang dihadapi bersenjata, dengan 
sniper meloncat-loncat dari BRI I ke BRI II atau ke gedung lain. Musuh sangat 
terorganisir. Setelah semalaman bertempur melawan PHH dan PPRM, dini hari 
mereka bergantian bergiliran. Pukul 4 pagi dini hari para marinir masuk ke area 
parkiran Universitas Atmajaya, merangsek menghancurkan kendaraan-kendaraan. Dan 
mencoba "menciduk" sebagian anggota barisan kami. Namun aksi mereka begitu 
cepat, hanya dua jam, sesudah itu pagi hari kami melihat tepat dikolong 
Jembatan Semanggi, barisan polisi menyantap sarapan pagi dengan lahapnya, 
menghabisi berbungkus-bungkus nasi padang. Betapa irinya kami. Masih lelah 
dengan serangan fajar marinir, kami harus merapikan barisan kami untuk 
melanjutkan peperangan ini.

Lima menit kemudian, meriam ditembakkan. Seumur hidup baru kami tahu betapa 
besar suara meriam semacam itu. Gemanya memicu rasa ketakutan. Tiga kali 
ditembakkan. Barisan kami yang masih tertidur bergegas bangun. Terbangun. Waktu 
menunjukkan pukul 6.17 menit (9 November 1998). Pagi. Polisi menyerang kami 
dengan tembakan peluru tajam, gas airmata dan teriakan, caci-makian.

"Komunis!". "Komunis!". "Mampus kalian". Begitu mereka mencaci kami setahun 
yang lalu.

IV

Tiba-tiba lamunan kami hilang seketika seorang pelajar menghampiri kami. 
Pelajar, berseragam atasan putih, celana warna abu-abu. Lengkap dengan tas yang 
melilit pundaknya. "Bang mau lihat nggak?", tanpa ragu ia mendekati kami. Kami 
hanya tersenyum. Tangannya menjulur ke muka kami.

"Lo dapet dari mana? Itu kan peluru tajem", seorang teman menyambut terkejut.

"Gua baru aja dari Karet bang, di sana mahasiswa ditembakin. Mereka pada 
mundur, semua lari ketakutan. Padahal, kata rencananya mereka juga mau ke sini. 
gabung sama abang-abang ini". Barisan kami langsung menyelidik.

"Hah, bener kan, chaos, coy. Nggak mungkin mereka kasih kita kesempatan sebesar 
dulu lagi." Yang lain menimpali.

"Ya, lagian jujur saja kitanya juga nggak jelas, dulu kita sudah di DPR tapi 
malah membubarkan diri, malah ikut-ikut si Amin. Kompromi, soft, mandul 
dibuatnya. Malah kita dibilang Kiri. Gue aja kagak ngerti apaan sih Kiri ntuh".

Si pelajar hanya terdiam melihat kami saling bersahutan. Kemudian seketika dari 
barisan kami melihat seorang anggota TNI dengan tongkat ditangan turun dari 
kendaraan jeep bersama ajudannya. Dengan senyuman dan raut muka yang tenang 
seakan sudah sangat terbiasa menghadapi kerumunan massa yang sedang dibalut 
amarah. Seorang dari kami bergegas mendekati, hendak mencari tahu, apa yang 
ingin diperbuat anggota TNI tersebut.

"Selamat sore adik-adik" begitu ia menyapa kami. Rupanya dia ingin 
memperlakukan rakyat seperti saudara sendiri .

"Kami mohon ijin sebentar, kendaraan kami ingin lewat, pasukan kami hendak 
kembali ke barak. Kasihan dari semalam mereka bertugas, capek".

Lengkap dengan tongkatnya dia mengacungkannya kepada barisan truk yang sudah 
rapat berbaris di belakang jeep yang dipakainya. Sungguh, dasar militer. Berani 
sekali ia memerintahkan ratusan orang sedangkan ia hanya seorang diri. Dia 
memaksa ratusan orang, sekelompok umum, yang menghalau kepentingannya. Dan 
dasar rakyat, polos, tanpa curiga lantas mengiyakan. Tanda setuju.

Seorang dari kami langsung meminta si pelajar untuk menghampiri anggota TNI 
tersebut.

"Hei Coy, mana peluru tajem lu" seorang teman langsung berdiri dan meminta 
ditunjukkan peluru yang tadi dipamerkan kepada kami.

"Ini masih gue pegang bang, memangnya kenapa?" seorang kawan langsung bersiasat.

"Nah, bagus. Lo bawa tuh peluru ke orang yang megang tongkat itu. Lu tanya sama 
dia, kenapa anak buah bapak pada nembak pake peluru tajem, bikin mampus orang!?"

Sebagian lagi mempertegas, membungkusnya dengan rapi.

"Ya udah cepetan, keburu pergi n'tar"

Bergegaslah si pelajar. Tanda bahwa ia setuju dengan gagasan yang tiba-tiba 
saja muncul. Dia berlari menghampiri prajurit TNI yang memegang tongkat 
komando. Ya, si pelajar melakukannya. Persis saat ia memamerkannya kepada kami. 
Betapa bangganya ia bisa memiliki peluru tajam sepanjang 7 cm berdiameter 0,5 
cm. Dijulurkannya peluru tajam kepada si komandan. Dari jauh kami memperhatikan 
beramai-ramai, wajah si komandan berubah seketika. Dari tenang menjadi merah, 
mungkin dia marah, mungkin saja pertanyaan yang tak siap dijawabnya. Dua peluru 
tajam dalam genggaman si pelajar telah menghancurkan wibawanya seketika di 
hadapan massa. Dia hanya tersenyum tanpa menjawab si pelajar. Langsung 
membalikkan badan, menuju jeep dan ajudannya. Sambil berjalan meninggalkan si 
Pelajar dan kerumunan dia tetap menyatakan keinginannya.

"Coba, kami meminta tolong, saudara memberikan jalan bagi pasukan saya"

Sekejap sang komandan telah berada dalam mobilnya. Dia menuju pada kerumunan 
massa dan membelahnya. Sepuluh kendaraan truk (tronton) yang beratap terpal 
melintas. Menuju ke arah karet untuk menjemput pasukan yang sedari pagi telah 
bertugas. Yang capek menjalankan perintah. Ya, menembaki kerumunan massa dan 
rakyat yang menginginkan perubahan.

Massa tetap membuat kerumunan. Kendaraan-kendaraan tidak ada yang lewat. Pasca 
insiden Karet, kendaraan menuju Blok M dan Semanggi telah dialihkan ke jalur 
Kuningan. Barisan kami mulai mencair. Ada yang mencari masjid, ada yang sibuk 
membakar ban-ban bekas. Matahari perlahan pergi. Membuat Jalan semanggi menjadi 
gelap. Hanya lampu jalan bercahaya merkuri menerangi. Suasana bertambah gelap, 
tiba-tiba saja satu daerah kampus Atmajaya dan sekitarnya menjadi gelap gulita. 
Mati lampu. Lampu "dipadamkan".

Hanya kobaran api dari sisa-sisa ban bekas dan lampu parkiran rumah sakit 
Jakarta yang menggunakan Jenset sebagain menerangi jalan Semanggi. Sisa barisan 
kami masih duduk-duduk menyantap jagung dan kacang rebus. Yang kami borong, 
senang si penjual dibuatnya. Ia bangga hari itu bisa terlibat. Meskipun hanya 
menyediakan jajanan bagi para barisan yang kelaparan dan marah. Dengan ingatan 
setahun yang lalu ditanah dan diatas aspal ini telah terjadi pembantaian, 
pembunuhan.

V

Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara tembakan. Ditambah raungan mesin 
tronton memecah suasana Semanggi yang gelap. Waktu menunjukkan pukul 20.10 
malam. Rentetan senjata semakin keras mendekat. Persis seperti setahun yang 
lalu. Ketika aparat membubarkan barisan-barisan panjang.

Barisan pun bubar. Kami berlarian, tercerai berai, mencari tempat perlindungan. 
Kami semua masih ingat si pelajar yang memamerkan peluru tajam sore tadi, kami 
tak mau ambil resiko, sembunyi, selmatkan diri masing-masing. Barisan terpecah 
menjadi dua. Satu ke pasar Benhil dan gedung BRI. Sebagian lagi menuju sisi 
sebelah kanan, ke rumah sakit Jakarta dan kampus Atmajaya. Ketika kami berlari 
kami melihat lampu tronton tentara menyala begitu terangnya. Dari kedua sisi 
mobil mucul warna merah. Dan kepulan asap. Mereka membubarkan kerumunan massa 
menmebak membabi buta ke arah kerumunan tanpa memberi peringatan apapun.

Laju kendaraan semakin kecang. Rentetan senjata semakin nyaring. Mengarah ke 
kedua sisi jalan. Menembaki barisan yang telah terpecah dua. Kami berlari-lari. 
Kami tak ingin mati saat ini. Setahun yang lalu 18 orang meninggal. Kami tak 
ingin menambah jumlah korban kesadisan serdadu tiran. Kami berlari dikegelapan. 
Merundukan kepala kami, berlari zig-zag, merapat pada sisi warung rokok, bahkan 
sebagian kami nekad menceburkan diri dalam got.

Lima kendaraan troton aparat lewat. Rombongan kendaraan yang dipimpin oleh sang 
komandan tadi sore. Penuh dengan aparat yang menembaki kerumunan massa tanpa 
peringatan. Menghajar barisan kami dengan peluru tajam. Persis peluru yang 
diperoleh si pelajar. Seorang teman kami roboh tertembak. Empat orang 
membopongnya. Dua orang di muka memegang tangan dan leher. Dua dibelakang 
memegang kedua kakinya. Mukanya tertutup rambutnya yang panjang. Bajunya telah 
berubah warna menjadi merah, karena peluru menembus leher dan dada kirinya.

Sebagian barisan membawa korban ke Rumah Sakit Jakarta. Sebagian lagi berlari 
ke Jalan Semanggi untuk memastikan keadaan. Mencari korban lain. Saat kami 
kembali menyatukan barisan. Rentetan tembakan kembali terdengar. Tronton 
Kostrad gelombang kedua kembali menyerang. Mereka menembaki barisan kami, 
barisan rakyat, barisan orang-orang miskin. Kami pun kembali terbelah. Barisan 
berlari kembali ke dua arah.

Tidak puas begitu saja, tronton gelombang kedua ini sempat berhenti. Tepat di 
Jalan menuju Rumah Sakit Jakarta mereka berhenti. Menembak rumah sakit. Mereka 
benar-benar menembaki kami, memusnahkan kami. Tanpa ampun, seorang anak umur 7 
tahun roboh tertembak. Anak jalanan yang ikut bersama barisan sejak tadi sore. 
Tertembak di dada. Barisan kami menunggu sejenak. Kami tak ingin kecolongan 
seperti munculnya gelombang tronton yang kedua. Korban kembali berjatuhan. 
Sepuluh menit kami tak keluar dari persembunyian. Barisan dari arah Pasar 
Benhil memutuskan untuk kembali ke Jalan Semanggi. Kami pun bergerak mengikuti.

Kerumunan massa panik, ada yang berteriak, memaki, ada pula yang menangis. 
Namun sebagian barisan kami terpaku, bingung, di pinggir Jalan Semanggi. 
Tiba-tiba tanpa perintah, massa menghentikan setiap kendaraan yang lewat. 
Rombongan Kostrad membuka jalan Semanggi agar kendaraan lewat. Barisan kami 
panik. Marah sejadi-jadinya. Kami menghentikan setiap mobil yang lewat. Kami 
melihat dalam-dalam, menatap mata setiap pengendara. Apakah mereka bagian dari 
aparat. Apakah mereka para serdadu cepak yang berbaju sipil. Kami mengancam, 
kami bertanya sejadinya. Tapi semua sia-sia, jalanan Semanggi kembali sepi. 
Barisan kami tercerai berai. 11 orang meninggal, 217 warga sipil menjadi korban 
kebrutalan aparat.

Barisan kami lelah. Kami tercerai berai. Kami tidak punya kejelasaan. Perubahan 
telah direbut barisan tua bangka. Si Amin bersama tua bangka lainnya merebut 
arah perubahan dari barisan kami.

--- End forwarded message ---


Kirim email ke