Refleksi : Disintergrasi? Apakah Papua tidak boleh bebas merdeka? Indonesia 
bisa existensi tanpa Papua. Bukankah begitu? Sesuai Dewan Adat (DAP) Papua, 
penduduk asli Papua (Irian Barat) pada tahun 1969 berjumlah 800.000 jiwa dan 
pada tahun 2007 jumlahnya menjadi 1,2 juta Jiwa. Dibandingkan dengan Papua New 
Guinea (PNG) pada tahun 1975 ketika mederka  mempunyai penduduk sebanyak 
700.000 pada tahun 2007  jumlah mereka menjadi 7.000.000.  Perbedaan drastis 
dikatakan pemerintah NKRI melakukan creeping genocide. (Cendrawasih Pos 14 
September 2009) Jadi lama kelamaan penduduk asli Papua akan mempunyai jumlah 
kuranglebih nol. 
  

http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/11/26/05130178/awas.otonomi.bisa.picu.disintegrasi


Awas, Otonomi Bisa Picu Disintegrasi

 
KOMPAS/ICHWAN SUSANTO
Kedatangan 14 pegawai Departemen Luar Negeri (Deplu) ke Universitas Sains dan 
Teknologi Jayapura di Papua, Rabu (28/10) sore, disambut demonstrasi oleh 
sekitar 50 mahasiswa. Pendemo mendesak Deplu mendorong penyelesaian masalah 
implementasi Undang-Undang Otonomi Khusus Papua, pelanggaran hak asasi manusia, 
dan rendahnya taraf kesehatan serta pendidikan masyarakat.Kamis, 26 November 
2009 | 05:13 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Pakar Politik Prof Ichlasul Amal mengatakan, demokrasi 
dan otonomi daerah selain membawa efek positif juga membawa ekses disintegrasi, 
penghambat pembangunan bangsa dan juga meningkatkan kesenjangan.
    
Hal itu dinyatakan cendekiawan asal Universitas Gadjah Mada (UGM) itu pada 
pidato inaugurasinya untuk menjadi anggota Komisi Ilmu Sosial AIPI (Akademi 
Ilmu Pengetahuan Indonesia) di Jakarta, Rabu.
    
"Wajar bila muncul pendapat bahwa sistem politik yang memfasilitasi sistem 
pilkada (pemilu kepala daerah) dan desentralisasi atau otonomi daerah 
membahayakan integrasi nasional," katanya.

Secara alami, ujar dia, Indonesia adalah masyarakat  plural dan heterogen yang 
menyulitkan tercapainya konsensus dan kekuasaan yang terlegitimasi. Ia 
mencontohkan usaha pembentukan provinsi Tapanuli di Sumatra Utara yang 
melibatkan etnik dan agama kepentingan sejumlah elit  daerah tersebut hampir 
saja memicu kerusuhan.
    
Menurut dia, pemekaran wilayah kenyataannya tidak sekedar demi alasan efisiensi 
administrasi pemerintahan yang dinilai terlalu luas, tetapi sering kali juga 
mengandung kepentingan primordial elit setempat termasuk untuk mendapat 
kesempatan menjadi pejabat yang berkuasa di daerah baru.

Pergolakan memperebutkan kursi kepala daerah, ujarnya, juga menghambat 
pembangunan yang lebih bisa dilaksanakan dalam kondisi tenang dan kondusif. 
"Otonomi daerah yang seharusnya bisa memacu peningkatan kapasitas rakyat 
memajukan daerahnya masing-masing justru memicu kesenjangan antar daerah," 
katanya.
    
Kesenjangan antara daerah kaya dan miskin  semakin menjadi-jadi ketika 
dilaksanakan otonomi daerah, karena sistem administrasi  anggaran menghapus 
inpres-inpres subsidi daerah.

Misalnya Kabupaten Bengkalis  di Riau yang memiliki APBD sampai Rp2 triliun 
lebih, sementara sejumlah kabupaten lain hanya memiliki pendapatan puluhan 
miliar per tahun, ujarnya.

Menurut dia, kebijakan sentralistik dan penyeragaman cukup efektif secara 
politik  karena terbukti membawa stabilitas politik dan ekonomi dalam jangka 
waktu relatif lama, meskipun muncul rasa ketidakadilan dari sejumlah daerah 
yang memiliki sumber daya alam berlimpah.

Sent from Indosat BlackBerry powered by  

TOF
Artikel Terkait: 
  a.. Otonomi Daerah Bikin Pengiriman Ternak Antarpulau Sulit Dipantau 
  b.. Implementasi Otonomi Daerah Harus Jadi Perhatian 
  c.. Mantan Pamong Berharap Gamawan Benahi Otda 












[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke