SBY punya dosa  besar terhadap rakyat Maluku dan Sulawesi,  karena mengsponsor 
pengiriman Laskar Jihad Sunnah Wal Jamaah dan konco-konco mereka ke dua daerah 
ini. Sponsornya  menyebabkan puluhan ribu mayat rakyat di kedua daerah mati 
bergelimpang. Belum lagi kerugian material yang dialami penduduk. Kerugian 
bukan milik pribadi  ialah dua universitas dihancurkan dan dibakar olel Laskar 
Jihad, yaitu Universitas Pattimura milik negara dan Universitas Kristen. 
Univeristas Kristen ,sebelum dibakar dihujani kurang lebih 150 bom mortir 
produksi Pindad dan sebuah rumah sakit milik Gereja Katholik di Tan Tui.. Bukan 
itu saja, tetapi juga markas Brimob di Tantui dibakar, dan isi gudang senjata 
di jarah oleh Laskar Jihad.

SBY tidak menyatakan penyesalan atáu meminta maaf karena dukungan tsb. Sekarang 
SBY berusaha cuci tangannya yang berlumuran darah dengan meresmikan tugu 
perdamain  disertai hadiah  gong dari Jepara di Ambon dan juga pengresmian 
proyek. Perlu diberitahukan bahwa gong tidak ada dalam kebudayaan di Maluku. 

SBY dan panitia pengresmiannya mengundang dua pemenang hadiah perdamian yaitu 
Nelson Mandela dari Afrika Selatan dan prof Mohammad Yunus dari Bangladeh serta 
80 duta besar berakreditasi di Indonesia. Mandela dan Yunus tidak bodoh untuk 
datang guna nama mereka dipakai. Entah berapa banyak duta besar yang datang 
tidak beritakan.

 Rupanya SBY juga ingin mendapat hadiah nobel untuk perdamaian oleh karena itu 
para pendukungnya membuat acara demikian.

Bagi yang belum lihat pernyataan SBY silahkan lihat video footage ini : 

http://www.youtube.com/watch?v=jlwaKAycFYY


 

  ----- Original Message ----- 
  From: Sandy Dwiyono 
  To: [email protected] ; [email protected] 
  Sent: Wednesday, November 25, 2009 3:21 PM
  Subject: [nasional-list] SBY: "Ekonomi Daerah Harus Kita Bangun. Itulah 
Gunanya Otonomi Daerah"


    
  http://www.presidenri.go.id/index.php/fokus/2009/11/25/4914.html

  Rabu, 25 November 2009, 14:35:59 WIB

  SBY: "Ekonomi Daerah Harus Kita Bangun. Itulah Gunanya Otonomi Daerah"

  Ambon: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengingatkan untuk belajar dari 
krisis global yang telah terjadi. "Negara lain yang sadar ada kesalahan 
perekonomian dunia, dia melakukan perbaikan, akhirnya kalau ada apa-apa lagi, 
dia selamat," kata Presiden saat meresmikan sejumlah proyek pembangunan di 
Provinsi Maluku, di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN), Tantu, Ambon, Rabu 
(25/11) siang.

  Kita ingin Indonesia menjadi negara yang selamat kalau terjadi krisis global 
lagi. "Kita ingin menjadi negara yang menang dalam era globalisasi untuk 
membangun perekonomian kita di waktu yang akan datang," ujar Presiden SBY.

  Menurut Presiden, krisis global terjadi karena pertumbuhan ekonomi tidak 
seimbang. Ada negara yang kegemarannya menjual produknya besar-besaran, dan di 
sisi lain ada negara yang membeli barang itu besar-besaran. Tidak seimbang. 
"Ada yang surplus, ada negara yang banyak utangnya. Justru negara yang maju, 
seperti AS, tidak seimbang produksi dengan konsumsi, supply dan demand. Boros. 
Itulah yang membikin krisis terjadi lagi di dunia sejak tahun lalu, dan 
sekarang masih dirasakan pengaruhnya," SBY menjelaskan.

  Oleh karena itu, lanjut SBY, seluruh pemimpin dunia dalam forum G-20 sepakat 
bahwa pertumbuhan di masa depan haruslah pertumbuhan yang kuat, inklusif, adil, 
merata dan berkelanjutan. "Jangan rusak begitu saja. Kalau rusak, anak cucu 
kita menderita. Oleh karena itulah konsep pertumbuhan perekonomian dunia adalah 
pertumbuhan yang kuat, adil dan merata. Berkelanjutan, tidak merusak lingkungan 
kita," ujar Presiden.

  Indonesia harus memperkuat ekonomi domestik. "Caranya, ekonomi daerah kita 
bangun, jangan hanya Jakarta. Itulah gunanya desentralisasi dan otonomi daerah. 
Investasi kita dorong ke daerah supaya masing-masing tumbuh. Kalau ekonomi 
masing-masing tumbuh, maka tidak harus mengandalkan perdagangan antarnegara. 
Kita bisa melakukan perdagangan antara daerah yang disebut dengan intra-state 
trade, perdagangan dalam negeri antarpulau, provinsi, dan daerah," Presiden SBY 
menandaskan. (mit)



  

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke