Refleksi : Rupaya  polis MUI  (FPI) sedang bertugas di luar daerah, dan oleh 
karena itu 3 guru ini bisa dibikin model untuk Adam fashion show.

http://regional.kompas.com/read/xml/2009/11/25/08512666/3.guru.telanjang.keliling.pasar


3 Guru Telanjang Keliling Pasar


Rabu, 25 November 2009 | 08:51 WIB
KOMPAS.com - Entah ingin membuat resah atau sekadar iseng, penipuan berkedok 
menyukseskan pilkada sedang bergentayangan di Kabupaten Mojokerto. Yang mungkin 
unik dan membingungkan warga, penipuan yang diduga memakai teknik gendam itu 
tidak mengambil materi dari korban. Penipu hanya mengarahkan para korbannya 
untuk telanjang bulat dan berkeliling pasar, dengan sekujur tubuh lebih dahulu 
dilumuri cat dan memakai anting-anting dari rentengan koin rupiah yang 
dilubangi.

Cerita ini mengingatkan kasus serupa, tapi tak sama, yakni pencari kerja yang 
ditato wajahnya oleh penipu di Bojonegoro, beberapa bulan lalu.

Penggendam yang mengaku-ngaku sebagai Asisten I Sekretaris Kabupaten (Sekkab) 
Mojokerto itu mengatakan kepada para korbannya bahwa ritual bugil itu untuk 
membuang sial (atau tolak bala) Bupati Mojokerto H Suwandi yang bakal maju lagi 
dalam Pilkada 2010.

Setidaknya delapan orang telah jadi korban, dan semuanya PNS dengan profesi 
guru di wilayah Kabupaten Mojokerto. Namun, hanya tiga orang yang telanjur 
sampai bugil dan berkeliling pasar. Adapun lima guru lainnya belum sempat bugil 
karena sudah keburu sadar. Semua korban adalah lelaki.

AR, salah satu korban yang juga guru sebuah SDN di wilayah Mojokerto, 
menuturkan, pada Sabtu (21/11) sekitar pukul 21.00, dirinya menerima telepon 
dari seorang pria. Pria itu mengaku sebagai Asisten I Bidang Pemerintahan 
Sekkab Mojokerto Akh Djazuli.

Si Akh Djazuli itu mengatakan bahwa dirinya diminta "Bupati Mojokerto" untuk 
memerintahkan AR agar telanjang dan keliling Pasar Tandjung Anyar, Kota 
Mojokerto, pada Minggu mulai pukul 19.00 hingga 21.00. Alasannya, itu sebagai 
ritual tolak bala sekaligus wujud rasa syukur dari para guru atas rekomendasi 
DPP PDI-P kepada Bupati Suwandi untuk maju lagi dalam pilkada Mojokerto 2010.

"Penelepon juga meminta saya untuk melumuri tubuh dengan cat hitam dan memakai 
anting dari koin-koin Rp 100 yang direnteng saat bugil," cerita AR kepada Surya.

Berdasarkan penelusuran Surya, ada juga korban yang diminta si penggendam untuk 
memakai anting dari rentengan lembaran uang ribuan. "Penelepon meyakinkan saya 
bahwa saya orang yang pas untuk melakukan ritual tersebut. Dia bilang, orang 
yang dipilih melakukan ritual ini hanyalah yang berbadan tegap dan tinggi. Dia 
sempat telepon lagi malam hari untuk kembali meyakinkan saya," tutur AR, guru 
olahraga.

Bersama seorang rekannya yang senasib, kemarin AR menanyakan langsung kebenaran 
perintah lewat telepon itu kepada Asisten I Sekkab Mojokerto Akh Djazuli. 
"Jelas penipuan. Ini sangat sensitif karena mencatut nama Pak Bupati yang bakal 
maju lagi dalam pilkada mendatang," kata Akh Djazuli seusai menerima dua guru 
korban penipuan itu, Selasa pagi di pendopo kabupaten.

AR tidak habis mengerti mengapa pesan si penelepon itu begitu mengiang-ngiang 
di telinganya dan dirinya juga patuh saja. Waktu itu, yang terlintas di pikiran 
AR adalah bahwa karena si penelepon mengaku sebagai Asisten I Sekkab, pastilah 
itu perintah resmi dan bertujuan baik. Apalagi, Akh Djazuli adalah mantan 
kepala dinas pendidikan sehingga dianggapnya peduli kepada guru.

Oleh karena itu, meskipun istrinya sempat berusaha mencegah aksi aneh itu, AR 
tak banyak menggubris. Esok harinya, Minggu sekitar pukul 17.00, AR sudah 
berada di Pasar Tandjung Anyar yang berada di tengah Kota Mojokerto. bet


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke