Tanggal: 16 November 2009
Sumber: infobanknews.com
Bank-bank di Indonesia harganya relatif murah dan yield yang tinggi. Pasar
perbankan Singapura dan Malaysia relatif jenuh, khususnya pasar kredit
konsumsi. Rully Ferdian
Jakarta—Ketua Umum Perbanas, Sigit Pramono mengatakan, jumlah bank yang
dimiliki asing saat ini tidak hanya terbatas bank rekap. Bank-bank swasta kecil
sudah mulai dijual ke asing.
“Ini merupakan konsekuensi modal minimum yang ditentukan Bank Indnoesia (BI)
dalam Arsitektur Perbakan Indonesia (API),” ujarnya saat seminar “Infobank
Outlook 2010”, pada 12 November 2009 lalu di Jakarta.
Menurut mantan Direktur Utama BNI ini, penguasaan aset perbankan oleh asing
menjadi lebih dari 48% dari sebelumnya hanya 13%. Sementara, bank persero hanya
38%.
“Banyak kredit dan bisnis yang mengalir ke pihak pengusaha yang berasal dari
negara investor,” tegasnya.
Konsekuensi logis atas penjualan saham-saham bank rekap atau bank-bank swasta
ke invstor asing merupakan awal dari masuknya bankIr asing ke Indonesia.
“Transformasi bisnis dari pemilik baru (investor asing) kepada bank-bank yang
baru dibelinya dengan alasan pemilik baru mengetahui sistematika dan track
record bankir asing ini,” katanya.
Selain itu, kehadiran bankIr asing juga mengisi kebutuhan akan bagian-bagian
yang tidak bisa dipegang oleh bankir lokal.
Bebasnya kepemilikan bank hingga 99% merupakan pintu masuk yang leluasa bagi
bankir asing. Secara hukum tidak ada yang dilanggar – Undang-undang Perbankan
No.10 Tahun 1998 tentang perbankan--menyebutkan tentang penggunaan bankir asing
diperbolehkan sesuai kebutuhan bank.
Di samping itu, bank-bank di Indonesia harganya relatif murah dan yield yang
tinggi. Pasar perbankan Singapura dan Malaysia relatif jenuh, khususnya pasar
kredit konsumsi.
Peraturan permodalan dan liberalisasi perbankan di Singapura–masuknya
cabang-cabang bank asing. Kebangkitan sektor konsumsi di Indonesia di
mungkinkannya membeli saham sampai 99%. (*)
[Non-text portions of this message have been removed]