http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/12/06/02544275/menghindari.kecelakaan.finansial

Menghindari Kecelakaan Finansial

Minggu, 6 Desember 2009 | 02:54 WIB

Elvyn G Masassya Praktisi Keuangan

Kecelakaan bisa terkait dengan aktivitas keuangan. Kecelakaan keuangan yang 
paling banyak dialami orang adalah ketika penghasilan dirasa tidak pernah cukup 
untuk membiayai pengeluaran. Selalu merasa kurang kendati jika mau mengurangi 
konsumsi, penghasilan yang diperoleh masih mampu untuk membiayai hidup.

Tragisnya, ketidakmampuan mengekang diri mengakibatkan konsumsi jalan terus 
dengan pembiayaan dilakukan dengan kartu kredit. Alhasil, pengeluaran menjadi 
lebih besar ketimbang penghasilan. Inilah awal dari kecelakaan finansial yang 
akan berlanjut dengan kecelakaan-kecelakaan lain.

Contoh konkret, penggunaan kartu kredit akan semakin meningkat, sementara 
penghasilan relatif tetap. Yang terjadi kemudian bukan lagi aksi gali lubang 
tutup lubang, melainkan terperangkap di lubang utang yang semakin dalam. 
Kehidupan pun menjadi tidak tenang. Orang selalu dikejar-kejar debt collector 
atau stres berkepanjangan karena masih banyak keinginan yang belum terpenuhi. 
Bukan tidak mungkin, karena permasalahan semakin kompleks, pekerjaan pun bisa 
hilang.

Itu baru kecelakaan finansial yang diakibatkan ketidakmampuan ”menginjak rem” 
konsumsi. Ada lagi kecelakaan finansial lain yang juga menerpa jutaan orang, 
yaitu ketidakmampuan menyediakan dana untuk membiayai sekolah anak. Dana untuk 
sekolah anak yang tidak disiapkan bisa mengakibatkan sang anak tidak sekolah.

Kalaupun bersekolah, akhirnya anak hanya bisa di sekolah yang kurang 
berkualitas. Atau sebenarnya, dana untuk anak sekolah sudah tersedia, tetapi 
karena dipengaruhi lingkungan sekitar, anak dipaksakan masuk ke sekolah yang 
super mahal. Demi menjaga gengsi, orangtua terpaksa berutang untuk membiayai 
sekolah anak.

Kecelakaan finansial bukan hanya dialami orang-orang berusia produktif. Tidak 
sedikit kecelakaan yang menerpa kalangan yang mestinya sudah dalam usia mapan. 
Seorang karyawan yang sudah terbiasa diberi fasilitas oleh perusahaan, seperti 
kendaraan dan rumah dinas, kerap kali lupa membeli rumah sendiri. Ketika usia 
pensiun tiba, dia akan mengalami masalah besar karena tidak memiliki rumah 
ataupun kendaraan. Sebab, sepanjang karier, dia sudah terbiasa menggunakan 
fasilitas perusahaan. Masa pensiun yang seharusnya dinikmati justru memaksanya 
tetap bekerja guna memperoleh uang untuk membeli rumah dan kendaraan.

Jurus-jurus

Apa yang mesti dilakukan agar kecelakaan finansial tidak menghampiri diri Anda?

Pertama, jangan pernah berutang kalau tujuannya hanya untuk membiayai nafsu 
konsumtif. Utang hanya layak dilakukan untuk kegiatan produktif yang bisa 
memberikan penghasilan. Utang untuk hal konsumtif, seperti kredit rumah dan 
kredit kendaraan, dapat dipertimbangkan jika angsuran masih terpenuhi dari 
penghasilan bulanan. Penggunaan kartu kredit sekalipun bukanlah untuk berutang, 
melainkan hanya untuk kemudahan transaksi pembayaran. Jadi, bukan karena tidak 
memiliki uang, tetapi lebih karena faktor kepraktisan belaka.

Kedua, melakukan investasi dan proteksi secara bersamaan. Banyak kalangan 
beranggapan bahwa kalau sudah berinvestasi, persoalan selesai. Pada 
kenyataannya tidaklah seperti itu. Dalam berinvestasi pun, banyak kemungkinan 
terjadi kecelakaan finansial.

Itulah sebab ada istilah ”jangan menempatkan investasi dalam satu keranjang”. 
Prinsipnya sederhana, kalau seluruh investasi Anda dalam bentuk saham, 
misalnya, ketika pasar saham anjlok, bukan tidak mungkin seluruh investasi Anda 
akan menguap. Oleh karena itu, investasi mesti diproteksi. Bagaimana caranya? 
Sebarkan investasi pada berbagai jenis, mulai dari yang berisiko rendah, 
sedang, dan tinggi. Dengan cara ini, sebenarnya investasi Anda sudah 
terproteksi. Konkretnya, kalau investasi Anda yang berisiko tinggi mengalami 
masalah, Anda masih memiliki ”cadangan” investasi di jenis yang berisiko rendah.

Itu adalah proteksi dalam konteks investasi. Di luar itu, proteksi untuk 
mencegah dampak negatif dari kecelakaan finansial bisa juga dilakukan dengan 
membeli produk asuransi. Sebagaimana contoh di atas, orang kerap kali mengalami 
masalah dalam memenuhi biaya anak. Nah, salah satu cara mudah menghindari 
kecelakaan finansial yang terkait dengan biaya sekolah anak adalah dengan 
membeli polis asuransi pendidikan. Selain itu, berbagai produk asuransi 
lainnya, termasuk asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan kerja, dan asuransi 
kematian, merupakan ”jurus” mengatasi risiko kecelakaan finansial.

Sebenarnya cukup banyak cara menghindari terjadinya kecelakaan finansial. 
Seperti kalau mengendarai kendaraan bermotor, sebelum dikendarai, tentu 
sebaiknya dilakukan pengecekan apakah segala sesuatu masih berfungsi dengan 
baik . Begitu juga dengan kegiatan finansial. Sebelum melakukan berbagai 
tindakan, tentunya mesti dipikirkan risiko dan kemungkinan terjadinya 
kecelakaan finansial.


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke