Ponpes Manba’ul Falah Pekalongan




*Pesantren Spesialis Ilmu Nahwu*


Di kawasan pesisir Pantai Utara Jawa (Pantura) Perkembangan Agama Islam
telah dimulai sejak mendaratnya para Gujarat di kawasan pesisir di samping
untuk berdagang juga sekaligus menyebarkan agama Islam. Hal ini ditandai
dengan munculnya sembilan wali atau Walisongo sebagai juru penyebar agama
Islam yang kebanyakan di daerah pesisir Pantai Utara Jawa seperti Surabaya,
Gresik, Lamongan, Tuban, Kudus, Demak dan Cirebon. Maka tak mengherankan,
jika perkembangan Islam di daerah pesisir lebih menonjol dibanding di
kawasan pedalaman pulau Jawa.



Salah satu kawasan pesisir pantura yang mengalami perkembangan pesat agama
Islamnya ialah Pekalongan. Julukan Pekalongan sebagai Kota Santri ternyata
tidak hanya di slogan saja, akan tetapi betul betul diwujudkan dalam
amaliyah sehari-hari di masyarakat. Hal ini dapat dibuktikan dengan
banyaknya pondok pesantren di tengah-tengah masyarakat industri batik yang
telah masyhur hingga manca negara ini.


Salah satu pesantren yang kini sedang berkembang seiring dengan laju
perkembangan zaman ialah Pondok Pesantren Putra Putri Manba’ul Falah yang
beralamat di Sampangan V/27 Pekalongan. Di pesantren ini para santri yang
lebih didominasi dari luar jawa diajarkan berbagai disiplin ilmu mulai dari
dasar hingga yang paling tinggi. Sehingga para santri memperoleh bekal yang
cukup dalam ilmu agama yang nantinya dapat diamalkan setelah terjun di
tengah-tengah masyarakat.


Menurut KH. Hasanuddin Subki Masyhadi Pengasuh PP. Manba’ul Falah,
berdirinya pesantren ini karena atas dorongan dan amanat dari gurunya ketika
dirinya belajar di pondok pesantren, yakni KH. Ahmad Romli Jepara dan KH.
Ahmad Dimyati Rois ketika dirinya nyantri di PP. Kaliwungu Kendal. Dorongan
yang begitu kuat, meski dirinya merasa belum cukup ilmunya. Akan tetapi,
karena ini merupakan pesan dan amanat dari gurunya baik ketika nyantri di
Kaliwungu Kendal maupun di Kajen Margoyoso Pati, maka dengan diniati khidmah
kepada gurunya serta dorongan dari abahnya, Ustadz Hasanuddin dibantu
ayahandanya yang telah lebih dahulu mendirikan pesantren, memulainya dengan
mengaji kitab Al Muwatto’.


*Semula hanya ada dua santri*


Ketika Ustadz Hasanuddin memulai kegiatan pesantren pada tahun 1986 dengan
mengaji kitab Al Muwatto’ tidak banyak yang mengikutinya, bahkan hanya
diikuti oleh dua orang santri, itupun pindahan dari pesantren lain.
Pasalnya, di samping belum adanya asrama untuk santri, juga belum banyak
yang tahu kalau ditempat ini ada kegiatan rutin pengajian kitab kuning. Akan
tetapi seiring dengan perkembangan waktu dan tersebarnya informasi dari
mulut ke mulut, semakin lama kegiatan pengajian kitab kuning semakin banyak
diikuti santri yang datang dari berbagai tempat. Dan hingga kini asrama
Pondok Pesantren yang berdiri kokoh di tengah pemukiman penduduk yang sangat
padat, telah diisi sekitar seratus santri putra-putri yang didominasi santri
asal luar jawa, seperti Lampung, Jambi, Sumatera Barat, dan Kalimantan.


Lazimnya, sebuah pesantren bangunannya berdiri di lahan yang cukup luas
dengan beberapa blok bangunan yang terdiri dari rumah kiai, asrama santri,
masjid hingga tempat belajar dan halaman yang cukup luas. Hal ini tidak
berlaku bagi pesantren Manba’ul Falah yang lokasi pesantrennya berada di
tengah-tengah kota dan dikelilingi home industri batik Pekalongan, Ustadz
Hasanuddin yang masih cukup muda usianya tetap memberlakukan pola
pengajarannya dengan sistem salaf, yakni tetap mengajarkan kitab kitab
kuning yang menjadi rujukan utama para ulama ahlus sunnah wal jama’ah untuk
mengambil rujukan dalam mengambil keputusan dengan memanfaatkan waktu utama
setelah habis sholat Subuh, Dzuhur, Asar, Maghrib dan Isya’. Akan tetapi
jika ada santri yang ingin belajar ilmu umum, dipersilakan untuk belajar dan
menuntut ilmu di luar seperti SMU, MAN atau perguruan tinggi dengan tetap
mengikuti aturan pondok.


*Spesialis ilmu nahwu*



Pondok Pesantren yang semula bernama Wali Sampang ini, sejak berdirinya
memang mengkhususkan diri mengkaji dalam bidang ilmu alat dan fiqih dengan
jenjang kajian kitab dari jurumiyah, amriti, alfiah ibnu aqil. Di samping
ilmu-ilmu dasar agama lainnya, yakni ilmu fiqih. Sehingga diharapkan alumni
santri Manba’ul Falah kelak dapat mengamalkan ilmu di tengah-tengah
masyarakat.


Dirinya merasa tidak khawatir, meski lokasi pesantrennya berada di
tengah-tengah kota, santrinya akan terjerumus ke pola hidup yang tidak
sesuai dengan nafas dan ruh pesantren. Apalagi para santri memiliki
kesibukan yang luar biasa, yaitu di samping kegiatan utama berupa mengaji
kitab kitab klasik, juga memiliki jadwal belajar khitobah dan tilawatil
qur’an, sehingga nyaris dalam keseharian waktunya habis untuk belajar dan
belajar.


Untuk membantu mengajar para santri, Ustadz Hasanuddin saat ini harus
dibantu oleh enam ustadz/ustadzah. Hal ini perlu dilakukan, mengingat
dirinya saat ini juga mempunyai jadwal pengajian di luar yang cukup padat.
Hampir dalam seminggunya, Ustadz yang beristrikan Nur Hanifah asal
Surobayan, Wonopringgo Kabupaten Pekalongan ini harus menghadiri 23 majlis
ta’lim yang tersebar di Kota Pekalongan dan sekitarnya.


Walhasil, kesungguhan dan ketekunan Ustadz Hasanuddin mengelola pesantren di
tengah kota kini telah menuai hasil. Makin lama jumlah santri bertambah
banyak, di samping dalam rangka menjalankan amanah dari gurunya, juga
dirinya ingin membuktikan bahwa di tengah-tengah kota dari kepungan industri
batik dan modernisasi zaman, pesantren tetap masih bisa dan bahkan dapat
berkembang kegiatan pendidikan ala pesantren salaf. Meski tantangan dan
hambatan ke depan semakin berat, seperti bangunan fisik yang tidak lagi
mampu menampung untuk kegiatan santri dan lokasi berada di tengah pemukiman
padat penduduk, Ustadz dengan 4 putra tetap yakin dan optimis pesantren yang
dikelolanya akan mendapat tempat khusus bagi masyarakat yang akan haus akan
ilmu ilmu agama, terutama bagi orang tua yang ingin putra putrinya agar
tidak terseret dalam  kehidupan arus modernisasi yang semakin menyesatkan.



Disarikan dari DAURAH - Kantata Research Indonesia


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [email protected]
5. No-email/web only: [email protected]
6. kembali menerima email: [email protected]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke