Refleksi : Tiap rakyat di seluruh pelosok NKRI rakyat demonstrasi. Teringat
banyangan boss Soeharto jatuh terpelanting dari kursi kekuasaan karena tiap
hari ada saja demonstrasi rakyat. Jadi jelas, teritimewa orang yang ragu-ragu
pasti panik gemetar, tak enak makan makanan dan tidurnya pun tak nyenyak.
Kalau petinggi bersifat ragu-raku mudah menjadi panik dan naik pitam lalu main
hantam kromo dendam seperti kuda kepang gila bisa membawa malapetaka bagi
masyarakat. Jadi sedia payung sebelum hujan.
http://www.sinarharapan.co.id/cetak/berita/read/presiden-terkesan-panik/
Sabtu, 05 Desember 2009 12:23
Presiden Terkesan Panik
OLEH: TUTUT HERLINA/ NOVAN DWI PUTRANTO
Jakarta - Pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menuding rencana
aksi peringatan Hari Antikorupsi pada 9 Desember mendatang bermotif politik,
dinilai sebagai sebuah bentuk kepanikan.
Sebagai kepala pemerintahan, Presiden seharusnya bisa langsung memerintahkan
Kepolisian dan Badan Intelijen Negara (BIN) untuk melakukan antisipasi.
Sosiolog dari Universitas Indonesia (UI) Thamrin Amal Tomagola mengatakan,
kepanikan itu muncul karena tradisi pencitraan yang selama ini ia pertahankan.
Karena tradisi itu, ia selalu ingin tampil sempurna, padahal hal itu tidak
mungkin dilakukan secara terus-menerus. Presiden tidak perlu melontarkan
pernyataan seperti itu, jika tidak melanggar hukum. Apalagi, rekam jejaknya
selama ini, ia cenderung tidak menghalang-halangi aksi massa.
"Saya kira dia melakukan itu untuk pencitraan sehingga terkesan paranoid. Itu
refleksi pembangunan pencitraan yang sempurna di depan publik," katanya.
Namun, Thamrin mengakui aksi massa yang berlangsung selama ini ada yang
bersifat murni dan juga yang ditumpangi "penumpang gelap". Penumpang gelap itu
kemungkinan besar dari lawan-lawan politik Yudhoyono dan juga militer yang
sakit hati dengan kebijakan-kebijakannya. Bahkan, dalam praktik memang banyak
politisi yang menggunakan kemarahan rakyat akibat kebijakan Yudhoyono menjadi
barang dagangan politik.
Ia mencontohkan, mantan Ketua MPR Amien Rais. Tokoh yang disebut-sebut sebagai
bapak reformasi itu menggunakan kesalahan kebijakan Yudhoyono dalam kasus PT
Freeport untuk tawaran politik. "Penumpang gelap harus diakui secara jujur ada.
Oleh karena itu, penyelenggara aksi 9 Desember 2009 mendatang harus menjaga
supaya tetap berada dalam koridor dan tidak ditumpangi penumpang gelap,"
paparnya.
Harusnya Tenang
Aktivis demokrasi Ray Rangkuti menambahkan, pernyataan Yudhoyono itu
menunjukkan kepanikan, krotradiksi, dan teror. Aksi massa tersebut tidak
memiliki bobot politik, tetapi sebaliknya murni gerakan strukturalis.
Pernyataan itu kontradiktif karena polisi hingga kini belum memberikan status
siaga satu dan BIN menjamin tidak ada kerusuhan.
"Teror sudah pasti terhadap masyarakat. Saat yang sama mau menunjukkan bahwa
orang-orang yang beraksi sedang mendesain kejahatan politik," katanya.
Hal senada disampaikan pula oleh pengamat politik dari Universitas Pelita
Harapan (UPH) Tjipta Lesmana. Pernyataan Yudhoyono itu mencerminkan ketakutan
yang berlebihan dan sikap defensif yang patut dicurigai. Bahkan, Presiden
dinilai terlalu sembrono dalam mengelola sumber informasi tersebut, dan hanya
akan menambah kecurigaan masyarakat terhadap dugaan keterlibatan Presiden dalam
skandal Bank Century. "Pernyataan itu ibarat menampar muka sendiri (backfire).
Presiden makin panik, ketakutan, dan defensif dengan gerakan aktivis
antikorupsi. Ini hanya akan membuat kecurigaan masyarakat makin menggunung,"
katanya saat dihubungi di Jakarta, Sabtu (5/12).
Tjipta menduga pernyataan Presiden tersebut sangat berkaitan dengan kasus Bank
Century. Pasalnya, aktivis yang akan bergerak pada 9 Desember nanti mayoritas
merupakan aktivis yang sangat vokal dan kritis terhadap sikap pemerintah dalam
menangani kasus Bank Century. Dalam konteks ini, Presiden seharusnya tenang
menyikapi rencana pengerahan massa yang digalang aktivis antikorupsi.
Sikap yang demikian itu, menurut Tjipta, sangat penting untuk meyakinkan publik
bahwa Presiden, Partai Demokrat, dan keluarga Presiden sepenuhnya terbebas dari
skandal Bank Century. Bahkan, akan lebih meyakinkan jika Presiden segera
melakukan kerja-kerja konkret untuk mendukung pembongkaran kasus Bank Century,
yaitu dengan sesegera mungkin mengeluarkan perppu untuk membuka aliran dana
talangan Bank Century. "Ketakutan hanya mengindikasikan sesuatu yang
mencurigakan di mata publik. Kalau memang bersih, sebaiknya Presiden tenang,
tidak takut, dan tidak mengikuti rumor (sumber intelijen) yang tidak jelas
kebenarannya," kata Tjipta.
Penyakit Global
Sementara itu, Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia AA Yewangoe
mengatakan, Presiden Yudhoyono tidak perlu khawatir aksi peringatan Hari
Antikorupsi pada 9 Desember 2009 mendatang akan ditunggangi kepentingan lain.
"Provokasi dan lainnya itu bukan bahasa pemimpin agama, kita tidak mau ke
sana," ujar AA Yewangoe kepada SH, di Jakarta, Jumat (4/12).
Dia menegaskan pemimpin agama tidak mungkin mengarahkan aksi peringatan
antikorupsi untuk kepentingan politik kekuasaan. Perhatian para pemuka agama,
dijelaskan AA Yewangoe, hanya agar kasus Bank Century dijelaskan secara
transparan. Hari Antikorupsi juga bakal digunakan sebagai momentum melawan
korupsi.
"Sejauh yang saya tahu, ini aksi antikorupsi, sebab korupsi merupakan penyakit
global dan masuk kategori kejahatan luar biasa," katanya.
Menurut AA Yewangoe, acara ini diprakarsai cendekiwan Din Sayamsudin, dan
mengundang para tokoh lintas agama. "Kita diundang, saya rasa itu baik-baik dan
sah-sah saja," katanya. Seperti diketahui, menurut informasi pada 9 Desember
2009 nanti, sejumlah organisasi massa, aktivis HAM, dan LSM berencana
memperingati Hari Antikorupsi di berbagai daerah. Khusus Jakarta, peringatan
ini akan dipusatkan di kawasan Bunderan Hotel Indonesia.
Diwaspadai
Sebelumnya, Menkopolhukam Djoko Suyanto, kemarin, menyakini gerakan pada
peringatan Hari Antikorupsi Dunia yang jatuh pada 9 Desember mendatang
berlangsung aman. Namun, pernyataan Presiden tentang adanya gerakan bermotif
politik harus diwaspadai.
Menurut Djoko, pernyataan Presiden untuk mengingatkan bahwa gerakan yang
melibatkan massa dalam jumlah banyak harus terkelola baik. "Bukan kekhawatiran,
tapi membangkitkan kewaspadaan bersama-sama," katanya.
Djoko mengatakan pemerintah tetap mempersilakan masyarakat untuk berpartisipasi
dalam peringatan Hari Antikorupsi Dunia pada 9 Desember 2009 karena kegiatan
itu sejalan dengan program pemerintah.
Hal senada disampaikan Kepala BIN Sutanto.
"Kita harapkan tidak terjadi seperti itu, yang rugi kan kita sendiri," katanya.
Namun, Sutanto tidak bersedia menjelaskan informasi yang telah diterima
Presiden Yudhoyono menjelang peringatan tersebut.
Dalam sambutannya membuka rapat paripurna, Presiden mengaku mendapatkan
informasi bahwa dalam peringatan Hari Antikorupsi Sedunia akan ada pengerahan
massa dengan motif politik. Presiden menuturkan, pada 9 Desember 2009 nanti
akan muncul tokoh-tokoh yang selama ini tidak terlibat sama
sekali dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.
"Mungkin saja nanti pada 9 Desember mungkin akan tampil tokoh-tokoh yang selama
lima tahun lalu tidak pernah saya lihat kegigihannya di dalam memberantas
korupsi. Ya, selamat datang kalau memang ingin betul memberantas korupsi di
negeri ini bersama-sama, dengan demikian akan membawa manfaat bagi rakyat
kita," katanya.
Selain itu, Presiden juga menyiratkan adanya motivasi politik dalam kasus Bank
Century. Motivasi tersebut tidak terkait sama sekali dengan rasa ingin tahu
masyarakat. "Saya katakan seperti itu supaya Saudara tidak surprise nanti.
Tetapi, pesan saya, apa pun yang akan terjadi di Jakarta, utamanya, jangan
ganggu sama sekali konsentrasi dan kegigihan kita dalam melaksanakan tugas
pokok kita menjalankan tugas-tugas kita bersama menyukseskan pembangunan dan
upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat kita," tuturnya. (vidi vici)
Kembali ke : Cetak
[Non-text portions of this message have been removed]